Pernikahan Impian Fitta
Pritha Khalida
Ini sudah H-7 menjelang pernikahan Fitta. Semua persiapan setidaknya sudah menginjak pada tahap 80% ready, termasuk kebaya – yang setelah terakhir fitting – ternyata perlu dikecilkan beberapa senti dikarenakan menyusutnya bobot calon mempelai wanita.
“Fit, kamu kok masih ngantor aja, sih? Cuti, dong!” ujar Karin saat lewat di depan kubikel Fitta.
“Aah, jatah cutiku tinggal seminggu, ditambah izin kawin tiga hari. Kalau ngambil cutinya dari hari ini, ntar gak ada sisa buat honeymoon.” Tukas Fitta sambil terus menekuni layar monitor di hadapannya.
“Ciee, memangnya mau honeymoon kemana, Non?” Karin mengedipkan sebelah matanya, yang disambut dengan kerjapan centil Fitta,
“Ada deeh!”
“Eh Fit, bukannya pamali ya kalau calon pengantin enggak dipingit dulu?” kini ucapan Karin terdengar agak serius. Fitta hanya mengedikkan bahunya.
*
Acara infotainment rupanya begitu menarik minat Astari. Perempuan berusia setengah abad itu – entah kenapa – tak pernah bosan menontonnya seharian, meski berita artis yang disiarkan hampir selalu sama dari pagi sampai petang. Astari bahkan menyembunyikan remote setiap hendak menonton acara kesayangannya itu, agar tak seorang pun bisa memindahkan saluran televisi, yang berisiko mengganggu keasyikannya. Dimas – cucunya yang masih balita – merengut sambil memegang mobil-mobilannya.
“Nanti Dim, kalau sudah iklan, baru boleh dipindahkan…”
“Asyiik, iklaan! Sini remote-nya Oma!” omongan Astari terpotong oleh jeritan sukacita Dimas, yang tanpa menunggu lebih lama segera saja memindahkan ke saluran favoritnya.
“Yaah, beritaa…” keluhnya kecewa saat mendapati ternyata tidak ada film kartun kesukaannya. Astari tersenyum. Sambil lalu, ia menonton ‘Berita Sekilas’ tersebut. Namun ternyata,
“Ya Tuhan, itu kan… Dim, sini remote-nya!”
Dimas menyerahkan remote sambil masih menunjukkan raut wajah kesal. Astari segera membesarkan volume tivi.
“Papiiiii!!! Green Valley kebakaraaaaaan!” pekiknya.
*
Restoran bernuansa tradisional yang sebagian besar bangunannya terbuat dari bambu beratap sirap itu kini sudah nyaris rata dengan tanah. Fitta menatap nanar gundukan abu di hadapannya. Air matanya sudah mulai bisa dibendung. Fadly mengusap bahunya dengan lembut.
“Kita cari tempat baru.” Ucapnya.
“Mana ada restoran bagus di Jakarta ini yang bisa di-booking seminggu sebelum acara?” ucap Fitta dengan suara parau.
“Aku akan usahakan.”
“Bagaimana dengan para tamu? Bukankah di undangan sudah tertulis…”
“Psst… kalau perlu aku hubungi mereka semua. Kamu masih simpan guest list-nya, kan?” Fadly memotong jawaban Fitta yang mulai terdengar meradang. Fitta hanya bisa mengangguk pasrah.
*
“Aduh Tante, gimana sih? Kok bisa kebayanya jadi sempit begini? Ini sudah empat hari lagi!” protes Fitta pada tante Iceu - desainer yang mengerjakan kebayanya.
“Lho, waktu mau dikecilkan segini, kok. Dan kamu bilang pas.”
Fitta sebetulnya masih hendak mengomel ini itu, kalau saja perempuan di hadapannya bukan lah sahabat ibunya sejak SMA dulu.
“Hmm, mungkin kamu memang tambah gemuk, Fit?”
Tambah gemuk? Fitta menghela nafas. Ia teringat beberapa bar toblerone dan tumpukan toples kue keju yang tersebar di kamar dan laci meja kerjanya. Ya, Fitta membutuhkan pelampiasan emosi untuk mengendurkan saraf-saraf ketegangan yang timbul pasca terbakarnya Green Valley - tempat dimana resepsi pernikahannya dengan Fadly sedianya akan digelar.
Dengan lemas Fitta pun pulang setelah dengan sangat terpaksa menyetujui permintaan tante Iceu untuk mengambil kebayanya tiga hari lagi. Ingin rasanya Fitta menjerit. Bagaimana jika terjadi apa-apa? Masa kebaya pengantin baru bisa dicoba sehari sebelum acara?
*
Rendaman air melati tidak juga berhasil membuat tubuh Fitta rileks. Padahal ia sudah membayar cukup mahal atas paket perawatan pengantin yang ditawarkan oleh salon kecantikan ini. Dalam bak berwarna gading itu pikirannya masih menerawang kesana-kemari, membayangkan pernikahannya kelak, yang pastinya akan terwujud jauh dari yang diimpikannya selama ini.
*
“Ini gantinya Green Valley?” Fitta terperangah melihat sebuah restoran kecil di hadapannya. Fadly mengangguk.
“Ini yang terbaik yang bisa aku dapatkan, Fit. Maaf ya kalau agak kurang sesuai dengan impianmu. Tapi yang terbaik sudah full booked. Rupanya banyak yang mengambil momen pernikahan selepas Idul Adha, seperti kita.” Jawab Fadly.
Bukan ‘agak-kurang-sesuai’, tapi ‘enggak-banget’! Kalau saja Fitta tidak tahu bagaimana perjuangan Fadly mendapatkan restoran ini, itu lah kalimat yang ingin ia ungkapkan. Tapi Fitta tahu dari Meutia – adik Fadly, bahwa mereka berdua, hampir setiap sore sepulang kantor, sibuk mencari alternatif restoran pengganti. Jadi, ya apa boleh buat?
“Terima kasih ya…” akhirnya hanya itu yang sanggup keluar dari mulut kecil Fitta.
*
Kebaya pengantin sudah diambil tadi sore. Jahitannya agak kurang rapi. Mungkin pengaruh perombakan beberapa hari yang lalu. Fitta menggantungnya pada gantungan melingkar yang terletak di samping meja riasnya. Ia sendiri lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang.
Tak terasa buliran bening luruh satu demi satu dari mata bulatnya. Fitta kecewa. Fitta sedih. Kenapa semua ini harus terjadi pada pernikahannya? Menikah di restoran biasa saja, kebaya pengantin yang kurang bagus. Oke ralat, mending kalau cuma kebayanya saja. Fitta teringat saat fitting di tempat tante Iceu tadi. Salah seorang asistennya bilang, “Wah, calon pengantinnya montok, ya?”
Montok itu sama artinya dengan gendut, kan?? Fitta menyesali impulsivitasnya menghabiskan segala rupa makanan karena stress selama seminggu ini.
Terdengar ketukan di pintu kamar, membuyarkan lamunan Fitta.
“Neng, kata ibu makan dulu.” Suara Esih – pembantunya terdengar samara-samar.
“Nanti aja, belum lapar!” Fitta menjawab sekenanya. Sejujurnya, Fitta malah tidak lapar sama sekali. Ia membayangkan seekor gajah yang akan masuk ke dalam kebaya putih itu besok. Lalu gajah itu duduk di samping Fadly yang gagah dengan setelan jas hitamnya. Semua orang akan mencemooh, “Itu pengantin? Kirain mbok jamu!” Aaaarrrrghhh!!!
Oh Tuhan, bisakah pernikahanku dimundurkan barang satu atau dua bulan? Atau kumohon berikan sedikit sentuhan keajaiban agar semuanya berjalan sesuai yang kuimpikan. Hati Fitta menggumamkan kalimat itu berulang-kali.
*
Iring-iringan mobil pengantin meninggalkan mesjid menuju tempat resepsi. Fitta duduk bersebelahan dengan Fadly yang kini telah resmi menjadi suaminya.
“Lho, ini mau kemana?” Fitta keheranan saat sopir mengendarai mobil menuju arah Kuningan. “Bukannya resto yang kemarin itu di…”
“Sudah, tenang saja. Aku punya surprise buat kamu.” Fadly menggenggam tangan perempuan yang belum genap satu jam menjadi isterinya itu.
Beberapa menit kemudian, mobil memasuki sebuah apartemen mewah. Tampak rangkaian bunga bertuliskan nama ‘Fitta & Fadly’ di dalam sebuah lingkaran hati. Fitta berdecak kagum. Terima kasih atas keajaiban-Mu, yaa Tuhan! Fitta menatap Fadly lekat-lekat. Suaminya itu hendak memberikan sebuah kecupan di dahinya. Fitta mendekatkan diri pada Fadly dan memejamkan matanya perlahan…
“Fit, bangun! Itu tukang salonnya sudah datang!” Ada Mami di sampingnya, mengguncang-guncang tubuhnya. Fitta berharap Tuhan membuatnya pingsan saja!
*
Semua keluarga besar sudah berkumpul di dalam mesjid. Fitta duduk di samping Fadly – yang sesuai bayangannya – memang gagah di dalam balutan jas hitam. Sementara dirinya sendiri? Tak ubahnya seperti tong di dalam kebaya. Iiih menyebalkan! Seolah mengerti perasaannya, Fadly menatapnya dengan penuh kasih dan berbisik, “Everything’s gonna be allright, dear.”
Sebaris kalimat yang tidak begitu saja menepis berbagai kemelut di hati Fitta. Setidaknya satu kerisauan mengenai gambaran ‘Prince Charming and the Elephant’ yang akan dilihatnya pada berlembar-lembar foto pernikahannya kelak. Ugh, Fitta bertekad tak akan mencetak foto-foto pernikahannya dalam ukuran besar!
Tiba waktunya ijab qabul akan terucap. Fadly menatap wajah Papi, lalu dengan tegas mengucapkan,
“Saya terima nikahnya… Prambudi Utomo binti Arfitta Dyastari dengan mas kawin tersebut, tunai!”
Gelak tawa para kerabat membahana memenuhi ruangan mesjid. Rasanya semuanya sempurna untuk membuat Fitta betul-betul mau pingsan di hari pernikahannya.






























