<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>CeRiTa PriTh@</title>
	<atom:link href="http://prithakhalida.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://prithakhalida.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 07:30:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.4</generator>
		<item>
		<title>New Home&#8230; New Life</title>
		<link>http://prithakhalida.com/2012/01/25/new-home-new-life/</link>
		<comments>http://prithakhalida.com/2012/01/25/new-home-new-life/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 07:30:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pritha Khalida</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://prithakhalida.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Kanan-kiri bantal. Makanan rasanya enggak enak-hambar. Mau ngapa-ngapain juga enggak jelas. Mata masih panas. Kurang lebih begitu lah yang saya rasakan saat ini. Entah gara-gara apa, sejak tadi subuh saya mendadak ambruk. Badan rasanya menggigil, kepala pusing kaya diketok-ketok palu, jalan berasa melayang dan mual-mual pengin muntah. Mertua saya yang kebetulan lagi menginap di rumah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kanan-kiri bantal. Makanan rasanya enggak enak-hambar. Mau ngapa-ngapain juga enggak jelas. Mata masih panas. Kurang lebih begitu lah yang saya rasakan saat ini. Entah gara-gara apa, sejak tadi subuh saya mendadak ambruk. Badan rasanya menggigil, kepala pusing kaya diketok-ketok palu, jalan berasa melayang dan mual-mual pengin muntah. </p>
<p>Mertua saya yang kebetulan lagi menginap di rumah, langsung tanggap demi ngeliat menantunya kayak orang mabuk-kesambet setan. Badan saya dipijat. Sambil mijat beliau bilang, &#8220;Kamu ini masuk angin. Cuma diusap aja udah merah. Gimana kalau dikerok, bisa sampe biru-biru! Mana urat kenceng semua begini!&#8221; (Ini betulan dipijat, sodara-sodara. Sakit banget, saya sampe jerit-jerit. Tapi mertua saya keukeuh kalau segitu itu untuk beliau namanya diusap) :p</p>
<p>Oke lupakan urusan pertentangan pijat atau usap itu. Yang jelas hari ini saya memang sakit. That&#8217;s the point.</p>
<p>Setelah diusap, eh&#8230;dipijat&#8230; Saya sambil tiduran mencoba nginget-nginget, kenapa bisa sampai masuk angin berat begini ya? Dan segera saya menemukan jawabannya.</p>
<p>Mari kita lihat aktifitas sehari-hari saya:</p>
<p>Pagi: Bersih-bersih, nyiapin sarapan sekeluarga, nyuapin Gaza sambil lari-lari</p>
<p>Agak siang: beres-beres, nemenin Gaza main (kalau ujan mainnya di dalam rumah, kalau ngga ujan di taman bermain dekat rumah).</p>
<p>Siang banget: Nyuapin Gaza makan siang sambil lari-lari</p>
<p>Agak sore: Saat Gaza tidur saya beres-beres lagi (kalau udah pada beres biasanya saya nulis atau baca buku atau internetan sekedar browsing dan fesbukan)</p>
<p>Sore banget: Nyiapin makan malam dan nyuapin Gaza (masih sambil lari-lari atau jalan, yang jelas enggak duduk).</p>
<p>Malam: Setelah Gaza tidur (yang enggak jelas jam berapa), beres-beres seluruh isi rumah (kadang enggak sempat karena Gaza baru tidur jam 11).</p>
<p>See&#8230;<br />
Sebagian besar waktu saya dihabiskan untuk mengejar-ngejar Gaza. Pasalnya si pangeran kecil saya yang satu itu memang sangat aktif (bukan hiperaktif ya, catat). Dia hobi lari kesana kemari, loncat-loncat-loncat dan manjat-manjat. Baru berhenti kalau ada sesuatu yang menarik perhatiannya dan dirasa perlu untuk dia tanyakan. Misalnya aja kalau lagi lari-lari di halaman trus dia ngeliat bunglon, dia akan berenti dan nanya, &#8220;Bunda itu anak bunglon ya?&#8221; Kecil!&#8221; Atau saat lari-lari di taman bermain trus dia menemukan bahwa perosotannya basah, dia akan bilang &#8220;Bunda perosotan basah. Ujan ya? Boleh naik engga?&#8221; atau kalau lari-larinya di dalam rumah dia biasanya berhenti saat ngeliat semut dan bertanya, &#8220;Bunda, injek ya?&#8221; dan seterusnya.</p>
<p>Ini adalah catatan aktifitas saya sejak tinggal di rumah baru kami di kawasan Bojonggede-Kab Bogor hampir sebulan ini. Tadinya sebelum pindah dan masih menempati kontrakan di daerah Pasarminggu-Jaksel, aktifitas saya enggak sepadat ini. Sama sih lari-lari, tapi karena di sana rumahnya lebih kecil jadi lari-larinya juga enggak terlalu capek. Kalau pun di luar rumah, jangkauan Gaza pun saya batasi karena daerah tempat kami tinggal itu kan di jalan tikus-yang sering dilewati kendaraan untuk memotong jalan, jadi dia cuma boleh lari-lari dalam radius beberapa meter saja dari rumah, karena takut ketabrak kendaraan yang kalo lewat berasa lagi di jalan tol.</p>
<p>Dan di samping masalah lari-lari, waktu masih tinggal di rumah lama, saya enggak harus memasak sendiri setiap hari. Memasak merupakan kegiatan pilihan yang biasanya saya kerjakan karena pengin, bukan karena harus. Ya iyalah, di sana segala macem tukang masakan mateng mulai dari jengkol sampai tongseng ada komplit dan dekat! Sementara di sini, warung masakan matang yang paling dekat aja jaraknya sepuluh menit jalan kaki. Dan itu pun (maaf) enggak menggugah selera. Jadi ya masih mending masakan saya :p</p>
<p>Tapi ternyata, masak bukanlah sekedar meramu bumbu. Gaza yang biasanya punya banyak waktu bermain dengan saya, menuntut hal yang sama. Dia enggak rela kalau pagi-pagi atau siang-siang yang biasanya jadi quality time untuk kami berdua, saya habiskan di dapur. Dia pun merajuk, jerit-jerit dan bahkan kadang cari perhatian dengan membanting semua mainannya. </p>
<p>Sementara saya yang biasanya siap meladeni apa maunya dan mengejaknya bermain atau membacakan buku, berubah jadi galak sama dia. Ya gimana enggak galak, masakan kan engga bisa ditunda kaya tulisan. Kecuali kalau mau makan ayam gosong atau sayur garing. </p>
<p>&#8220;Nanti dulu Gaza, bunda kan lagi masak.&#8221;<br />
&#8220;Nanti dulu Gaza, cucian panci bunda masih banyak.&#8221;<br />
&#8220;Tunggu ya, Bunda lagi motong wortel nih.&#8221;<br />
&#8220;Sabar sayang, kalau engga direbus nanti ayamnya kabur lagi.&#8221;</p>
<p>dan sejuta nanti-tunggu-sabar saya persembahkan untuk Gaza. Sementara dia teriak-teriak.</p>
<p>&#8220;Mainannya dilempar nih, rusak!&#8221;<br />
&#8220;Kuenya buang kasih kucing ya!&#8221;<br />
&#8220;Coret-coret di tembok aja!&#8221;</p>
<p>dan ya, semua itu dia laksanakan&#8230;</p>
<p>HUffftttt!!!! Hampir pingsan rasanya kalau habis masak ngeliat ruang tengah dan kamar udah kaya kapal pecah. Padahal penginnya kan langsung makan atau istirahat. Ini sih boro-boro, kadang nyari tempat untuk duduk aja susah kalau enggak beres-beres dulu.</p>
<p>Saya kadang ngebatin.</p>
<p>Dulu enggak pernah begini-begini amat.</p>
<p>Dulu nyaris semuanya under control.</p>
<p>Dulu&#8230;dulu&#8230;dulu&#8230;</p>
<p>Jadi kalau gitu, ini semua gara-gara pindah rumah.</p>
<p>Tapi, husssh! Saya segera mengusir jauh-jauh pemikiran nggak tau diri itu. Ini kan rumah saya sendiri, bukan rumah kontrakan lagi. Rumah yang kami (saya dan suami) beli setelah susah payah menabung. Rumah yang kami idam-idamkan sejak lama. Rumah yang dulu pas ngontrak selalu kami cita-citakan, &#8220;Suatu saat nanti insya Allah kebeli&#8230;&#8221;</p>
<p>Bukan salah siapa-siapa kalau tempatnya enggak strategis di antara warung dan rumah makan seperti di kontrakan dulu. Bukan salah siapa-siapa juga kalau lingkungan sekitarnya nyaman untuk tempat bermain anak balita.</p>
<p>Bukan&#8230; Bukan salah siapa-siapa. (kesimpulan ini saya peroleh setelah introspeksi yang cukup lama dan sibuk mencari kambing hitam).</p>
<p>Dan akhirnya saya menyadari bahwa punya rumah sendiri bukanlah sekedar masalah mengumpulkan uang. Bukan juga sekedar capek packing. Bukan pula sekedar sibuk beradaptasi dengan tetangga. Tapi lebih dari itu dan mungkin inilah yang paling penting: beradaptasi dengan diri sendiri! Dalam artian, menyiapkan mental untuk banyak hal-hal baru. Menyiapkan emosi agar tidak naik-turun saat menghadapi segala sesuatu yang di luar perkiraan. </p>
<p>Well, suami saya yang tadinya hanya menempuh perjalanan sekitar 30-40 menit kalau mau ke kantor, sekarang bertambah jadi sekitar 1,5-2 jam. Perubahan yang sangat terlihat adalah badannya jadi kurusan :p Awal-awal sih dia ngeluh capek dan beberapa kali masuk angin karena menempuh perjalanan super panjang pakai motor (gak tau kenapa sampe sekarang dia belum tertarik naik kereta). Tapi kalau lagi santai dan ngeliat rumah, capeknya suka mendadak hilang berganti sama senyum-senyum sendiri.</p>
<p>Ya, sepertinya semua berubah dengan cepat. Dan kalau saya enggak memaksa diri untuk berubah-menyesuaikan keadaan, maka saya akan terlindas tanpa ada ruang untuk bernafas.</p>
<p>Maka di tengah-tengah bantal dan guling dan badan yang masih dingin menggigil, saya pun bertekad akan berubah. Ya minimal berubah menjadi pribadi yang lebih kuat. Sehingga bisa menjaga stabilitas emosi. Dan mendopping badan dengan makanan yang lebih seimbang gizinya supaya nggak gampang sakit meskipun aktifitas bertambah banyak. </p>
<p>Banyak ibu-ibu lain di luar sana yang bisa tetap sehat jiwa-raga dalam mengurus semua masalah rumah sambil tetap berkarir meski tanpa pembantu/babysitter), kenapa saya enggak?</p>
<p>Jadi saya harus bisa. Harus!</p>
<p>(catatan dari atas tempat tidur setelah sepanjang pagi menutup diri di balik selimut tebal)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prithakhalida.com/2012/01/25/new-home-new-life/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya Jualan Jilbab, Bukan Mau Jadi Model ;)</title>
		<link>http://prithakhalida.com/2011/08/08/saya-jualan-jilbab-bukan-mau-jadi-model/</link>
		<comments>http://prithakhalida.com/2011/08/08/saya-jualan-jilbab-bukan-mau-jadi-model/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Aug 2011 15:34:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pritha Khalida</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://prithakhalida.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Halo semuanya,,, gimana nih puasanya di hari yang ke-8 ini? Lancar kah? Syukur kalo lancar. Saya sih baru 3 hari ini puasa. Hari-hari sebelumnya, biasa deeeh cewek, hihihi! Lama saya enggak ngeblog lagi. Biasa deh mood nya lagi nyungsep ke kolong kasur. Baru sekarang ini muncul lagi. Eniwei, ada yang baru dari saya kali ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Halo semuanya,,, gimana nih puasanya di hari yang ke-8 ini? Lancar kah? Syukur kalo lancar. Saya sih baru 3 hari ini puasa. Hari-hari sebelumnya, biasa deeeh cewek, hihihi!</p>
<p>Lama saya enggak ngeblog lagi. Biasa deh mood nya lagi nyungsep ke kolong kasur. Baru sekarang ini muncul lagi.</p>
<p>Eniwei, ada yang baru dari saya kali ini. Kalau biasanya saya disibukkan (hanya) dengan mengurus anak, menulis dan urusan rumahtangga pada umumnya, kali ini saya menekuni aktifitas baru: bisnis jilbab! Iya bener, saya sekarang jualan jilbab. Sekali lagi nih, saya jualan. Serius! Hahaha, soalnya banyak yang enggak percaya. Sebel deh! Emang kenapa sih? Saya enggak ada tampang jadi businesswoman ya? </p>
<p>Jadi gini ceritanya, waktu sebelum puasa kan saya sama mama dan tante ke tempat kenalannya tante, seorang pengusaha jilbab. Nah di situ saya liat banyak koleksi jilbab yang cantik dengan harga relatif murah. Awalnya sih saya enggak kepikiran jualan. Tapi setelah cerita ke suami dan dia nyeletuk &#8220;reseller aja, Bun.&#8221;</p>
<p>Hah, are you sure? Suami saya mempercayai istrinya untuk berbisnis? Padahal dia tau kalo istrinya ini gak ada jiwa wirausaha sama sekali. Apalagi bakat, nol besar! Tapi, setelah saya pikir-pikir, kenapa enggak dicoba aja? Well, berangkat dari kepercayaan suami (plus kucuran modal) saya pun memulai usaha kecil-kecilan ini: reseller jilbab! Bismillah&#8230;</p>
<p>Langkah selanjutnya setelah blanja jilbab adalah: Foto!<br />
Saya memang berniat untuk jualan online (selain masarin ke tatangga dan sodara). Cuma berhubung saya enggak punya manequin untuk memasang jilbab-jilbab itu, jadilah saya yang jadi model dadakan. Fotografernya? Ya suami saya! Hahaha, paduan yang pas antara model amatir dan fotografer amatir, demi mewujudkan niat pebisnis amatir pula.</p>
<p>Dan voila! Usaha foto-foto selama satu jam itu pun membuahkan hasil. Ada juga foto-foto yang layak untuk di upload. Padahal itu setengah mati bikinnya. Saya baru tahu kalo jadi model itu enggak gampang. Sumpah mending nulis buku! Mana lagi puasa pula&#8230;</p>
<p>Nah setelah diupload, saya tag teman-teman. Beberapa jam kemudian saya buka facebook dengan harapan banyak yang komen untuk nanya harga jilbab itu. Tapi entah di mana letak kesalahan saya, teman-teman bukannya pada nanya harga malah pada komen soal saya yang jadi model! Haduuuhhh&#8230;. gimana sih? Saya kan mau jualan. Please percaya dooong&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prithakhalida.com/2011/08/08/saya-jualan-jilbab-bukan-mau-jadi-model/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Saya Sakit</title>
		<link>http://prithakhalida.com/2011/05/15/ketika-saya-sakit/</link>
		<comments>http://prithakhalida.com/2011/05/15/ketika-saya-sakit/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 15:55:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pritha Khalida</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://prithakhalida.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Huaaa, alhamdulillah hari ini saya udah sembuh! Terimakasih ya Allah! Ternyata sehat itu nikmaaaat sekali! Ya, kemarin dan kemarinnya lagi saya sakit. Sakit apa? Ummh, bilang gak ya?? Saya sakit diare Gak elit banget ya? Haha! Gak elit dan gak enak sama sekali. Sumpah! Dan yang paling bikin saya tersiksa (selain mesti bolak-balik wc) adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Huaaa, alhamdulillah hari ini saya udah sembuh! Terimakasih ya Allah! Ternyata sehat itu nikmaaaat sekali!</p>
<p>Ya, kemarin dan kemarinnya lagi saya sakit. Sakit apa? Ummh, bilang gak ya?? Saya sakit diare <img src='http://prithakhalida.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Gak elit banget ya? Haha! Gak elit dan gak enak sama sekali. Sumpah! Dan yang paling bikin saya tersiksa (selain mesti bolak-balik wc) adalah kenyataan bahwa saya mendadak kehilangan nafsu makan! Oh my God! Padahal biasanya saya itu orang yang doyan makan, meskipun lagi sakit. Suami saya aja sampai bingung ngeliatnya. Dia bingung ngeliat bakul nasi isinya kok gak berkurang? :p</p>
<p>Huh, gak usah lah kita perpanjang mengenai penyakitnya. Yang menurut saya &#8216;seru&#8217; justru segala kejadian selama saya sakit. Yup, betapa serunya ngeliat suami saya berubah peran jadi ibu rumah tangga. Ayah yang pada malam sabtu kebetulan dapat shift malam, paginya langsung ngabur sebelum penggantinya datang. Dan begitu ngeliat saya yang lagi tengkurep tanpa daya karena sakit perut yang luar biasa, ayah langsung aja nyuruh saya istirahat. Saya sempat bandel, karena ingat belum bikin sarapan Gaza. Tapi karena ayah maksa dan saya juga takut gak sembuh-sembuh, maka Gaza pun terpaksa sarapan biskuit susu. Setelahnya saya pun tepar sekitar 1 jam. Itu pun gak nyenyak. Yah, tau sendiri lah tidur dalam keadaan sakit perut akut!</p>
<p>Setelah 1 jam, shift istirahat pun gantian. Ayah yang udah kerja semalam (plus ngoprek laptop sepanjang siang), gantian tepar. Saya dengan tenaga yang sepotong-sepotong langsung bikin makan siang untuk Gaza. Di hari kedua sakit, napsu makan saya belum juga pulih. Makanya selain perut terasa panas, lambung saya juga perih banget. Bawaannya pengen muntah aja. Untungnya Gaza pengertian banget. Dia sama sekali gak rewel. Main pun gak minta ditemenin. Wih, alhamdulillah banget deh! Good boy, Gaza!</p>
<p>Lewat dzuhur, tenaga ayah udah mulai kumpul. Dan secara resmi dia pun mengambil alih tugas-tugas saya. Mulai dari nyebokin Gaza yang habis pup, nyuapin Gaza, nyuci piring, dll. Termasuk nyiapin makan siang sendiri. Love you, ayah!</p>
<p>Ada beberapa kejadian lucu saat ayah ngerjain semua itu. Misalnya aja nih, pas Gaza pup. Awalnya ayah bingung gimana nyebokinnya. Tapi dia maju aja, karena gak tega ngeliat istrinya udah pucat dengan mata cekung (baca: kondisi kritis). Dari kamar saya dengar ayah teriak &#8220;Ih, Gaza bau bangeeet!&#8221; Dan ketika selesai, saya tanya </p>
<p>&#8220;Yah, Gaza mencret gak?&#8221;<br />
&#8220;Gak.&#8221;<br />
&#8220;Bener?&#8221; tanya saya dengan gak yakin. Ya, manatau nular :p<br />
&#8220;Bener, tadi kan kepegang pas nyebokin!&#8221; jawab ayah dengan yakin.<br />
Huahahahahaha&#8230;.</p>
<p>Trus yang lucu lagi pas mau nyiapin makan sore untuk Gaza. Gaza ini kan kalo makan suka malas ngunyah, jadi meskipu umurnya udah 17 bulan, dia masih makan nasi lembek dengan blenderan lauk-pauk. Soalnya kalo gak diblender tuh lauk-pauk, bisa-bisa &#8216;output&#8217;nya bentuk yang sama. Nah pas saya minta tolong ayah untuk ngeblender, dia sempet ngotot untuk ngebejek-bejek aja tuh lauk-pauk. Pikir saya, ribet amat sih ni orang?? Saya pun ngasih penjelasan dengan detail berapa banyak yang harus diblender. Ayah masih keliatan bingung. Saya ikutin lah ke dapur. Dan ketemu lah penyebabnya: ayah bingung pakai blender kecil! Dia udah pasang duluan motornya. Dan hampir aja mangkok blendernya dia taro di atas motor yang udah terpasang. Blee, bisa tumpah kemana-mana laah&#8230; Ah ayah&#8230;ayah&#8230;</p>
<p>Selain dua hal itu sih alhamdulillah ayah enggak terlalu ribet ngerjain yang lainnya. Yup, suami saya memang handal dalam membantu urusan rumahtangga. Gak ada tuh kata gengsi di kamus ayah. Apalagi kalo dalam keadaan darurat saat istri lagi sakit/hamil. </p>
<p>Malam minggu saya udah nyerah dengan perut yang gak kunjung sembuh (padahal udah minum obat masuk angin 4 bungkus dan obat diare 3 tablet). Kami pun berniat ke dokter di Klinik 24 jam. Tapi batal karena ujan derassss. Hingga akhirnya saya pun tertidur.</p>
<p>Dan ajaib sodara-sodara&#8230;<br />
Besok paginya saya sembuh! Sembuh nyaris 100%!<br />
Gak ada lagi tuh sakit perut. Juga gak ada lagi pusing, mual dan nyeri lambung. Dan yang paling membahagiakan: napsu makan saya kembali normal! Yippie, alhamdulillah&#8230; Tambah senang lagi waktu ditengok sama papap. Yup, ayah saya jauh-jauh datang dari Sukabumi untuk nengok puteri sulungnya, dengan membawa sekantong makanan buatan mamam. Saya udah ge-er aja, kirain makanan untuk saya. Wanginya enaaaak bener! Gak taunya sup krim jagung-ayam untuk Gaza. Weeew&#8230; Ibu saya bener-bener ketakutan cucunya terlantar karena saya sakit :p</p>
<p>Tapi gak papa lah, yang penting sekarang saya udah sembuh. Terimakasih ya Allah! Terimakasih suster Ippen aka ayah tercinta atas perawatannya <img src='http://prithakhalida.com/wp-includes/images/smilies/icon_mad.gif' alt=':-x' class='wp-smiley' />  Bunda love you so much!</p>
<p>Satu yang jadi pertanyaan saya: dua bulan lalu kan Gaza kena diare juga, berat badannya cepat sekali menyusut. Kok hal yang sama enggak terjadi pada saya, ya???</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prithakhalida.com/2011/05/15/ketika-saya-sakit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I&#8217;m Coming Back!!</title>
		<link>http://prithakhalida.com/2011/05/12/im-coming-back/</link>
		<comments>http://prithakhalida.com/2011/05/12/im-coming-back/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 16:10:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pritha Khalida</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://prithakhalida.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Yes, it&#8217;s me&#8230; I bet you all miss me Hey buat kalian yang merindukan blog ini dalam versi lama yang isinya cerpen-cerpen atau tampungan curhat dalam &#8220;kotak curhat&#8221;, mohon maaf&#8230;saya sudah menghapusnya dan dengan ini saya nyatakan kedua rubrik tersebut sudah ditiadakan (halagh rubrik, kayak majalah aja :p). Soalnya, saya sekarang kan sibuk banget sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yes, it&#8217;s me&#8230; I bet you all miss me <img src='http://prithakhalida.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Hey buat kalian yang merindukan blog ini dalam versi lama yang isinya cerpen-cerpen atau tampungan curhat dalam &#8220;kotak curhat&#8221;, mohon maaf&#8230;saya sudah menghapusnya dan dengan ini saya nyatakan kedua rubrik tersebut sudah ditiadakan (halagh rubrik, kayak majalah aja :p). Soalnya, saya sekarang kan sibuk banget sama urusan rumah dan anak, jadi boro-boro sempat ngurus curhatan secara serius dan mendalam, bisa tidur siang setengah jam aja udah mahal banget!</p>
<p>Tapi saya masih nulis kok. Memang enggak seproduktif sebelumnya sih. Cuma sesekali aja. Buku terbaru saya pun masih &#8220;Buku Cinta&#8221; yang terbit hampir setahun lalu, hehehe&#8230;</p>
<p>Setelah lama saya hiatus dari blog dan sempat berniat untuk nutup blog ini (ide yang ditentang suami tercinta, karena dia yakin bahwa suatu saat saya akan membutuhkan blog ini), saya pun kembali ngeblog. Alasannya simpel, I need to write my mind! Ya, saya pengin menuliskan apa yang saya liat-dengar-rasakan dan berbagi sama banyak orang di mana pun itu. Biar enggak jerawatan untuk dipendam sendirian. Lagipula demi menghargai suami tercinta yang tiap tahun rela menyisihkan gajinya untuk ngebayarin blog ini, hihihi&#8230; (thank you ayah, I love you always!) Kan sayang kalo enggak dipergunakan dengan baik. Saya enggak mau kaya anggota dewan yang menyia-nyiakan amanah. Udah dikasih sekian milyar untuk pembiayaan website resmi, eh isinya malah &#8220;gitu-gitu aja&#8221; dan bahkan emailnya aja enggak tau.  Pleaseeee&#8230;.</p>
<p>Wow, udah jam 11 aja. Saya kayaknya harus berenti dulu. Karena jatah waktu postingnya cuma sampai jam ini. Huft, so little time so much to do! Well, c u in my next post, insya Allah.</p>
<p>Once again, welcome to my blog. Hope you enjoy <img src='http://prithakhalida.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prithakhalida.com/2011/05/12/im-coming-back/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

