“Cuma gara-gara panas, masa enggak jadi pergi, sih? Ayo lah, Lidya… Besok ulang tahun Irma. Beberapa minggu lagi dia mau pindah ke UK, enggak tau kapan balik lagi kesini.” Suara April terus merajuk di ponsel. Telingaku sampai panas dibuatnya.
“Kan kadonya bisa kapan-kapan, Pril. Atau kita kirim aja pakai kurir ke UK!” aku nyaris berpikir bahwa itu adalah ide yang baik. Tapi April langsung protes.
“Enggak seru, ah! Ulang tahunnya itu besok. Masa kadonya ditunda-tunda, sih? Lagian kalau lewat kurir bisa jadi enggak sampai. Apa kamu pengin Irma melupakan kita begitu meninggalkan Jakarta? Enggak, kan?”
“Hmm…”
“Jadi, ya? Yaaa??” tegas April. Dan aku pun tak mampu mengelak lagi.
*
Dengan mengabaikan panas yang menyengat dan beberapa kali mesti melepaskan benang layang-layang putus yang menyangkut di kakiku, akhirnya aku tiba juga di sebuah mal yang terletak di bilangan Jakarta Selatan ini. Oh ya Tuhan, kalau bukan karena sahabatku yang akan berulang tahun dan hendak pindah ke luar negeri, rasanya lebih baik di rumah saja. Panas hari ini betul-betul menyiksa. Aku tak tahu berapa suhu persisnya, tapi aku yakin seandainya seseorang enggak sengaja memecahkan telur di atas kepalaku, tak lama kemudian lelehannya akan berubah menjadi telur ceplok!
“Yuhuu!” April menepuk pundakku dengan keras, seperti kebiasaannya.
“Jadi, kita mau beli kado apa, nih?” tanyaku lugas.
“Aduuh, mau langsung nyari kado? Apa enggak pengin muter-muter dulu gitu, biasa cuci mata…” kata April centil.
“Ya cari kadonya dulu, lah. Kalau udah dapat kan tenang.”
“Ummh, owkay. The keyword is… butterfly!”
Kupu-kupu… Binatang favorit Irma. Sahabatku yang satu itu mengoleksi berbagai aksesoris berbentuk kupu-kupu mulai dari jepitan rambut, sampul buku, pajangan keramik sampai bed cover. Namun berbeda dengan kebanyakan pecinta binatang lain yang suka memelihara atau mengawetkan binatang yang disukai, Irma sebaliknya. Enggak pernah sekali pun dia berniat menangkap kupu-kupu atau membeli yang sudah diawetkan. Menurutnya apa pun alasannya, sama saja dengan membunuh binatang mungil nan rapuh itu. Aku setuju dengannya.
Toko pertama yang kami masuki adalah toko buku. Ini adalah ideku. Selain karena toko ini lah yang paling sering kumasuki jika masuk mal, kupikir mungkin ada buku bagus tentang kupu-kupu yang bisa kami hadiahkan padanya. Meski agak ragu, namun April ikut juga masuk.
“Nih, kayaknya bagus.” Kataku sambil menunjukkan sebuah ensiklopedia serangga pada April.
“Ih, itu sih buat anak SD!” cibirnya.
Aku berjalan menuju rak novel. Tak lama kemudian kulihat ada sebuah buku dengan cover bergambar puteri bersayap kupu-kupu. Kayaknya cocok! Kuambil saja dan…
“Aduh please deh, masa itu?”
Aku tercekat, “Kan kupu-kupu…”
“Tapi warnanya suram gitu. Aku yakin ceritanya horor. Mungkin cewek yang dikutuk jadi kupu-kupu atau apa lah…”
“Eh, don’t judge a book by it’s cover, Pril.”
“Aku tau, tapi biasanya cover kan menggambarkan isi cerita.” April melihat-lihat buku yang kupegang dan beberapa detik kemudian menyerahkannya kembali,
“Baca deh sinopsis di belakangnya.”
Aku melihat sejenak. Dugaan April memang tak meleset jauh. Buku fiksi ini kurang lebih bercerita tentang pembalasan dendam ratu kupu-kupu terhadap manusia yang sudah menangkap dan mematahkan sayap puteranya. Aku pun menyerah dan menyuruh agar April saja yang memilihkan kado untuk Irma. Senyum April langsung terkembang begitu mendengar usulku.
“Yuk, ikuti aku.” Dengan cepat ia menyeretku keluar dari toko buku dan membawaku memasuki sebuah department store yang memajang segala jenis pakaian dan aksesoris perempuan dengan warna-warna centil.
“Ssstt… kalau mau muntah nanti saja di luar!” April langsung mengingatkanku. Haha, ia tau saja kalau girlie things seperti ini bukan gayaku sama sekali.
“Gaun itu lucu bangeeeet!” tunjuk April pada sebuah gaun panjang ungu asimetris dengan motif sulaman kupu-kupu di dadanya.
“Ih April, kan prom night-nya juga udah lewat!” protesku.
“Hmm, iya sih… Lagian kayaknya bahannya panas.” Kami pun meninggalkan si gaun ungu.
“Kalau sepatu itu, gimana?” tunjuk April. Ia mengangkat sebuah sepatu bersol tebal namun ringan yang lagi nge-trend akhir-akhir ini.
“Enggak ada kupu-kupunya?” Aku meliriknya dengan heran.
“Tapi merk-nya Butterfly. Lagian modelnya lucu.” April lalu mencobanya sendiri, dan mematut-matutnya di depan sebuah cermin besar.
“Memang kamu tau ukuran kaki Irma?”
April menepuk jidatnya, “Oh ya ampun! Aku enggak tau…”
“Emmh, bisa-bisa cuma jadi pajangan tuh sepatu.”
*
“Aduh Pril, kakiku pegal.” Keluhku akhirnya, setelah kurang lebih satu jam kami menyusuri mal.
“Yaa, nanti dulu dong. Kadonya belum dapat, nih!”
“Kamu mau menggotong kalau aku pingsan?”
“Ya udah, kalau gitu kita ke kafetaria aja dulu. Aku traktir minum, oke?!” tawarnya. Aku langsung setuju.
Sebetulnya kakiku enggak pegal-pegal amat, sih. Cuma, gimana yaa… Aku tuh enggak begitu nyaman jalan di mal yang dikelilingi barang-barang fancy. Aku lebih suka jalan-jalan di toko buku.
“Keren! Kurasa itu kado paling pas!” tiba-tiba saja April berteriak. Tanpa menanyakan pendapatku, sontak ia berlari ke sebuah toko kecil yang menjual barang-barang hand made.
Di hadapan kami kini sudah ada sebuah layang-layang berbentuk kupu-kupu dengan warna-warna tradisional yang menyerupai batik. Kami memandangnya dengan sudut pandang berbeda. Miss Girlie April sangat menyukai layang-layang tersebut dan berpikir bahwa barang unik itu tidak akan dengan mudah didapatkan di UK, sehingga bisa menjadi kenang-kenangan yang pas untuk Irma. Motifnya pun dinilai April akan bisa mengingatkan Irma pada tanah kelahirannya.
Sementara untukku, bagaimana pun bentuk dan rupa benda itu, serta apa pun motifnya… itu tetaplah sebuah layang-layang. Benda yang amat sangat tidak menarik. Terlebih benangnya. Di mataku, benang gelasan yang tajam itu mampu melukai bahkan membunuh siapa pun yang menyentuhnya.
“Kita beli itu aja ya, Lid?”
“Itu kan layang-layang, Pril… Kamu tau sendiri kalau aku enggak suka benda itu.”
“Oh ya, aku lupa.” April langsung terlihat tak bersemangat.
Tapi sesaat kemudian, “Atau gini deh… Sementara kita beli dulu layang-layang ini. Nanti kalau ternyata ada barang lain yang lebih pas, kita beli lagi dan layang-layangnya biar untukku. Gimana?”
Aku tak tau lagi harus berkata apa. Maka aku pun mengangguk saja, karena rasanya kepalaku mulai pusing.
*
Menunggu bukanlah pekerjaan yang menyenangkan. Seperti yang kulakukan saat ini, menunggu hasil ujian masuk perguruan tinggi negeri. Sejauh ini aku belum mengikuti seleksi masuk universitas swasta, jadi segala bentuk perasaan mulai dari cemas sampai gelisah terus-menerus menghantuiku. Bukannya bermaksud takabur dengan tidak mempersiapkan alternatif lain, aku hanya ingin memfokuskan pikiran pada satu tujuan dulu. Lagipula jika melihat nilai-nilaiku yang baik selama SMA plus usaha kerasku mengikuti bimbel, masa sih Tuhan enggak mengabulkan doaku untuk lulus?
*
“Ayo dong Rico, masa seharian main games melulu, sih? Kakak kan bosan.”
“Tapi ini lagi seru!” bantah Rico, jemarinya masih dengan lincah memencet tombol-tombol.
“Lihat deh, apa kamu enggak kepengin main layang-layang di luar? Tuh, bagus-bagus, kan? Kita beli satu, lalu main sama-sama.”
Rico melirik sebentar, tampak agak tertarik namun ragu. Maka kuteruskan saja bujukanku, “Nanti kakak belikan cokelat!”
Mata Rico mulai berbinar. Lalu tanpa pikir panjang, ia mematikan games player-nya. Kami pun segera menuju kios layang-layang terdekat dan membeli satu yang bergambar ikan.
Bermain layang-layang ternyata lebih seru dari yang kubayangkan. Menarik-ulur layang-layang sesuai dengan tiupan angin, disertai dengan sorak-sorai anak-anak di lapangan, menjadikan permainan ini begitu mengasyikkan. Hingga aku pun merasa haus.
“Co, kakak mau minum dulu, ya?” pamitku pada adikku. Rico mengangguk.
Segelas air es membasahi tenggorokanku, hingga membuatku terlena untuk sekedar bersandar selonjoran di sofa…
“Lidya bangun! Mama mau antar Rico ke rumah sakit!” Suara panik itu menyadarkanku.
“Hah, Rico… Kenapa?”
“Kakinya berdarah, terlilit benang gelasan!” mama terlihat makin panik. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti Mama masuk taksi yang sudah terparkir di depan rumah, menuju rumah sakit.
Tuhan berkehendak lain. Rico kehabisan banyak darah dan tak bisa diselamatkan.
Kejadian sebelas tahun yang lalu itu kembali menyeruak ke dalam benakku sesaat sebelum lampu kamar kumatikan. Entah kenapa tiba-tiba saja rangkaian kejadian itu terputar lengkap di otakku. Hhh, ini pasti gara-gara layang-layang kupu-kupu yang kami beli tadi sore.
Layang-layang telah merenggut nyawa adik semata wayangku. Dan itu terjadi karena kecerobohanku! Ah, seandainya waktu bisa kuputar kembali ke masa itu, tak akan pernah aku mengajak Rico bermain layang-layang dan meninggalkan games favoritnya. Aku memang kakak yang bodoh! Sok tau!
Aku pun lantas teringat pada layang-layang kupu-kupu yang kami beli untuk Irma tadi. Tanpa berpikir panjang, kuputuskan untuk segera menelepon April,
“Pril, aku mohon batalkan kado layang-layangnya, ya?” tanpa basa-basi aku langsung bicara saat telepon tersambung. Terdengar April menghela nafas.
“Lidya… Aku tau kamu memiliki trauma dengan layang-layang. Tapi Lid… ayolah berpikir logis. Hidup dan mati manusia itu di tangan Tuhan. Jangan terus-terusan menyiksa diri dengan perasaan bersalah atas kematian adikmu.”
“Ta… tapi, kamu enggak mengalami apa yang kualami, Pril. Kamu enggak tau rasanya kehilangan…”
“Kamu lupa? Aku bahkan sudah tak punya ibu sejak bayi. Tujuh belas tahun lebih aku tumbuh hanya didampingi ayah dan abangku. Semua orang bilang ibu meninggal karena melahirkanku. Sempat aku merasa bersalah karenanya. Kenapa aku harus ada di dunia ini jika satu nyawa terpaksa pergi dalam kesakitan? Tapi lama-kelamaan aku sadar, usia manusia merupakan rencana Tuhan. Lagipula aku yakin, ibuku pasti menginginkan aku menjadi anak yang cerdas dan ceria, agar bisa mendoakannya, menjadi penyambung amalnya.” Ujar April panjang lebar. Aku terdiam seraya menyusut air mataku.
“Ka… kamu benar, Pril.”
Sesaat suasana hening.
“Lagipula, kurasa layang-layang ini kelak hanya akan dipajang oleh Irma. Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan, bukan?”
Hati kecilku diam-diam membenarkan perkataan April. Betul juga ya, cewek feminin seperti Irma mustahil mau berpanas-panas memainkan layang-layang. Jadi…
“Oke deh, Pril.”
“Nah gitu dong, senyum yaa Lidya sayang!” ucap April menyemangatiku.
Aku mematikan ponsel. Dan beban yang sudah kutanggung selama sebelas tahun itu mulai berkurang malam ini berkat sahabatku.
*
UK sedang mengalami musim panas saat Irma tiba di sana. Sebelum masuk masa kuliah, Irma diajak mengikuti perkemahan musim panas oleh beberapa tetangganya. Aku melihat foto-foto yang dipasang Irma di jurnal online miliknya. Irma tampak sukacita dengan segala kegiatan baru dan teman-teman barunya.
Namun ada satu foto yang sempat membuatku terkejut, Irma membawa layang-layang pemberian aku dan April ke pantai. Ia memberinya judul “Layang-Layang Persahabatan”. Oh tidak, ia memainkannya! Irma bermain layang-layang…
Aku kembali cemas. Aku khawatir kejadian buruk menimpa Irma karena layang-layang itu, seperti Rico dulu. Dan ini sudah pasti salahku. Aku ceroboh untuk mengulangi kesalahan yang sama.
“Ding!” messenger-ku berbunyi. Ah, itu Irma!
Semalam ini belum tidur?
Belum, aku sedang… ummh… membaca jurnalmu.
Oh ya? Senangnya! Jangan lupa meninggalkan komentar yaa…
Oke… Oh ya, layang-layangnya kamu mainkan, ya?
Iya, senang deh! Kamu tau Lid, layang-layang kupu-kupu pemberian kalian itu memenangkan desain layang-layang terunik lho!
Dan bla… bla… bla… Irma bercerita panjang lebar mengenai hal tersebut. Hingga membuat kekhawatiranku tentang layang-layang hilang tak berbekas.
]]> “Di sini kah kita akan tinggal, Ma?” Tanyaku pada Mama, yang baru saja menutup pintu. Agak susah pintu tersebut ditutup, karena di sana-sini masih bertumpuk kardus-kardus.
“Baru segini kemampuan Mama saat ini, De.” Suara Mama terdengar lembut namun tegas.
Rumah petak berukuran 3 x 10 meter. Dengan dua kamar yang tak berpintu. Ya, tak berpintu! Satu kamar mandi kecil dan satu dapur kecil dengan wastafel yang sudah banyak karat di beberapa bagiannya, turut melengkapi rumah ini.
“Kok yang punyanya enggak mengecat dulu rumahnya sih, Ma?”
“Enggak sempat, De. Penyewa sebelumnya baru pindah dua hari yang lalu. Sedangkan kita kan butuh pindah cepat juga.” Tangan Mama yang cekatan mulai membongkar-bongkar kardus.
“De, ada bakso tuh! Beli yuk?” Alina – saudara kembarku, memanggil dari arah lorong menuju dapur. Aku sebetulnya enggak pengin makan bakso. Enggak Cuma bakso deh, kayaknya. Aku enggak selera makan apa pun di rumah ini, sungguh! Tapi mata Alina menatapku, yang apabila diberi balon ucapan seperti di dalam komik-komik, mungkin akan tertulis ‘Cepat Kesini Jangan Banyak Alasan!’
“Udah dong De, jangan protes melulu. Kasihan kan Mama. Segini aja mestinya kita udah bersyukur masih bisa punya tempat tinggal.
“PUNYA? Ini kan Cuma NGONTRAK.” Kataku sengit.
“Eh tapi kita kan udah bayar setahun penuh. Itu artinya dalam waktu setahun, rumah ini milik kita.” Alina mengambil dua buah mangkok dan menyodorkan satu padaku.
“Apaan?”
“Mau bakso enggak?”
Aku menggeleng. Tanpa banyak komentar, Alina menyimpan kembali mangkok yang sedianya untukku. Lalu berlalu dari hadapanku, menuju pintu samping.
Aku menatapnya dari balik pintu. Alina sedang berdiri di samping tukang bakso, memberi perintah pada abangnya untuk membuatkan semangkok bakso favoritnya yang tidak pakai seledri dan bawang. Beberapa anak kecil ingusan lewat di samping Alina, membawa mainan-mainan yang kumal. Alina dengan ramah menyapa mereka. Anak-anak itu menjawab sapaan Alina, hingga dalam waktu sebentar saja mereka sudah terlihat sangat akrab.
“Daagh adik-adik…” kata Alina saat semangkuk bakso panas sudah siap di hadapannya.
***
Pukul 2.45 dini hari. Mataku masih belum juga bisa terpejam. Sementara di sampingku, kulihat Alina sudah lama terlelap memeluk guling kesayangannya. Hufft! Aku masih berharap bahwa ini mimpi. Sangat berharap bahwa aku akan terbangun di pagi hari dan melihat dinding kamar dengan wallpaper berwarna ungu muda. Sedikit menoleh ke arah kiri, biasanya ada segelas susu low fat yang sudah disiapkan oleh Irah, pembantu rumah tangga kami. Selanjutnya aku akan mengecek communicator yang berisi setidaknya satu ucapan selamat pagi dari Andri.
Tapi semua tidak lagi kumiliki saat ini. Kamar yang kutempati sekarang berdinding biru kusam, seperti yang tak pernah dicat bertahun-tahun lamanya. Sudah sempit, harus berbagi dengan Alina pula. Lihat ke sebelah kiri, jangankan meja kecil tempat menaruh gelas susu, yang ada tumpukan kardus berisi barang-barangku, yang aku sendiri enggak tahu mau menyimpannya di mana. Irah pulang kampung sebulan yang lalu. Andri… Sial! Cowok itu pergi entah kemana setelah ayahku mendadak jadi artis di beberapa berita kriminal di tivi, karena kasus korupsi dan pernikahan sirinya terbongkar. Dan jangan tanya kemana communicator kesayanganku. Alina memintanya seminggu yang lalu! Untuk ongkos pindahan, katanya.
Tuhan…Tuhan… tolong dong jadikan ini hanya sebagai mimpi buruk di siang hari! Tolong Tuhan, jika pun hanya boleh aku memohon satu kali lagi sepanjang sisa usiaku, aku hanya inginkan semuanya kembali seperti semula, sungguh!
Namun Tuhan tidak memihakku saat ini.
***
Sekolah baru tidak begitu menyenangkan untukku. Ralat, rasanya seperti neraka! Bukan hanya fasilitasnya yang sangat minim, dimana toiletnya saja kurasa sama dengan yang ada di terminal bis antar kota. Tapi teman-temannya juga sangat enggak menyenangkan! Mereka tuh pengin tahu aja urusan orang. Pakai tanya-tanya lah, kenapa aku pindah dari International School kesini? Gimana rasanya? Ada bedanya enggak? Dan bla…bla…bla…
Ya jelas lah ada bedanya! Jauuuuh! Di sekolah lamaku, semua terlihat dan berjalan sangat teratur. Kebersihan dan disiplin adalah faktor utama yang yang harus dijalankan. Boro-boro ada tukang dagang berkeliaran di depan pagar (dan siswa boleh makan di luar pada jam sekolah!), di sana ada cafetaria yang menyediakan makan siang kami setiap harinya, dengan menu empat sehat lima sempurna.
“De, lihat nilai yuk! Katanya udah dipasang di mading!” ajak Alina, membuyarkan lamunanku. Buku di hadapanku terlempar.
“Nilai apa?”
“Ulangan Biologi kemarin.”
Alina menyeretku menuju papan pengumuman. Aku enggak bersemangat sama sekali.
“Waah, selamat ya Alina…”
“Iya, kamu pintar sekali…”
“Besok-besok ajarin aku, dong…”
Ucapan-ucapan itu memberondong Alina ketika kami sudah hampir mendekati mading. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mengetahui penyebabnya. Alina mendapatkan nilai sempurna untuk ulangan harian pertama kami di sekolah ini. Sementara aku, dapat 10! Sepuluh dari range 0 – 100! Baguuuus…
Setelah semua teman sekelas tak lagi berada di sekitar kami, Alina mencolek lenganku, “Kamu enggak belajar ya, De?”
Aku hanya melihatnya sekilas, lalu meninggalkannya.
***
Bulan Januari sudah hampir usai. Alina sibuk meneliti resolusi di dalam agendanya. Ia memberi tanda check list pada beberapa kolom. Woow! Adakah resolusi yang bisa ia jalankan pada masa-masa sengsara seperti ini? Oh yaa, aku juga membuat resolusi waktu itu. Tapi itu semua sudah hilang. Sudah kubilang kan, kalau communicator-ku menjadi salah satu modal kami hingga tiba di rumah bau apek ini?!
***
Malam itu hujan turun begitu deras. Aku khawatir atap rumah yang kami tempati saat ini, tak cukup kuat untuk menahan airnya.
“Kak…” kubangunkan Alina.
“Hmmh…” masih dengan mata yang setengah terpejam, Alina melihatku.
“Ujannya gede banget ya? Bakal bocor enggak, sih?”
“Enggak tahu.” Jawabnya singkat.
“Kalau bocor gimana?”
“Ya ditampung.” Alina masih menjawab dengan tenang. Seolah-olah rumah yang bocor adalah masalah kecil baginya. Sama dengan kalau aku bertanya harus diapakan kah makanan yang sudah basi? Lalu dijawab, ya dibuang. Singkat.
***
Keesokan harinya, kami – Aku dan Alina, baru pulang sore hari. Hujan deras membuat kami basah kuyup. Satu payung kecil untuk berdua tentu saja tak menjanjikan perlindungan memadai di tengah hujan deras dan angin yang bertiup kencang. Apalagi kami sekarang naik metromini pulang sekolah. Buat yang pernah yang tinggal di Jakarta, pasti tahu lah bahwa bis berwarna oranye ini tak pernah benar-benar berhenti saat menaikkan atau menurunkan penumpang. Keadaan yang menjadikan kami mau tak mau harus bersahabat dengan genangan air di pinggir jalan.
“De, banjir!” Alina menunjukkan luapan air yang sepertinya sudah mencapai lutut, beberapa meter di hadapan kami. Ya, jalanan di mana kami berdiri saat ini lebih tinggi kurang lebih empat puluh sentimeter, sehingga air tergenang di bagian yang rendah.
“Terus, gimana caranya ke rumah?”
“Eng… kayaknya rumah kita juga kebanjiran deh…” Alina menggumam. Oh tidak!
“Jadi gimana, dong?” aku mematung di tempat. Alina dengan sigap melepas sepatu dan kaos kakinya.
“Yuk, De?”
Apa? Ia mau menerobos banjir? Oh jangan… Aku enggak berniat melakukan hal yang sama. Enggaaaaak!
“Cepat! Kasihan Mama, pasti repot kalau rumah kemasukan air.”
“Tapi, airnya kotor, Kak!”
“Ya udah kamu tunggu aja di sini!” kali ini Alina terdengar begitu kesal padaku.
Mesti gimana lagi, coba? Aku enggak bisa membayangkan harus berjalan di tengah banjir. Tahu sendiri dong, kalau banjir itu berasal dari luapan air sungai atau selokan? Yang mana sungai atau selokan di sekitar rumah yang kami tempati itu warnanya butek! Hiiy, aku bergidik membayangkan apa saja yang ada di dalamnya.
Satu jam nyaris berlalu ketika genangan air di hadapanku sudah menyusut hingga semata kaki. Oke, tunggu beberapa menit lagi sampai surut betul, baru aku akan pulang. Bilang saja aku manja atau apapun itu. Tapi mengingat bahwa pastinya aku harus ikut membersihkan sisa banjir di dalam rumah, maka kuanggap penantianku saat ini sebagai saat untuk mengumpulkan tenaga.
Begitu tiba di depan rumah, kulihat ramai sekali. Beberapa orang tetangga berkumpul di sekitar rumahku. Ada apa, ya?
“De, sini cepet! Nanti kehabisan lho ubi rebusnya!” aku melihat Alina dari balik jendela yang dibuka lebar.
Ubi rebus? Terus banjirnya??
Aku menerobos masuk ke dalam rumah setelah sedikit menebar senyum kepada beberapa orang yang masing-masing sedang memegang sebuah ubi rebus. Di dalam, terlihat masih ada dua piring berisi ubi rebus. Piring satunya masih agak penuh, sementara yang lainnya tinggal berisi dua buah ubi.
“Ma…” aku mencari sosok Mama di antara beberapa tetangga yang ada di rumah kami. Kubuka tirai kamar Mama. Kulihat beliau baru saja selesai shalat.
“Cepat ganti baju, De. Lalu ngumpul sama tetangga, ya… Ngobrol-ngobrol lah, sekedar ucapan terima kasih. Kita sudah banyak dibantu lho tadi, membersihkan air yang masuk.” Mama melepas mukenanya. Aku tak tahu harus bicara apa.
Kupeluk Mama, “Ma, maafin Ade, ya?”
Mama balik memelukku, lebih erat. Air mata tak kuasa lagi kubendung. Ia jatuh satu-persatu membasahi pipiku.
“Udah lah, De. Enggak apa-apa.”
“Ade udah jahat banget sama Mama. Hikss…”
“Mama juga minta maaf. Enggak banyak yang bisa Mama lakukan untuk mengatasi musibah yang menimpa keluarga kita, De.”
“Enggak. Mama udah ngelakuin semua yang terbaik. Mama tetap berusaha supaya kami bisa tetap makan, sekolah… itu udah lebih dari cukup, Ma.”
“Syukur lah kalau kamu bisa ngerti.” Mama mengusap rambutku dengan lembut, lalu menyimpan lipatan mukena dan sajadahnya di atas kasur. Kulihat beberapa barang yang tadinya disimpan di lantai pun kini sudah berpindah ke atas kasur. Lantai semen masih terasa lembap. Mama menyodorkan sebuah daster padaku. Aku melongo.
“Pakai ini aja dulu, biar cepat. Nggak enak membiarkan tetangga menunggu lama.” Aku pun segera mengganti seragamku.
“Lama amat sih ganti bajunya?” Alina manyun. Aku tersenyum saja menanggapinya. Ia menuju dapur dan sebentar kemudian kembali dengan piring yang berisi beberapa potong ubi.
“Untung kamu punya kakak yang baik. Nih, kalau enggak kusimpankan, pasti udah gak dapet jatah!”
Tanpa menunggu lama, sepotong ubi rebus pun berpindah ke dalam mulutku. Lezaaat! Sama lezatnya dengan keadaanku saat ini. Berada di tengah-tengah orang yang kucintai. Ya, itu saja sudah lebih dari cukup… untuk saat ini ![]()
Orang-orang di sekitar rumahnya masih ramai membicarakan tentang pembagian jatah daging qurban yang tidak merata, ketika Acit pulang sekolah siang itu. Sinar matahari siang membakar tubuhnya yang kurus. Berulang-kali tampak remaja berusia lima belas tahun itu
mengusap peluhnya. Acit teringat kata-kata Bu Sita-wali kelasnya, di ruang guru tadi…
“Sudah tiga bulan kamu menunggak SPP, Astrid.” Ucapnya lembut. Acit-demikian ia biasa disapa, tak berani menjawab apa-apa. Kepalanya tertunduk lemas saat itu.
Kepala dengan rambut dikuncir itu masih tertunduk lemas sampai sekarang. Beberapa belas meter lagi Acit akan tiba di rumahnya. Namun ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Acit membayangkan ayahnya yang tidak mampu lagi bekerja sejak kehilangan kedua kakinya karena terjatuh saat menjadi buruh kontrak, membangun sebuah gedung pencakar langit. Di benaknya juga ada ibu, yang selalu sibuk dengan makanan kecil jualannya. Didit dan Dion, dua adik kembarnya yang masih duduk di bangku kelas satu SD juga tak luput hadir dalam bayangan Acit.
“Huuuff…” Acit menghela nafas.
“Kak Acit pulaaaaang!” Dion yang rupanya sedang bermain mobil-mobilan di teras, berteriak menyambutnya. Didit ikut-ikutan meneriakkan namanya sambil mengacungkan senapan plastik ke arah Acit. Acit pura-pura tertembak sebelum masuk rumah. Didit tertawa kegirangan.
“Sudah makan, Cit?” ibu menyapanya. Acit menggeleng.
“Makanlah dulu. Ibu masak tempe bacem hari ini.” Kali ini Acit hanya mengangguk sambil tersenyum. Ibu menatapnya.
Di dalam kamar, maat Acit menerawang memperhatikan sekelilingnya. Sebuah kamar berukuran dua kali dua meter yang belum dicat dengan sempurna itu, masih memberikan pemandangan yang sama dengan semalam, saat Acit memperhatikannya juga, guna mencari barang berharga apa yang dimilikinya dan dapat dijual untuk menutupi SPP? Tapi hasilnya nihil.
Ada poster seorang penyanyi tertempel di dinding kamar Acit. Namanya Ardelia. Dia itu penyanyi idola Acit. Acit mengidolakannya karena masa lalunya. Penyanyi yang terkenal lewat ajang pencarian bakat se-Indonesia itu awalnya hanya anak seorang buruh cuci miskin dari suatu daerah di Sumatera. Namun karena bakat dan kegigihannya, ia bisa berhasil menjadi juara ajang tersebut. Suatu prestasi yang hebat di mata Acit! Maka dengan menempelkan posternya di belakang pintu kamar, Acit berharap suatu saat dia pun akan bisa jadi orang hebat seperti Ardelia. Terkenal dan mengubah nasib keluarganya.
Tapi, aku bisa apa? Acit membatin. Seingatnya, ia sama sekali tidak memiliki bakat menyanyi, menari, akting dan semacamnya – yang rata-rata dicari di bidang entertainmen. Yaa, bukankah hanya itu bidang yang bisa ditekuni oleh remaja yang masih bersekolah? Setidaknya itulah yang Acit tahu. Acit juga tidak punya koneksi orang ‘besar’ yang bisa merekomendasikannya untuk bekerja di suatu perusahaan. Jangankan orang ‘besar’, sejauh ini kenalannya ya cuma teman-teman dan para tetangga. Kondisi mereka rata-rata tak jauh beda dengannya.
“Ah sudahlah, gimana nanti saja.” Ucap Acit pelan. Ia segera menuju ruang makan. Perutnya sudah bunyi tanpa aturan dari tadi.
*
Malam hari sebelum tidur, Acit mengambil sebuah buku tulis dari bawah bantalnya. Acit lalu menuliskan beberapa baris kalimat di dalamnya. Buku harian-demikian Acit menyebutnya. Walau jika dilihat, tampilannya tidaklah seperti buku harian remaja perempuan pada umumnya: hard cover dengan halaman yang berwarna-warni dan wangi. Buku harian Acit hanya sebuah buku tulis biasa yang sudah agak lecek, karena ditulisi setiap hari dan disimpan di bawah bantal.
…Bu Sita bilang batasnya bulan depan, dan aku benar-benar tidak tahu dari mana bisa mendapatkan uang untuk melunasinya.
Demikian akhir tulisan Acit malam ini. Seperti malam-malam sebelumnya, Acit memang selalu menuliskan semua pengalamannya di buku harian tersebut. Pengalaman yang sebagian besar merupakan kegelisahannya atas kehidupan keluarganya.
*
Pagi sudah datang lagi. Mau tidak mau Acit harus bangun dan bersiap-siap ke sekolah.
Hhh… Acit menghela nafas dalam-dalam. Sejak pemberitahuan mengenai tunggakan SPP itu terdengar di telinganya, sekolah bagaikan suatu momok yang menakutkan bagi Acit.
“Ha…ri…i…ni…a…ku…ke…te…mu…ra…ma…” demikian eja Dion. Ia tertawa-tawa karena berhasil mempraktekkan pelajaran membaca di sekolahnya. Didit yang belum selancar Dion hanya bisa memperhatikannya sambil sesekali melihat tulisan di dalam buku yang dipegang Dion.
“Ayo teruskan.” Pinta Didit penuh harap.
“Sebentar, dong!” Dion membalik buku tersebut lalu membaca lagi dengan mimik serius,
“Ra…ma…i…tu…tam…pan…se…ka…li…”
“Dion, simpan bukunya!” Acit yang masih mengenakan handuk, muncul di pintu kamar. Ia tampak kesal sekali pada Dion. Ouw, rupanya sedari tadi Dion membaca buku hariannya.
“Di…dion mau belajar baca, Kak…”
“Enggak boleh buku yang itu.”
“Ta…tapi…”
“Gak ada tapi-tapian, pokoknya cari buku lain aja, sana!” Acit merampas buku tersebut dari tangan adiknya dengan judes. Dion mengkerut. Ia berlari kecil keluar kamar. Di belakangnya Didit menyusul dengan muka sama takutnya.
“Nakal!” pekik Acit. Perasaannya campur aduk sekarang, antara kesal dan malu. Bagaimana kalau Dion memberitahukan isi buku hariannya kepada ibu? Arrgh!! Buku harian itu pun segera dimasukkannya ke dalam tas, terselip di antara buku-buku pelajarannya. Ya, Acit memutuskan untuk memindahkannya sementara dari tempat asalnya di bawah bantal.
*
Acit berjalan terburu-buru ke dalam kelasnya. Ia berharap untuk tidak bertemu dengan Bu Sita pagi ini. Sebetulnya sih memang tidak ada pelajaran bahasa Indonesia di kelasnya hari ini. Tapi mana tahu Bu Sita iseng mampir melihat anak-anak walinya? Apa pun alasannya, setidaknya untuk satu hari ini Acit ingin bisa merasa tenang dari urusan SPP.
JDUKK!!
“Aduuh”
Acit tak sengaja menabrak seseorang. Namun badannya yang besar, membuat Acit yang justru tersungkur.
“Eh Astrid… maaf yaa.”
Rama! Iya itu Rama!
Sontak saja degup jantung Acit seperti berkejaran. Rama adalah temannya di kelas sebelah. Sudah lama Acit menyukai Rama. Cowok itu mantan ketua OSIS di sekolahnya, baru beberapa bulan yang lalu ia menyerahkan jabatannya pada adik kelas mereka.
“Eh… apa?” Acit yang melamun, tak mendengar kata-kata Rama.
“Aduuh Strid, kamu itu baru kelas sembilan kok sudah banyak melamun, sih? Cepat tua, lho!”
“Enggak kok… aku…eeh… lagi mikirin… ulangan! Iya ulangan!” jawab Astrid berbohong.
“Oooh… ya sudah kalau begitu bergegas dong, nanti keburu bel lho!”
Astrid mengangguk cepat-cepat. Namun beru saja ia melangkah,
“Tuh kan melamun… ini bukunya jatuh saja sampai enggak sadar.” Suara Rama kembali mengejutkannya. Acit berbalik. Oh tidak! Itu kan buku hariannya. Segera saja ia merebutnya dari Rama.
“Buku apa, Strid? Kok kayaknya takut amat kalau aku baca?”
“Ummh, ini… coret-coret… biasa laah. Tulisan-tulisan enggak penting, kok.” Jawab Acit cepat.
“Kamu suka nulis? Nulis apa?”
“Emmh… apa saja yang menarik.”
“Cerpen?”
“Ummh, kadang-kadang.”
“Kalau begitu, kamu mesti ikutan ini, dong!” ujar Rama sambil menunjukkan sebuah poster di mading. Acit membacanya perlahan.
Sebuah lomba menulis cerpen. Yang paling menggiurkan tentu saja hadiahnya, uang tunai tiga juta rupiah untuk pemenang pertama! Besar sekali! Acit membayangkan dengan uang segitu, tak hanya SPP yang bisa dilunasinya. Mungkin ia juga bisa membelikan beberapa pakaian untuk adik-adiknya. Atau, membetulkan sepeda tua milik ibu, mungkin?
Bel masuk berbunyi. Rama pamit dari Acit, sementara ia masih sibuk menuliskan ketentuan lomba cerpen tersebut.
*
Deadline lomba tinggal seminggu lagi. Sementara Acit belum juga menemukan tema yang bagus untuk ditulis. Beberapa sobekan kertas sudah berserakan di sisi tempat tidurnya. Jumlahnya memberi tahu sudah berapa kali Acit merasa ada yang salah dengan tulisannya. Acit lalu membuka buku hariannya. Ia mulai jenuh mencari topik untuk cerpennya.
“Heran, susah betul sih nulis cerpen ketimbang beberapa halaman? Nulis buku harian sudah sampai buku mau habis, kok kayaknya gampang-gampang aja, ya?” Acit menggerutu. Ia tak habis pikir mengenai keduanya. Dahinya berkerut beberapa menit, sampai akhirnya…
“Aku tahu!”
Segera saja Acit mengambil kertas dan menulis. Satu dua baris terlewati. Hingga akhirnya Acit selesai menulis sekitar tujuh halaman. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Astrid merasakan pegal di sekujur tubuhnya. Namun ia tersenyum puas. Cerpennya sudah selesai. Judulnya “Ibuku dan Sepeda Tuanya”. Ya, Acit memutuskan untuk menuliskan saja pengalamannya. Ia merasa bahwa menulis berdasarkan sesuatu yang dipahaminya, akan jadi lebih mudah dan cepat tentu saja!
*
Sepulang sekolah, Acit mampir dulu ke TU. Di sana ada Pak Darman, ketua TU yang juga tetangganya. Acit menyapanya dengan sopan. Berharap Pak Darman sudah tidak banyak pekerjaan lagi.
“Ada apa, Strid?” tanyanya ramah.
“Mmmhh… boleh saya pinjam mesin tiknya, Pak?” Acit tampak ragu.
“Boleh saja! Kebetulan pekerjaan bapak sudah selesai. Mau mengerjakan tugas?”
Acit mengangguk, berbohong. Ah biar lah, toh bagi Pak Darman tak ada bedanya seandainya yang diketiknya kali itu tugas sekolah atau bukan, begitu pikir Acit. Kurang lebih dua jam akhirnya Acit selesai mengetik. Jarinya pegal-pegal.
*
Kantor pos di dekat kantor kelurahan sudah hampir ditutup pintunya saat Acit datang untuk mengeposkan cerpennya. Untung saja petugasnya masih mau melayani Acit. Mungkin karena dilihatnya Acit datang dengan keringat sebesar-besar butiran jagung, ia pun tidak sampai hati untuk menolaknya.
*
“Astrid!” Rama melambaikan sebuah tabloid padanya dari kejauhan. Acit menghampirinya. Pagi itu ia datang lebih awal, karena mau piket.
“Ada apa?” tanyanya heran.
“Ini lihat, kamu dapat juara pertama lomba cerpen tempo hari!” Rama berbicara agak keras sambil menunjukkan tabloidnya. Acit kegirangan. Ia lalu memperhatikan tabloid tersebut lekat-lekat, takut Rama salah baca. Tapi betul, tidak perlu diragukan lagi. Di kolom itu tertulis nama serta nama sekolahnya. Lalu di bawahnya tertulis bahwa Acit berhak atas hadiah uang tunai tiga juta rupiah! Mata Acit berkaca-kaca. Ia tak tahu harus bicara apa.
“Sekali lagi, selamat ya!” Rama mengulurkan tangannya. Acit menerima ucapan tersebut dengan bahagia dan terharu. Tanpa sadar tangan Rama digenggamnya erat.
*
Siang itu Acit tersenyum dengan riang. Terik matahari masih sama panasnya dengan hari-hari sebelumnya, membuat peluhnya mengalir dan bajunya tampak lusuh. Namun kali ini Acit tidak lagi berjalan dengan lunglai. Ia berjalan tegak, menatap ke depan. Ya, kini ia tak perlu lagi khawatir. Selembar kuitansi pelunasan SPP sudah tersimpan rapi di saku kemejanya.
***
]]>Ini sudah H-7 menjelang pernikahan Fitta. Semua persiapan setidaknya sudah menginjak pada tahap 80% ready, termasuk kebaya – yang setelah terakhir fitting – ternyata perlu dikecilkan beberapa senti dikarenakan menyusutnya bobot calon mempelai wanita.
“Fit, kamu kok masih ngantor aja, sih? Cuti, dong!” ujar Karin saat lewat di depan kubikel Fitta.
“Aah, jatah cutiku tinggal seminggu, ditambah izin kawin tiga hari. Kalau ngambil cutinya dari hari ini, ntar gak ada sisa buat honeymoon.” Tukas Fitta sambil terus menekuni layar monitor di hadapannya.
“Ciee, memangnya mau honeymoon kemana, Non?” Karin mengedipkan sebelah matanya, yang disambut dengan kerjapan centil Fitta,
“Ada deeh!”
“Eh Fit, bukannya pamali ya kalau calon pengantin enggak dipingit dulu?” kini ucapan Karin terdengar agak serius. Fitta hanya mengedikkan bahunya.
*
Acara infotainment rupanya begitu menarik minat Astari. Perempuan berusia setengah abad itu – entah kenapa – tak pernah bosan menontonnya seharian, meski berita artis yang disiarkan hampir selalu sama dari pagi sampai petang. Astari bahkan menyembunyikan remote setiap hendak menonton acara kesayangannya itu, agar tak seorang pun bisa memindahkan saluran televisi, yang berisiko mengganggu keasyikannya. Dimas – cucunya yang masih balita – merengut sambil memegang mobil-mobilannya.
“Nanti Dim, kalau sudah iklan, baru boleh dipindahkan…”
“Asyiik, iklaan! Sini remote-nya Oma!” omongan Astari terpotong oleh jeritan sukacita Dimas, yang tanpa menunggu lebih lama segera saja memindahkan ke saluran favoritnya.
“Yaah, beritaa…” keluhnya kecewa saat mendapati ternyata tidak ada film kartun kesukaannya. Astari tersenyum. Sambil lalu, ia menonton ‘Berita Sekilas’ tersebut. Namun ternyata,
“Ya Tuhan, itu kan… Dim, sini remote-nya!”
Dimas menyerahkan remote sambil masih menunjukkan raut wajah kesal. Astari segera membesarkan volume tivi.
“Papiiiii!!! Green Valley kebakaraaaaaan!” pekiknya.
*
Restoran bernuansa tradisional yang sebagian besar bangunannya terbuat dari bambu beratap sirap itu kini sudah nyaris rata dengan tanah. Fitta menatap nanar gundukan abu di hadapannya. Air matanya sudah mulai bisa dibendung. Fadly mengusap bahunya dengan lembut.
“Kita cari tempat baru.” Ucapnya.
“Mana ada restoran bagus di Jakarta ini yang bisa di-booking seminggu sebelum acara?” ucap Fitta dengan suara parau.
“Aku akan usahakan.”
“Bagaimana dengan para tamu? Bukankah di undangan sudah tertulis…”
“Psst… kalau perlu aku hubungi mereka semua. Kamu masih simpan guest list-nya, kan?” Fadly memotong jawaban Fitta yang mulai terdengar meradang. Fitta hanya bisa mengangguk pasrah.
*
“Aduh Tante, gimana sih? Kok bisa kebayanya jadi sempit begini? Ini sudah empat hari lagi!” protes Fitta pada tante Iceu - desainer yang mengerjakan kebayanya.
“Lho, waktu mau dikecilkan segini, kok. Dan kamu bilang pas.”
Fitta sebetulnya masih hendak mengomel ini itu, kalau saja perempuan di hadapannya bukan lah sahabat ibunya sejak SMA dulu.
“Hmm, mungkin kamu memang tambah gemuk, Fit?”
Tambah gemuk? Fitta menghela nafas. Ia teringat beberapa bar toblerone dan tumpukan toples kue keju yang tersebar di kamar dan laci meja kerjanya. Ya, Fitta membutuhkan pelampiasan emosi untuk mengendurkan saraf-saraf ketegangan yang timbul pasca terbakarnya Green Valley - tempat dimana resepsi pernikahannya dengan Fadly sedianya akan digelar.
Dengan lemas Fitta pun pulang setelah dengan sangat terpaksa menyetujui permintaan tante Iceu untuk mengambil kebayanya tiga hari lagi. Ingin rasanya Fitta menjerit. Bagaimana jika terjadi apa-apa? Masa kebaya pengantin baru bisa dicoba sehari sebelum acara?
*
Rendaman air melati tidak juga berhasil membuat tubuh Fitta rileks. Padahal ia sudah membayar cukup mahal atas paket perawatan pengantin yang ditawarkan oleh salon kecantikan ini. Dalam bak berwarna gading itu pikirannya masih menerawang kesana-kemari, membayangkan pernikahannya kelak, yang pastinya akan terwujud jauh dari yang diimpikannya selama ini.
*
“Ini gantinya Green Valley?” Fitta terperangah melihat sebuah restoran kecil di hadapannya. Fadly mengangguk.
“Ini yang terbaik yang bisa aku dapatkan, Fit. Maaf ya kalau agak kurang sesuai dengan impianmu. Tapi yang terbaik sudah full booked. Rupanya banyak yang mengambil momen pernikahan selepas Idul Adha, seperti kita.” Jawab Fadly.
Bukan ‘agak-kurang-sesuai’, tapi ‘enggak-banget’! Kalau saja Fitta tidak tahu bagaimana perjuangan Fadly mendapatkan restoran ini, itu lah kalimat yang ingin ia ungkapkan. Tapi Fitta tahu dari Meutia – adik Fadly, bahwa mereka berdua, hampir setiap sore sepulang kantor, sibuk mencari alternatif restoran pengganti. Jadi, ya apa boleh buat?
“Terima kasih ya…” akhirnya hanya itu yang sanggup keluar dari mulut kecil Fitta.
*
Kebaya pengantin sudah diambil tadi sore. Jahitannya agak kurang rapi. Mungkin pengaruh perombakan beberapa hari yang lalu. Fitta menggantungnya pada gantungan melingkar yang terletak di samping meja riasnya. Ia sendiri lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang.
Tak terasa buliran bening luruh satu demi satu dari mata bulatnya. Fitta kecewa. Fitta sedih. Kenapa semua ini harus terjadi pada pernikahannya? Menikah di restoran biasa saja, kebaya pengantin yang kurang bagus. Oke ralat, mending kalau cuma kebayanya saja. Fitta teringat saat fitting di tempat tante Iceu tadi. Salah seorang asistennya bilang, “Wah, calon pengantinnya montok, ya?”
Montok itu sama artinya dengan gendut, kan?? Fitta menyesali impulsivitasnya menghabiskan segala rupa makanan karena stress selama seminggu ini.
Terdengar ketukan di pintu kamar, membuyarkan lamunan Fitta.
“Neng, kata ibu makan dulu.” Suara Esih – pembantunya terdengar samara-samar.
“Nanti aja, belum lapar!” Fitta menjawab sekenanya. Sejujurnya, Fitta malah tidak lapar sama sekali. Ia membayangkan seekor gajah yang akan masuk ke dalam kebaya putih itu besok. Lalu gajah itu duduk di samping Fadly yang gagah dengan setelan jas hitamnya. Semua orang akan mencemooh, “Itu pengantin? Kirain mbok jamu!” Aaaarrrrghhh!!!
Oh Tuhan, bisakah pernikahanku dimundurkan barang satu atau dua bulan? Atau kumohon berikan sedikit sentuhan keajaiban agar semuanya berjalan sesuai yang kuimpikan. Hati Fitta menggumamkan kalimat itu berulang-kali.
*
Iring-iringan mobil pengantin meninggalkan mesjid menuju tempat resepsi. Fitta duduk bersebelahan dengan Fadly yang kini telah resmi menjadi suaminya.
“Lho, ini mau kemana?” Fitta keheranan saat sopir mengendarai mobil menuju arah Kuningan. “Bukannya resto yang kemarin itu di…”
“Sudah, tenang saja. Aku punya surprise buat kamu.” Fadly menggenggam tangan perempuan yang belum genap satu jam menjadi isterinya itu.
Beberapa menit kemudian, mobil memasuki sebuah apartemen mewah. Tampak rangkaian bunga bertuliskan nama ‘Fitta & Fadly’ di dalam sebuah lingkaran hati. Fitta berdecak kagum. Terima kasih atas keajaiban-Mu, yaa Tuhan! Fitta menatap Fadly lekat-lekat. Suaminya itu hendak memberikan sebuah kecupan di dahinya. Fitta mendekatkan diri pada Fadly dan memejamkan matanya perlahan…
“Fit, bangun! Itu tukang salonnya sudah datang!” Ada Mami di sampingnya, mengguncang-guncang tubuhnya. Fitta berharap Tuhan membuatnya pingsan saja!
*
Semua keluarga besar sudah berkumpul di dalam mesjid. Fitta duduk di samping Fadly – yang sesuai bayangannya – memang gagah di dalam balutan jas hitam. Sementara dirinya sendiri? Tak ubahnya seperti tong di dalam kebaya. Iiih menyebalkan! Seolah mengerti perasaannya, Fadly menatapnya dengan penuh kasih dan berbisik, “Everything’s gonna be allright, dear.”
Sebaris kalimat yang tidak begitu saja menepis berbagai kemelut di hati Fitta. Setidaknya satu kerisauan mengenai gambaran ‘Prince Charming and the Elephant’ yang akan dilihatnya pada berlembar-lembar foto pernikahannya kelak. Ugh, Fitta bertekad tak akan mencetak foto-foto pernikahannya dalam ukuran besar!
Tiba waktunya ijab qabul akan terucap. Fadly menatap wajah Papi, lalu dengan tegas mengucapkan,
“Saya terima nikahnya… Prambudi Utomo binti Arfitta Dyastari dengan mas kawin tersebut, tunai!”
Gelak tawa para kerabat membahana memenuhi ruangan mesjid. Rasanya semuanya sempurna untuk membuat Fitta betul-betul mau pingsan di hari pernikahannya.
]]>Yaah, memang sudah berdebu. Sekali lagi kupandangi teralis yang memagari jendela kamarku. Aku jadi teringat reaksi suamiku semalam saat melihatnya.
“Bunda, besok ada acara enggak?” tanyanya lembut, yang segera kujawab dengan gelengan kepala.
“Ayah mau ngajak jalan-jalan kemana memang?” hatiku mendadak berbunga-bunga.
“Tolong sempatkan mengelap teralis, ya?” Ia berbicara, tepatnya memintaku dengan gayanya yang khas, lembut, datar namun tegas. Aku memonyongkan bibir,
“Kirain mau ngajak pergi…”
“Hmm, gini deh. Kalau besok enggak ada pekerjaan mendadak di kantor, kita makan sate kambing Pak Atam, mau?”
“Asyiiik! Betul, Yah? Mauuuu!!”
“Nah gitu dong, jangan manyun. Begini kan lebih cantik…” ujar suamiku sambil menarik hidungku.
Dan kini, aku sudah siap dengan sebuah lap dan cairan pembersih. Setiap senti teralis mulai kubersihkan sampai mengilap. Fiuhh, ternyata kacanya juga sudah lumayan kotor. Aku pun segera mengambil lap lainnya.
“Andra, udah mama bilang jangan main tanah terus! Kotor, tauu!!” dari balik kaca kulihat Mbak Anik – tetangga seberang – sedang menjawil tangan anaknya yang baru berumur empat tahun itu dan membawanya masuk. Teriakan Mbak Anik tak lama kemudian disusul oleh suara kecil nan nyaring,
“Tapi kan Anda mau bikin gedung, kayak papa.”
“Iya, tapi jangan pakai tanah! Kamu tau enggak kalau di tanah itu banyak cacing! Gimana nanti kalau termakan?”
“Tapi kan tanahnya enggak Anda makan.”
“Selain cacing, juga banyak bakteri dan virus!”
“Baktei dan viyus itu apa?”
“Hewan-hewan yang sangat keciiil sampai enggak kelihatan, tapi bisa menularkan penyakit sama kamu. Mau?”
Brak! Pintu rumah depan ditutup. Membuatku tersadar untuk kembali pada pekerjaanku semula. Tapi eh, ternyata sudah bersih. Hmm, kurasa inilah bukti bahwa perempuan memang memiliki kemampuan membagi perhatian, he he he!
Tercium aroma harum dari dapur. Ah, itu pasti dari sup ayam di dalam panci. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul lima kurang seperempat. Sebentar lagi suamiku pulang. Aku bergegas mengambil handuk. Ya, aku selalu ingin tampil cantik setiap menyambutnya pulang kantor. Namun, baru saja aku menyalakan kran air untuk memenuhi kamar mandi,
“Jeng Fitra…” suara itu terdengar, disusul ketukan pintu yang tampak seperti orang terburu-buru. Mbak Anik! Ada apa, ya?
“Ya, mbak?” aku melihat wajahnya pucat.
“Punya Dettol?”
“Enggak. Untuk apa?”
“Ya bikin air bak jernih, dong! Masa buat diminum?”
“Emmh, saya enggak pakai tuh, Mbak.”
“Enggak pernah pakai?? Serius?? Waduuuh, jeng Fitra ini gimana, sih??”
Suara Mbak Anik terdengar panik seakan ucapanku barusan mengenai ‘tidak-pernah-pakai-dettol’ adalah sebuah kesalahan besar yang akan berakibat amat fatal bagi kesejahteraan umat.
“Tapi, bukannya air di kompleks kita ini sudah bening? Jadi saya pikir, enggak perlu.”
“Owalaahhh… Kuman dan bakteri itu mengancam di setiap sudut rumah lho, jeng! Kalau enggak hati-hati, kita bisa terkena berbagai wabah penyakit! Pasti jeng belum baca Koran hari ini. Puluhan balita terkena penyakit kulit karena sanitasi yang buruk! Waspada, jeng! Waspada!”
Aku hanya tersenyum. Enggan rasanya membela diri. Perkataan defensif kurasa hanya akan menggali segala bentuk fakta dan pemikiran yang lebih panjang dari wanita berambut ikal tersebut.
“Ah ya sudah, aku ke supermarket depan kompleks saja dulu. Tadinya kupikir jeng Fitra punya, jadi bisa kupinjam dulu untuk mandi sore ini.” Mbak Anik pun meninggalkanku dengan wajah kusut.
Malam harinya suamiku memenuhi janjinya. Ia mengajakku makan sate kambing Pak Atam, setelah sebelumnya menyingkap tirai dan memuji hasil kerjaku.
Kedai sate saat itu tampak tak terlalu penuh. Kami mendapatkan tempat yang bagus, di sebelah pojok dekat tangga. Aku sedikit bernostalgia. Dulu waktu masih kuliah (aku dan suamiku kuliah di universitas yang sama, namun beda jurusan), kami acapkali makan di sini dengan sistem ‘traktir gantian’, tergantung siapa yang baru dapat transfer uang saku atau gaji magang sana-sini.
“Jeng Fitraaa!” aku menoleh. Mbak Anik baru saja memasuki kedai.
“Sebentar ya, saya pesan dulu!” Ujar Mbak Anik. Seorang pelayan mengantarkan dua gelas teh hangat ke meja kami. Mas Dito-suami Mbak Anik dan Andro tampak sedang mencari tempat duduk yang kosong. Suamiku melambaikan tangan pada Mas Dito, menunjukkan bahwa meja di sebelah kami masih kosong. Pembicaraan khas bapak-bapak pun terdengar di telingaku.
Daripada diam, aku pun mencoba mengajak Andra mengobrol.
“Hai Andra, sudah kelas berapa sekarang?”
“Nol kecil, tante!”
“Woow! Sudah belajar apa saja di sekolah?”
“Belajar Iqra!” Andra tampak diam sesaat, lalu meneruskan omongannya, “Anda udah hafal surat Al Fatihah sama Al Ikhlas lho Tante Fita…” ucapnya cadel.
“Anak pintar!” pujiku sambil mengelus kepalanya yang ditumbuhi rambut ikal nan tebal seperti ibunya.
Sate pesanan kami tiba.
“Makan, Mas?” suamiku menawari Mas Dito.
Aku mengalihkan perhatian pada Mbak Anik, penasaran mengapa sudah selama ini ia belum bergabung juga dengan kami? Tampak Mbak Anik masih berdiri di samping pengipas sate. Entah apa yang ia bicarakan, namun kulihat pengipas sate itu sibuk memindahkan tempat pembakaran sate agak meminggir. Mbak Anik mengawasinya dengan seksama. Aku melambaikan tangan padanya sebelum memakan sate yang mengepul di hadapanku.
“Kok lama, mbak?” tanyaku saat Mbak Anik menghampiri keluarganya.
“Heran deh, Jeng… Kok tukang sate itu meletakkan pembakarannya menjorok ke jalan, ya?”
“Yaa, biar asapnya enggak memenuhi kedai.” Jawabku sekenanya.
“Iya siih, tapi coba bayangkan berapa banyak mobil dan motor yang lalu-lalang di jalan ini? Apa enggak takut kena polusi? Asap dari knalpot kendaraan bermotor itu kan terhisap saja sudah enggak baik, apalagi kalau menempel ke sate yang kita makan!”
Mbak Anik duduk, “Makanya tadi aku suruh aja pelayannya memajukan pembakaran ke samping kedai.
“Lho, apa enggak mengganggu toko di sebelahnya?”
“Ah di sebelahnya itu kan minimarket waralaba, tertutup pintu kaca dan ber-AC pula, jadi ya enggak apa-apa lah.” Ia menukas. Aku meneruskan makan.
“Minta kobokan enam, ya. Untuk cuci tangan sebelum makan dan sesudah makan. Jangan lupa setiap kobokan diberi jeruk nipis.” Pinta Mbak Anik pada pelayan yang mengantarkan satenya.
“Itu jeruknya di meja, bu.” Tunjuknya dengan sopan.
“Aduuh, sampeyan itu gimana?? Yang itu sudah berserakan begitu, pasti ada yang bekas pakai orang lain. Saya mau yang baru. Ada, kan? Jangan lupa dicuci dulu yaa…” Mbak Anik mencecar pelayan bertubuh pendek di depannya, yang hanya bisa manggut-manggut.
“Dia memang begitu.” Jawabku ketika suamiku menanyakan perihal Mbak Anik tadi di kedai sate. Aku meneruskan membersihkan muka dengan susu pembersih.
“Oya? Repot amat?”
“Ih, ayah enggak tahu, ya? Tadi sore aja dia nyalahin bunda waktu mau minta dettol, sementara dia tahu kalau bunda enggak pakai produk itu. Bunda dikira enggak waspada sama kesehatan!”
“Lah dia sendiri, waspada kok minta?”
“Enggak ngerti. Lebay deh!”
“Hah?”
“Lebay! Berlebihan…”
“Akh, bunda ini bisa saja.” Katanya sambil menarik selimut hingga sebatas perutnya. Tak lama kemudian terdengar dengkur halusnya.
“Aduuuh, ini tukang sampah kemana, sih?? Percuma tiap bulan bayar iuran sampah kalau sampahnya menumpuk begini!”
Jam setengah tujuh pagi aku mendengar pekikan Mbak Anik dari depan rumah. Kulihat dari jendela, ia tampak berkacak pinggang dengan raut muka yang sudah ditekuk sepuluh. Beberapa ibu-ibu yang melewatinya tersenyum padanya. Ada yang asal lewat, ada pula yang menyempatkan untuk mendengarkan keluhan Mbak Anik. Tadinya aku sama sekali tak berminat untuk bergabung, seandainya saja si Apin-tukang sayur langgananku tidak meneriakkan dagangannya. Teringat bahwa hari ini mau masak capcay, maka aku pun segera keluar rumah. Pemuda belasan tahun itu sudah menghentikan gerobaknya di depan rumah.
“Jeng Fitra, lihat nih… Tukang sampah hari ini absen!”
“Sakit kali, Mbak. Pak Rusdi kan memang sudah tua.” Ucapku.
“Aduh, kalau memang sakit mbok ya profesional sama pekerjaan. Dilimpahkan ke orang lain, kek. Kalau begini kan merugikan kita-kita, warga kompleks sini. Iya nggak?”
Aku menumpuk wortel di atas kol dan sawi. Apin memasukkan satu persatu sayuran yang kubeli ke dalam plastik hitam. Kutatap Mbak Anik,
“Baru hari ini kan, Mbak? Tunggu saja sampai besok atau lusa. Kalau masih enggak datang, baru kita lapor sama RT.”
“Lusa? Kelamaan! Bisa-bisa kita keburu kena penyakit pes!”
“Bukannya penyakit pes itu disebarkan oleh tikus, Mbak?”
“Oh…eh…Yaa, apa lah namanya… Pokoknya pasti banyak penyakit yang akan timbul kalau sampah menggunung!” katanya dengan geram.
Hari minggu sore. Aku dan suamiku baru saja pulang dari berakhir pekan di rumah Mama. Sementara kusiapkan teh susu favoritnya, terdengar ketukan di pintu. Suamiku membukakannya.
“Assalamualaykum, Bu Fitra ada?”
“Alaikum salam. Eh Bu Tanti… Ada tuh di belakang. Silahkan duduk.”
“Ah nggak usah, Pak. Saya buru-buru, mau ke rumah sakit. Itu sudah ditunggu ibu-ibu. Saya kesini cuma mau ngajak Bu Fitra, barangkali mau ikut menjenguk Bu Anik.”
“Memang Mbak Anik sakit apa, Bu?” tanyaku sambil meletakkan teh susu di meja.
“Sekujur tubuhnya terbakar.”
“Haah?? Kenapa??” aku terkejut mendengarnya.
“Si Apin yang lihat. Katanya waktu dia lewat kemarin, Bu Anik lagi bakar sampah di depan rumahnya. Beberapa menit kemudian saat si Apin menjajakan dagangannya di RT sebelah, terdengar teriakan Bu Anik. Rupanya api membesar dengan cepat dan Bu Anik sepertinya enggak sempat menjauh dari tempat sampah.”
“Astaghfirullah…” aku menggumam. “Ya sudah kalau begitu tunggu sebentar ya… Saya ikut! Eh, boleh kan, Yah?” aku menengok pada suamiku, yang menjawab dengan anggukan.
Di sebuah ruangan kelas dua rumah sakit Hasan Sadikin, kulihat Mbak Anik terbaring. Badannya yang sebelah kanan terbakar, tampak kulitnya mengelupas. Kontras sekali dengan kulit putih yang masih menyelimuti bagian kiri badannya.
Aku tersenyum padanya, juga pada Mas Dito yang tampaknya sudah melewatkan tidur malamnya demi menjagai istrinya.
“Jeng Fitra…” ucapnya lemah.
“Psst… Sudah enggak usah banyak bicara dulu, Mbak. Gimana keadaannya, Mas?”
“Dokter sudah memberinya salep dan obat-obatan lain.” Jawab Mas Dito. Sementara ibu-ibu silih berganti menghampiri Mbak Anik, aku menghampiri Andra yang tertidur di sofa di pojok kamar. Mas Dito membetulkan jaket yang menyelimutinya.
“Kok bisa sampai begitu, Mas?”
“Anik kurang sabar menunggu tukang sampah. Kemarin pagi saat saya masih tidur, Anik rupanya nekat membakar sendiri sampah di depan rumah. Tidak tahunya di tumpukan sampah itu ada botol cairan pembasmi nyamuk yang masih ada isinya. Begitu tersulut api, yaa meledak!” aku dan beberapa ibu yang menyimak keterangan Mas Dito mengangguk-angguk.
Jam besuk sudah habis. Kami berpamitan pada Mbak Anik. Saat tiba giliranku, aku mendekatinya dan menyentuh tangannya,
“Jeng… jangan!” suaranya parau.
“Eh, maaf… Sakit ya, Mbak?” Mbak Anik menggeleng. Aku keheranan dibuatnya.
“Salepnya masih basah. Habis ini langsung cuci tangan pakai sabun antiseptik ya. Nanti termakan…” senyum menghiasi bibirnya yang pucat.
Aku tersenyum. Ah Mbak Anik… Mbak Anik… Mrs. Clean yang satu ini memang selalu waspada
]]>Termasuk jodoh. Ya, item yang satu itu pun konon harus segera dikejar, agar tidak mendapat cap ‘tidak laku’. Ibuku yang usianya sudah menginjak lima puluhan itu seringkali bertanya,
“Kapan dong kamu menikah? Ibu sudah kepingin nimang cucu.”
“Iya, Bu, sabar. Menikah kan tidak mudah. Harus ada pasangan yang cocok dulu.” Begitu selalu alasanku.
Tapi ibu biasanya punya argumen selanjutnya,
“Makanya dicari dong yang cocok itu. Kalau kamu terus sibuk dengan pekerjaanmu, setiap hari pulang larut malam, mana ada yang mau?”
“Tapi Bu, pekerjaanku memang banyak, kok.”
“Ingat umurmu, Mar.”
Itu kalimat pamungkas yang biasanya diucapkan ibu jika aku masih saja ngeyel urusan jodoh: Umur! Dan kalimat itu memang terbukti ampuh untuk membungkam mulutku agar menutup perdebatan ini dengan ibu.
Umur. Umur. Umur.
Apa yang salah sih dengan umur? Bulan lalu aku baru saja berulang tahun yang kedua kalinya dari sweet seventeen. Ya, tiga puluh empat! Lalu, apa yang salah dengan jumlah umur tersebut? Aku toh, cukup menikmati melajang pada angka ini. Karirku di kantor lumayan. Teman-temanku masih cukup banyak yang melajang. Meski yaa, kalau mau pakai hitungan sih, memang lebih banyak yang sudah menikah dan punya anak. Tapi, apa masalahnya? Tidak semua teman-temanku yang sudah menikah, bahagia dengan pernikahannya. Beberapa bahkan sering curhat kepadaku perihal suaminya yang disinyalir berselingkuh, atau malah istri yang baru beberapa bulan menikah, sudah dingin di ranjang. Nah, pernikahan bukan jaminan hidup bahagia bukan? Tapi tentu saja ibuku tak berpendapat demikian.
Sebuah mobil elf terlihat memasuki kawasan parkir. Aku beranjak dari tempat dudukku.
“Yang itu mobilnya?” tanyaku pada penjaga tiket travel yang duduk di pojokan. Ia mengangguk. Aku segera mengemasi barang-barangku. Sekali lagi kuseruput Coca Cola yang terletak di mejaku. Di sampingnya ada dua kertas bekas pembungkus burger yang isinya sudah kuhabiskan sejak tadi.
Aku sudah berada di kursi nomor tiga mobil travel yang akan membawaku ke Bandung. Huh, sebetulnya sih aku pesan kursi nomor lima, yang di dekat kaca, agar bisa tidur nyaman di pojok. Sialnya, seorang ibu berambut keriting ngotot meng-klaim bahwa itu adalah nomor kursi yang dipesannya. Pengurus tiket dan sopir tidak bisa melarangnya. Aku? Kupilih mengalah, daripada harus mendengarkan ocehannya sepanjang perjalanan. Yaa, duduk di dekat pintu juga sepertinya tak terlalu buruk.
Mobil mulai melaju. Aku segera menelan obat anti mabuk. Eit, jangan berpendapat kalau aku suka mabuk di perjalanan, ya… Aku meminumnya sekedar agar bisa tidur. Maklum lah, aku sering mengalami sulit tidur belakangan ini, apalagi di dalam kendaraan, entah kenapa. Mataku pun sedikit demi sedikit mulai terpejam, diiringi oleh bau minyak angin yang menusuk. Hueks! Ini pasti perbuatan si ibu berambut keriting!
“Permisi, Dik, saya mau ke toilet!” kalimat dengan volume super keras itu kudengar di sela-sela tidurku. Aku pun terjaga. Ibu rambut keriting tampak sudah setengah berdiri di sampingku. Maka kumiringkan tubuhku, agar dia bisa keluar.
Aku melihat keluar kaca mobil. Tampak ada pom bensin dan beberapa restoran. Plang bertuliskan ‘Rest Area KM 57 Cipularang’ terlihat beberapa meter di hadapanku. Oh, sudah sampai tempat peristirahatan toh, pantas mobilnya berhenti. Ah lumayan, sudah tidur kurang lebih satu jam. Kuregangkan tubuhku untuk menghilangkan penat. Beberapa kursi penumpang tampak kosong. Mungkin semuanya kebelet pipis seperti si ibu tadi. Tapi sepertinya aku tidak. Ah ya sudahlah, mungkin lebih baik jika aku tidur lagi saja. Maka kupasang posisi yang sekiranya nyaman untuk kembali bermimpi. Hmm, sungguh hebat pengaruh obat anti mabuk pada tubuhku…
Namun tidurku kali ini tidak berjalan semulus yang pertama. Rasanya baru beberapa menit saja aku terlelap, saat terdengar ribut-ribut. Oh, ada apa lagi??
“Mobilnya mogok.” Begitu jawaban seorang perempuan muda yang duduk tepat di sampingku.
“Mogok? Travel besar begini bisa punya armada yang mogok?” tanyaku setengah tak percaya. Ya, travel yang kunaiki untuk mengantarku ke Bandung kali ini adalah rekomendasi kantor. Dan, bukan kali pertama aku mempercayakan perjalanan Jakarta-Bandung ku padanya. Sebelumnya, tak pernah ada kasus mogok.
“Maaf sekali Bu, Pak… Semuanya terpaksa harus turun.” Sopir travel yang sejak aku membuka mata tak kelihatan, kini muncul.
“Mau dibetulkan?” Tanya seorang penumpang yang duduk di kursi depan.
“Mobil ini mau diderek. Tapi tak usah khawatir, satu mobil cadangan sedang dalam perjalanan kemari.”
“Waduuh, bisa telat nih sampai Bandung!” gerutu seorang penumpang.
“Iya, padahal saya ada meeting penting!” timpal yang lainnya.
Satu demi satu gerutuan pun terucap dari semua penumpang, yang kalau tak salah hitung ada tiga belas orang, termasuk si ibu keriting. Dia sibuk memaki-maki travel tersebut.
“Huh, kapok aku naik travel ini! Enggak profesional!” ucapnya ketus, sambil mengipas-ngipas pakai majalah.
Aku melirik ibu itu dengan ketus. Ada tiga tipe perempuan yang sangat tidak aku sukai, pertama perempuan yang suka menggerutu tapi tak berbuat apa-apa, kedua perempuan yang bisanya cuma dandan dan terakhir perempuan dengan otak yang kosong, sehingga isi omongannya dangkal. Kurasa ibu ini mewakili ketiganya. Jadi daripada aku tertular virus ibu itu, kutinggalkan saja ia.
Ada beberapa restoran berjejer di rest area yang juga dilengkapi dengan mesjid ini. Tapi, aku belum lapar. Jadi kucari saja restoran yang sekiranya menyediakan kopi atau cokelat. Lumayan, untuk menetralisir efek mengantuk akibat obat anti mabuk.
Ada sebuah coffee shop kecil di antara restoran steak dan rumah makan sunda. Tampilan luarnya sih oke, hangat dengan warna-warna kayu. Aku membuka pintunya. Hmm, aku menghirup aroma pegunungan. Mungkin dari pengharum ruangan yang ditaruh dekat AC. Sejuk.
“Iced Cappuccino, satu.” Pesanku pada kasir yang mengenakan apron berwarna krem. Ia segera mengetikkan pesananku dan memberikan bill. Dua puluh ribu. Lumayan, lebih murah dari harga rata-rata café di Jakarta. Aku membayarnya, dan menunjukkan tempat dimana aku akan duduk.
Sengaja aku mengambil tempat di dekat jendela, agar bisa melihat proses perbaikan mobil travel yang tadi kutumpangi. Atau, mungkin saja mobil cadangan yang dipesan sudah datang, jadi kan aku tinggal kesana.
Minuman yang kupesan datang. Segera kuseruput, hmmh… segaaar! Terdengar bunyi lonceng. Ada pelanggan yang baru masuk. Seorang perempuan. Cantik. Eh, tidak sih. Tidak begitu cantik. Menurutku yang begini ini lebih tepat disebut manis. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, sedikit gemuk, tapi ah yaa! Ia memiliki lesung pipi yang mengapit hidung mancungnya. Sempurna! Secara garis besar, inilah tipe perempuan yang aku suka.
Perempuan itu menghampiri kasir, tampak memesan sesuatu. Ia tersenyum pada kasir di depannya. Ouwh, nilaiku padanya bertambah. Aku suka perempuan yang murah senyum terhadap pelayan. Menurutku, pastilah perempuan itu memiliki keramahan alami, yang tidak dibuat-buat. Betul lho! Tidak percaya? Mari kita buktikan. Tentu kalian sering melihat perempuan yang tersenyum pada teman-temannya, saudaranya dan pada orang yang lebih tua darinya, sebagai bentuk penghormatan. Tapi jika ia masih memiliki senyum untuk mereka yang kelas sosialnya lebih rendah, seperti pramusaji misalnya, sepertinya tak banyak.
Perempuan itu, ah… mari kita panggil dia Manis. Manis berjalan mencari tempat duduk. Dari sorot matanya, kulihat ia sedikit bingung menentukan tempat duduk. Kenapa ya? Apakah ia termasuk tipe perempuan yang sangat mengutamakan kenyamanan? Karena jika hanya tempat duduk yang dicarinya, masih banyak yang kosong, kok. Tapi kalau tempat duduk yang nyaman, memang sudah terisi semua. Yang di pojokan dengan view bagus, sudah kududuki. Yang di tengah dengan sofa paling empuk, juga sudah ditempati sepasang muda-mudi. Sebetulnya kursi-kursi yang diletakkan di teras juga enak sih, kalau saja ditempati pada sore hari. Sayangnya ini pukul setengah dua siang. Matahari yang bersinar terik, membuatnya sangat tak nyaman sebagai tempat menikmati secangkir kopi.
Hey Manis, di sini saja… Aku tak keberatan kok berbagi tempat denganmu! Aku menatap Manis dengan tatapan yang menyiratkan isi hatiku. Manis melihat ke arahku sambil tersenyum. Jantungku sedikit berlompatan. Senyumnya maniiiiis sekali! Yaa, meskipun akhirnya ia memilih sofa lain, bagiku tak masalah. Karena dari jarak dua meter, aku masih bisa menikmati senyumnya dengan sempurna.
Entah mengapa aku tak bisa melepas pandanganku dari Manis. Mungkin karena ia tak membosankan untuk dilihat. Menit-menit pertama, aku melihat Manis mengeluarkan ponselnya. Ia berbicara pada seseorang di ujung sana. Mukanya terlihat sedikit berkerut. Mungkin kekasihnya yang membatalkan janji. Oh yah, kekasih seperti itu memang menyebalkan, Manis. Aku tahu betul.
Menit-menit selanjutnya, saat minumannya sudah diantar, Manis terlihat sibuk membuka agendanya sambil sesekali menyeruput minumannya. Kurasa, ia pesan minuman yang sama denganku, Iced Cappuccino! Hmm, kebetulan yang bagus. Menurutku, sepertinya Manis adalah perempuan sibuk yang terbiasa bepergian kesana-kemari. Lihat saja tasnya, berukuran besar dengan detail yang simpel. Untuk seorang perempuan yang jarang bepergian, biasanya mereka tidak memiliki tas-tas seperti ini. Yaa, kecuali jika perempuan itu termasuk tipe korban mode yang mengikuti segala mode baru yang ada di majalah atau internet. Tapi kuyakin Manis bukan tipe perempuan seperti itu.
Manis menatapku. Oh tidak! Ia memergoki aku yang sedang terpana menatapnya. Aku jadi salah tingkah. Sesaat kubuka tasku, berpura-pura sibuk mencari sesuatu. Segera kuambil MP3 Player yang selalu kusisipkan di saku tas bagian luar. Kupasang earphone-nya, lalu aku ikut menyanyikan lagu pertama yang terputar di situ. Sometimes When We Touch milik Dan Hill mengalun lembut di telingaku.
You ask me if I love you…And I choke on my reply
I’d rather hurt you honestly…Than mislead you with a lie
And who am I to judge you…On what you say or do?
I’m only just beginning to see the real you
Menurutku ini lagu yang kurang tepat untuk mengiringi perasaanku hari ini. Aku toh tak akan bohong kalau aku menyukai Manis, itu juga kalau dia bertanya. Tak akan pernah juga aku menyakitinya, seandainya ia mengizinkan dirinya menjadi milikku…
Aduuh, kenapa pikiranku jadi melantur begini? Aapakah aku jatuh cinta pada Manis? Jatuh cinta pada pandangan pertama? Seperti remaja saja! Aku kan sudah tiga puluh empat! Mestinya cinta di usiaku lebih dipikir dengan matang dan penuh pertimbangan yang logis. Tidak terburu-buru dan impulsif seperti ini.
Aku kembali menengadahkan kepala. Kurasa Manis sudah tidak menatapku lagi. Ya, betul saja dugaanku. Manis kini tengah sibuk membaca majalah. Ia membuka-buka halamannya. Kadang cepat, kadang baru dibalik setelah beberapa menit. Gaya membacanya hampir sama denganku. Melewat halaman yang tidak menarik dan terpaku pada halaman yang menarik. Tapi ah, manatau ia melewatnya bukan karena tak menarik, tapi karena sudah membacanya.
Aku sudah mulai bisa menguasai perasaanku lagi. Sudah bisa bersikap biasa. Tidak berpura-pura menyanyi untuk menutupi salah tingkah akibat perasaan yang bergejolak tak menentu. Manis… Manis… Bisa saja kau membuatku begini.
Lama-lama aku mulai menyadari sesuatu. Manis mengingatkanku pada seseorang di masa lalu. Bukan karena wajahnya yang mirip. Tapi lebih pada kemiripan sikap. Kemiripan gerak-gerik. Ya, tingkah laku Manis mirip dengannya.
Kirana. Di mana ya gadis itu sekarang? Terakhir aku bertemu dengannya mungkin sekitar enam belas tahun yang lalu, saat kami sama-sama masih mengenakan seragam putih-abu. Kirana yang cantik. Kirana yang sibuk. Kirana yang ramah. Kirana yang penuh perhatian dan setia kawan. Kirana yang apa adanya. Kirana yang… kucium bibirnya untuk pertama kalinya, sesaat setelah ia menumpahkan segala keluh kesahnya padaku mengenai perselingkuhan ayahnya dengan perempuan yang hanya lebih tua dua tahun darinya.
Saat perpisahan sekolah adalah kali terakhir aku melihatnya. Kirana dalam balutan kebaya warna hijau yang cantik, hingga membuatku nyaris tak mengenalinya. Waktu itu dia bilang, mamanya mengajaknya ke Australia, untuk melanjutkan sekolah di sana. Entahlah, aku tak sempat bertanya lebih banyak, bagaimana kelanjutan pernikahan orangtuanya. Saat itu jiwa remajaku hanya mampu menggenggam jemarinya dan mendoakan semoga ia sukses. Itu saja.
Aku kembali menatap Manis. Minumannya sudah habis. Ia terlihat membereskan agendanya. Sepertinya ia hendak meninggalkan café ini. Aduh, aku belum sempat berkenalan. Bagaimana ya? Apakah aku menghampirinya begitu saja, lalu menanyakan namanya, atau terus tersenyum dan berharap ia mengajakku berkenalan lebih dulu?
Manis berdiri. Tidak… tidak! Jangan pergi dulu! Aku pun segera membereskan MP3 Playerku. Aduh, gara-gara terburu-buru, aku malah menjatuhkannya. Sial! Setelah kudapatkan MP3 Player tersebut, aku segera mengangkat kepala. Betapa terkejutnya aku, karena ternyata Manis sudah berdiri di samping mejaku. Jantungku semakin berlompatan tak karuan. Manis tersenyum. Ia membuka mulutnya,
“Mbak Marlita Adriana, kan? Penyiar In The Morning-nya Green FM?”
“Iy… Iya…” aku mengangguk cepat-cepat. “Kok tahu?”
“Ah rasanya semua pendengar radio di Jakarta tahu Mbak, kok. Oya, saya Vina.” Manis mengulurkan tangannya. Aku menggenggamnya dengan hangat.
“Mari Mbak, saya duluan ya.” Ucapnya lembut.
Aku hanya bisa mengangguk mengiringi kepergiannya.
]]>
Pritha Khalida
Sekali lagi aku mematut-matut diri di hadapan cermin berukuran satu meter yang terpasang pada lemari kayu di sudut kamarku. Disana kulihat ada pantulan seorang gadis remaja yang tampak serasi sekali dengan kemeja putih dan rok abu-abu. Hmmh, menurutku sih rok sepanjanglima senti di bawah lutut ini agak kepanjangan. Mestinya
“Aura, cepat sarapan! Katanya mau pergi bareng Ayah. Sudah hampir jam tujuh nih!” terdengar seruan bunda dari ruang makan.
“Iya Bun, sebentar lagi. Tanggung niih!”
Kemeja putihnya kukeluarkan agak banyak, biar tak terlihat seperti anak SD yang baru masuk sekolah. Nah iya, begini…Lalu kuoleskan sedikit pelembap bibir…Ya! Rasanya sempurna. Urusan rok yang masih kepanjangan, tak apa lah. Nanti kalau gaung Masa Orientasi Siswa sudah selesai, akan kupotong sedikit.
“Pagi Bundaaa…”
Bukannya menjawab sapaanku, bunda malah mengendus-ngendus badanku.
“Ada apa sih, Bunda? Kok kayak si Bleki aja main endus?”
“Hush, sembarangan kalau ngomong! Kamu itu pakai parfum satu liter ya, Ra? Kok wangi betul, sih?”
“Enggak ah, secukupnya aja kok. Mungkin aku emang udah wangi dari sananya, Bun.” Segera saja aku duduk dan menyendok nasi goreng yang sudah disiapkan bunda pagi itu.
“Bukan begitu. Apa nggak dimarahi guru, nanti? Masa anak sekolah wanginya kayak mau ke pesta?” “Aduuh, memang kalau pakai wewangian itu khusus untuk ke pesta aja, ya? Ayah kalau jum’atan kan pakai parfum juga.” “Iya, tapi…” “Sudahlah Bun, biarkan saja. Kan lebih baik begitu daripada Aura bau kambing, hahaha!” seloroh ayah. Aku memonyongkan bibir ke arah ayah. Sambil diam-diam dalam hati kuucapkan terima kasih juga padanya. Hebat! Ayah memang selalu menjadi pembelaku jika bunda sudah mulai kumat cerewetnya. “Ayo, Ra…” ajak Ayah sambil menenteng tas kerjanya.
“Bun, Aura pergi yaa…Assalamualaikum!”“Wa alaikum salam. Hati-hati, Ra!”
Pagi itu aku pergi ke sekolah membonceng motor ayah. Lumayan, menghemat ongkos angkot. Jarang-jarang bisa begini. Biasanya kan ayah baru pergi jam tujuh lebih tiga puluh.
“Yah, berentinya jangan pas di depan sekolah yaa…” pintaku mencolek bahu ayah.
“Kenapa? Kamu malu ya cuma diantar pakai motor?”
“Haduuh ayah ini. Aku kan pakai rok, susah turunnya. Kalau pas di depan gerbang, nanti pahaku kelihatan sama semua orang. Ayah mau?”
Ayah hanya terkekeh menanggapiku.
“Makanya jahit rok itu jangan terlalu sempit dong, Ra.” Begitu saran ayah setelah aku berhasil turun dari motor.
“Aduh segini sih belum seberapa, Yah. Masih banyak kok yang lebih ketat dari aku. Ini namanya mode. Nah, gaya kan?”
kembali aku mematut-matut rambutku di kaca spion.
“Gaya, tapi bikin repot. Sudah sana, tuh belnya sudah bunyi.”
Sesegera mungkin aku mencium tangan ayah, melambaikan tangan dan menghilang di antara kerumunan teman-temanku.
Melangkah di koridor sekolah terkadang membuatku sebal. Pasalnya, koridor sekolah di pagi hari berfungsi layaknya etalase yang menjual barang dagangan. Bedanya, yang ‘dijual’ di sini bukan barang-barang seperti di toko, tetapi etalase koridor sekolah menjual pasangan-pasangan yang sedang mengobrol berduaan. Apalagi kalau ada yang punya pacar keren, seolah-olah di jidatnya tertulis kalimat mengejek, “Aku Punya Pacar Keren, Kamu?”
Yaa, bilang saja aku iri. Memang demikian adanya. Aku iri sama teman-temanku yang sudah punya pacar. Jangan dulu punya pacar deh, minimal ada yang naksir saja. Dapat bunga, dapat sms-sms mesra, boneka, atau cokelat. Kan aku juga mau!
Coba lihat! Menurutku, penampilanku sudah keren, wangi dan badanku pun tidak gendut. Sebagai tambahan, otakku tergolong encer. Tapi kenapa sih cowok-cowok di sekolah ini tidak satupun yang naksir aku? Temanku yang penampilannya biasa-biasa saja, ada yang suka. Kenapa aku tidak? Hhh, jangan-jangan murid cowok di sekolahku sebetulnya bermata rabun semua…
*
“Ra, maaf ya nanti kita nggak bisa pulang bareng.” Bisik Mawar di sela-sela pelajaran biologi.
“Kenapa?”
“Aku mau jalan dulu sama Ardi.” Mawar tampak berseri-seri. Pipinya bersemu meraah sekali, seperti tomat. Aku mengangguk saja.
Dan seperti beberapa siang sebelumnya. Aku kembali menyusuri jalan menuju rumah sendirian. Sambil sesekali menyelipkan doa di dalam hati, ‘Tuhan, sudikah kiranya Engkau memberiku pacar barang seorang saja?’
BLETAK! Sebuah batu kecil mengenai betisku, terpental dari mobil yang melaju cepat di jalanan.
“Heh! Gak punya mata ya?! Hati-hati dong kalau bawa mobil!” aku berhenti sejenak, berjongkok memerhatikan betisku yang memerah. Untung tidak luka. Kalau sampai luka memar sedikiit saja, kusumpahi pengemudi mobil itu supaya masuk nerak…
“Hai, kamu tidak apa-apa?” seseorang menyapaku. Suaranya lembut.
“Ummh…tid…dak apa-apa, kok…”
Bohong! Betisku sebetulnya sakit. Tapii…, bagaimana mengatakannya yaa? Orang yang menanyaiku itu, ternyata si pengendara mobil yang tadi ngebut. Dan dia itu…ummmh…keren! Percaya atau tidak, rasanya betisku agak berkurang sakitnya setelah melihatnya.
“Rumahmu jauh?”
“Suu…dah dek…kat.” Aduduuh, kenapa aku mendadak gagu begini sih?!
“Ayo, kuantar.”
Aku masih mematung di hadapannya. Oh Tuhan, tolong gerakkan kakiku. Jangan biarkan aku tampak norak di hadapan cowok keren ini. Tapi rupanya, kali ini Tuhan sedang tak berkenan mengabulkan doaku.
“Namaku Bayu. Aku nggak bakalan menculik kamu, kok. Hitung-hitung sebagai permintaan maafku, yuk kuantar.” Ajaknya sekali lagi. Dan kali ini aku tak kuasa menolak ajakannya.
Aku berada di mobilnya. Sejuk. Tentu saja, karena aku membandingkannya dengan trotoar tanpa pohon peneduh yang biasa kususuri setiap pulang sekolah. Sedikit berkhayal, aku sempat memikirkan bagaimana kalau cowok inilah yang menemani hari-hari pagiku di koridor sekolah? Lalu sudah terbayangkan puluhan pasang mata yang berbalik iri memandangku. Rasakan! Hihihii…
“Yang cat putih itu rumahku, Kak.”
“Aah, jangan panggil kakak. Bayu saja.” Ia menepikan mobilnya.
Bukannya menyegera turun, aku malah diam saja. Bayu memandangiku. Ayo doong, ayoo…Jangan ragu-ragu…ucap hatiku.
Ya! Aku berharap Bayu mengatakan sesuatu di sini, saat ini. Khayalanku kali ini tak berlebihan. Minimal, dia minta izin untuk sering-sering mampir saja sudah cukup untukku.
Aku menoleh ke arah Bayu. Dia terlihat sibuk memasang kunci ganda pada kemudi. Ah, mungkin justru dia mau mampir?? Oh la laa, senangnya. Bayu memang jantan. Baru ketemu satu kali saja, ia sudah berniat menemui ibuku. Waduuh, mesti bilang apa ya sama bunda? Apakah aku bilang saja bahwa Bayu itu cowok yang kutemui secara tidak sengaja karena tragedi batu yang mampir di betisku? Atau, kubilang langsung bahwa ia calon… Hush berlebihan! Masa baru sekali ketemu sudah jadian? Jangan doong…Kan aku mau proses yang lengkap, mulai dari naksir-naksiran, sms-sms mesra, dan akhirnya menyatakan cinta dengan cara yang romantis seperti di film.
“Sudah sampai.” Ia menyadarkanku dari lamunan.
“Oh…eh…ummh…” Aduh, masa ia tak mengerti, sih? Turun duluan dong, bukakan pintu untukku.
“Kakimu masih sakit?”
“Sed…sedik…kit…”
Bayu masih diam saja. Aku yakin ia salah tingkah. Mungkin ia juga sedang bingung memikirkan apakah pantas menggendongku untuk menebus kesalahannya mementalkan batu ke betisku…
“Aura…”
“Ya…” aku menjawab pelan. Ups! Seingatku bahkan aku belum menyebutkan namaku padanya. Kok ia bisa tahu yaa? Jangan-jangan, ia sebetulnya sudah lama naksir aku diam-diam??
“Ummh, sebetulnya aku…”
Mau minta aku jadi pacarmu? Aduuh, jangan sekarang dong. Kan kurang seru. Masa baru bertemu beberapa menit sudah langsung menyatakan cinta?
“Aduh, aku jadi nggak enak nih bilangnya.”
“Nggak apa-apa, bilang aja.” Ujarku dengan kepercayaan diri yang diset setinggi mungkin. Padahal sih, jangan ditanya, jantungku dari tadi sudah lompat-lompat! Sekujur tubuhku sudah dipenuhi keringat.
“Maaf ya, sudah bikin kakimu sakit. Tapi, aku nggak bisa lama-lama kali ini.”
Kali ini? Berarti lain kali bisa dong?! Hatiku bersorak tak karuan.
“Gak apa-apa. Mau kemana memang? Kuliah?” tanyaku sok dewasa dan sok pengertian.
“Bukan.”
“Lantas?”
“Pekerjaanku belum selesai.”
Owh, hebatnya! Rupanya dia bukan sekedar mahasiswa yang mengandalkan uang orangtua. Diam-diam aku makin salut pada Bayu.
“Kerja di mana?” tanyaku lagi.
“Di…” ponsel Bayu tiba-tiba berbunyi.
“Iya…saya sedang di jalan, Pak. Iya, mungkin sekitar sepuluh menit lagi saya sampai. Selamat siang, pak.”
“Aura, aku harus pergi sekarang. Yang punya mobil sudah menelepon.”
“Memangnya, ini mobil siapa?” aku mulai bingung.
“Pak Hermawan.”
“Siapa dia?”
“Orang yang punya mobil ini, dan mereparasinya di bengkel tempatku bekerja.”
Seketika keeping-keping hatiku luluh-lantak. Khayalan akan sms-sms mesra, pamer pacar di koridor sekolah pagi-pagi, pernyataan cinta yang romantis…Semua terbang satu-persatu. Berganti dengan tumpukan LKS dan pe-er yang selalu setia menantiku setiap pulang sekolah, bahkan di malam minggu sekalipun!
Bayu…oh…Bayu…
]]>
Pritha Khalida
“Haatsyi!” untuk kesekian kalinya aku bersin pagi ini. Ergh! Ini pasti gara-gara peliharaan gadis sok ‘pintar-cantik-lugu’ itu.
Namanya Rayya. Dia adik tiri yang baru saja kudapatkan setelah Papa menikah lagi sama tante Renata. Umurnya enam belas, tepat satu tahun di bawahku. Tapi karena dia pernah masuk kelas akselerasi, jadilah di sekolah kami satu kelas (uh, seandainya Papa berpikir lebih panjang untuk tidak memindahkan sekolahnya. Menikahi ibunya nggak berarti mempersatukan anak-anaknya jugakan?)
Semua orang pasti mengira kalau aku iri padanya. Biar kujawab, IYA. Bagaimana tidak? Begitu sampai di rumah ini, Papa langsung menyuruhku pindah ke kamar belakang, sementara ‘Nona Rayya’ menempati kamar lamaku. Sebagai tambahan, aku mesti selalu mengajaknya kemanapun aku pergi. Mesti lah kami belajar sama-sama, makan sama-sama, dan merasakan segala perasaan sama-sama. Anehkan papaku? Dan yang paling aku benci, Papa mengizinkan gadis itu memelihara kucing di rumah ini. Padahal Papa tau persis kalau aku fobia pada binatang berbulu! Mending kalau cuma seekor, ini sih tujuh ekor! Sekalian saja ubah rumahku jadi tempat penampungan kucing. Menyebalkan!
Rayya tau kalau aku tidak setuju terhadap idenya untuk memelihara binatang di rumah ini. Tapi waktu itu dia menggunakan strategi ‘memelas-memohon perlindungan’ padaku untuk membolehkan kucing-kucingnya tinggal bersama kami. Bahkan dia juga berjanji bahwa aku boleh mengusir kucingnya seandainya seekor saja menggangguku. Pintarnya si sok lugu itu memohon di depan Papa. Membuatku tak punya pilihan lain kan?
Hari demi hari berlalu. Rayya memang menepati janjinya. Kucing-kucingnya tidak dibiarkan berkeliaran di dekat kamarku. Tapi yaa ampun, bulu-bulu kucing yang terbawa oleh angin itu selalu membuatku bersin.
“Ya, kenapa sih kamu kayak yang cinta mati sama kucing-kucing itu?” tanyaku padanya suatu hari, saat kami sedang menonton tivi.
“Mmhh…kenapa ya? Aku sendiri nggak tahu, Kak Lyt. Mungkin karena mereka itu binatang-binatang yang lucu. Aku pelihara mereka rata-rata dari bayi. Coba Kak Lyt bayangkan, melihat anak kucing sejak mereka baru lahir, mengamati pertumbuhannya dari hari ke hari…Semuanya membuatku sayaaang sekali sama mereka. Seolah-olah aku tak akan bisa hidup tanpa mereka, deh!”
Yaiks, benci deh aku melihat gayanya yang sok manis dan penyayang itu. Berlebihan! Bahkan di mataku terkesan palsu!
Seekor kucing mendekati kami.
“Gyaaa!!!” teriakku sambil spontan melompat ke atas sofa. Jelas aku kaget setengah mati. Dari jarak beberapa meter, ia sudah terlihat bagaikan monster yang akan menerkamku, dengan terlebih dahulu menebarkan kutu-kutu yang bisa bikin kulitku gatal-gatal, selanjutnya masuk ke aliran darahku, dan wuuzz…menghilangkan nyawaku.
Bilang aku berlebihan. Tapi, bukan salahku dong kalau aku fobia terhadap binatang berbulu. Aku sendiri nggak tau sebabnya. Tapi yang jelas, jika selama ini aku selalu berhasil menghindari mereka, kenapa sekarang tidak? Memberi kesempatan untuk dikalahkan oleh kucing-kucing sial itu? Nanti dulu…
“Aduhh Kak Lyta, jadi balik lagi deh si Sasha. Kayaknya dia ketakutan mendengar jeritan kakak.” Gumam Rayya sambil menyusul kucing berbulu putih-cokelat itu keluar rumah.
“Dia yang bikin aku kaget, tahu!” makiku jengkel.
Hhh, lebih baik aku kembali ke zona nyaman, yaitu kamarku. Kumatikan tivi di ruang tengah. Sebelum memasuki kamar, aku mengelap terlebih dahulu pegangan pintu kamarku dengan tisyu basah yang selalu kubawa di dalam saku bajuku. Rayya sering sekali masuk ke dalam kamarku untuk pinjam barang atau numpang tidur kalau AC di kamarnya rusak. Jadi, pastilah sedikit banyak tangannya pernah menempelkan bulu-bulu kucingnya di pegangan pintu kamarku. Jadi, wajarkan kalau aku menyiapkan tindakan preventif dengan membersihkannya? Aku tidak mau ambil resiko tertular virus dari binatang berbulu, apapun jenisnya.
*
Sore hari, aku baru pulang dari sekolah. Rasanya kerongkonganku seperti terbakar. Haus. Kuputuskan untuk langsung ke dapur tanpa mencopot sepatuku terlebih dahulu. Air di dispenser pun segera berpindah ke dalam mug bertuliskan namaku yang besar. Aku menggeser kursi di ruang makan. Papa selalu bilang tak baik minum sambil berdiri, seperti orang yang tak menghargai pemberian Tuhan katanya.
“Aaaaarrrrggghhh!”
“Praaaaaaaaaang!”
“Meeoooooong!”
Nyaris bersamaan tiga suara gaduh itu terdengar di ruang makanku. Wajahku terasa dingin sekali. Jantungku berdetak kencang. Seluruh badanku gemetar.Setengah berlari Tante Ren menghampiriku dengan alat catok rambut di tangan kanannya,
“Ada apa, Malyta?”
“A…ad…da SET…TAAN.” Jawabku agak gugup, namun menekankan kata setan.
“Aduuh itu si Valya sampai sembunyi di pojokan. Pasti tadi dia ketakutan mendengar suara barang pecah. Sini sayaaang…” tante itu serta merta beralih pandang, dariku menjadi ke arah kucing putih kecil basah kuyup yang meringkuk di pojokan bawah wastafel. Ia lalu menggendongnya dan menciuminya seolah makhluk itu adalah seorang bayi kecil mungil yang baru saja dilahirkannya.
“Omiiing…tolong dong itu beling di ruang makan dibersihkan! Nanti ada yang luka, lagi.” Teriaknya memanggil pembantu kami. Ia lalu meninggalkanku tanpa peduli sedikitpun.
Aku masih mematung di samping meja makan. Berharap bahwa yang barusan itu mimpi. Sementara kulihat Oming mulai memunguti beling berukuran besar, menyapu yang kecil, dan mengelap serbuk beling pelan-pelan.
“Permisi, neng Lyta…” ujarnya menyadarkanku bahwa ini bukan mimpi.
Aku bergeser tanpa bicara apapun, memandangi mug porselen kesayanganku, hadiah ulang tahun dari almarhumah Mama tiga tahun yang lalu.
*
Malamnya Rayya tidak mau makan. Tante Ren bilang, dia sedih karena si Valya-kucingnya terlihat murung sejak siang.
“Rayya memang begitu, Mas. Dulu saja waktu Hansel mati, dia tidak mau makan berhari-hari. Sejak kecil dia pecinta kucing. Sepertinya kucing-kucing itu sudah menjadi sebagian dari nyawanya.”
“Hoekk!” aku tersedak. Sungguh, kalimat itu benar-benar tidak penting untuk terdengar di telingaku.
“Tapi nanti dia bisa sakit. Ayolah bujuk supaya makan sedikit saja.” Ucap Papa sabar.
“Nanti aku coba lagi.” Ujarnya sambil menyendokkan sup ke piring Papa
“Atau, bagaimana kalau Lyta saja yang ajak Rayya makan. Mungkin kalau sama kamu, dia terhibur.” Bujuk Papa.
“Oh iya, betul! Hitung-hitung permintaan maaf karena tadi Lyta sudah membuat kaget Valya. Maukan Lyta? Tante mohon yaa?” kali ini Tante Ren memandangku dengan tatapan yang dibuat menyerupai malaikat.
“APA? BIKIN KAGET? Tante pikir aku sebegitu nggak punya kerjaan lantas NGAGETIN KUCING SIAL itu?” semburku kesal.
“Lyta, apa-apaan sih? Kalau memang salah, ya cepat minta maaf. Masa sampai diminta saja nggak mau?”
“Enggak
“Ayo sana, minta maaf sama Rayya, ajak dia makan sama-sama kita, baru kamu boleh melanjutkan makanmu.” Kali ini suara Papa tegas. Artinya: tak bisa dibantah, apalagi diabaikan.
Kuketuk pintu kamar Rayya, setelah tak lupa sebelumnya mengelap pegangan pintunya dengan tisyu basah andalanku. Hhh, ini pasti sarang virus!
“Masuk saja kak Lyt, nggak dikunci kok pintunya.”
“Ada kucing nggak di dalam?”
“Nggak, mereka semua sudah Aya simpan di gudang.”
Akupun masuk, melihat kanan-kiri. Yaa, barangkali saja masih ada seekor yang lupa dikeluarkan olehnya.
“Nggak ada, Kak. Mama nggak mengizinkan aku simpan kucing di lantai dua. Takut masuk kamar kakak nantinya.” Rayya menghilangkan keraguanku.
“Ya, makan gih. Kenapa sih cuma gara-gara kucingmu nggak mau makan, lantas kamu ikut-ikutan mogok makan begitu? Nggak masuk akal deh, Ya…”
“Oming bilang, mug kesayangan kakak pecah ya gara-gara Valya? Maafkan Valya ya, kak…” ujarnya ketakutan.
Aku mengangguk. Bagus deh, kurasa Rayya lebih tahu diri daripada ibunya.
“Kakak nggak bakalan mengusir kucing-kucingku, kan?”
“Asal kucing-kucing itu nggak berkeliaran di dapur. Kamu bisa jamin, nggak?” tegasku.
“Aku janji. Apapun maunya kak Lyta, aku penuhi. Asal jangan sampai kakak usir kucing-kucing aku. Aku sayaaang banget sama mereka. Ya kak? Aku mohon…”
“Ya sudah, sekarang makan dulu. Akukan lapar. Gara-gara kamu, makanku jadi terhenti.” Nada kesal masih menguasai suaraku. Aku tak peduli. Kalau aku ramah, bisa-bisa nanti dia merasa dikasih hati, lalu minta jantung lagi…
*
Kalau kalian menduga permusuhanku dengan kucing-kucing sial itu berakhir sejak tragedi pecahnya mug kesayanganku, berarti kalian SALAH BESAR. Aku sendiri tidak tahu mengapa. Tapi sejak saat itu Rayya malah terkesan seperti menantangku.
Beberapa hari yang lalu kaus kesayanganku bolong. Aku memarahi Rayya, karena kupikir salah seekor kucingnya lah yang membuat ulah seperti itu. Yaa, bisa sajakan kausku digigiti, atau dicakar? Itu kebiasaan kucing, bukan? Tapi Rayya dengan gagah berani membela kucingnya. Katanya, bolong di kausku itu pasti karena digigit tikus sewaktu dijemur. Hahh?? Memang ada tikus yang bisa lompat-lompat ke jemuran? Lagipula setahuku, di rumah ini belum pernah ada tikus. Tapi Papa membela Rayya. Katanya, aku tak boleh menuduh kucing-kucingnya sembarangan, tanpa bukti. Hhh…sudah kayak sidang pengadilan saja!
Minggu ini jumlah kucingnya bertambah banyak. Entah karena ada yang baru lahir, atau Rayya memungutnya dari parit, aku tak tahu pasti. Yang jelas, anak-anak kucing itu punya tempat terhormat di dalam keranjang berlapis bantal di kamar Rayya. Sempat aku mengingatkan Rayya mengenai janjinya untuk tidak menaikkan kucing ke lantai atas. Tapi apa kata Rayya? Ia malah beralasan bahwa kucing-kucing itu masih bayi, takut dimakan sama kucing jantan dewasa. Ahh, masa sih ada aturan kayak begitu di dunia kucing? Aku tak tahu, juga tak percaya. Jadi kupikir, pasti Rayya mengada-ada. Tapi ahh, kubiarkan saja. Daripada nantinya urusan jadi panjang sampai ke kuping Papa??
*
Pada malam harinya terdengar berisik suara anak kucing dari dalam kamar Rayya. Aduhh! Makanya kubilang juga, satukan saja mereka sama induknya, biar disusui. Jangan-jangan adik tiriku sudah gila dengan berpikir bahwa dia bisa menyusui anak-anak kucing itu melalui payudaranya. Terlalu! Rasanya kali ini kemarahanku sudah mencapai puncaknya.
“Ya, lu udah gila ya? Cepat keluarkan kucing-kucing sial itu. Simpan lagi di garasi, atau gue racun mereka!” teriakku lantang dari depan pintu kamar Rayya. Kata ganti yang kupakai pun sudah berganti dengan gue-lu, bukan aku-kamu lagi seperti biasanya. Sekarang aku sudah tidak peduli lagi sama campur-tangan Papa. Rasanya ini hakku untuk memperoleh kenyamanan tidur.
Rayya tak menjawab. Kudengar ia berusaha membujuk kucing-kucingnya agar berhenti mengeong. Tapi, usahanya gagal. Suara mereka malah makin kencang saja. Oh Tuhan!!
“Rayya, BUKA PINTU CEPAT!”
Terdengar langkah-langkah terburu-buru di tangga. Papa sama tante Ren. Biar saja mereka marah. Waktunya bagi mereka untuk memahami, bahwa aku sudah betul-betul TERGANGGU.
“Lyta, ini kan sudah malam. Kenapa sih mesti teriak-teriak?”
“Papa terganggu sama teriakanku? Tapi masih bisa tidur nyenyak dengan berisiknya suara kucing-kucing sial itu? Hebat yaa?” ucapku sinis.
“Ssstt…nggak enak didengar tetangga.”
“Biar saja mereka dengar. Paling-paling mereka juga mau complain sama Papa karena nggak bisa menanggulangi keributan yang ditimbulkan sama peliharaan anaknya.”
Papa dan tante Ren kali ini ikut mengetuk kamar Rayya.
“Yaa, izinkan mama masuk ya?” tante Ren membujuk Rayya.
“Cuma mama tapi?” suara Rayya terdengar pelan.
“Nggak! Tapi sama gue, sekalin bawa bulldozer buat MATIIN piaraan-piaraan lo yang GANGGU BANGET itu.”
“Lyta masuk kamar!”
“Tapi
“Biar tante Ren yang bereskan semuanya. Kamu MASUK KAMAR.”
“Awas ya, kalo besok tuh kucing-kucing masih kedengeran suaranya, gue mampusin, Ya!” ancamku.
Aku kembali dan memaksakan diri tidur di antara suara bising yang betul-betul kubenci itu. Aku bersumpah, kalau besok Rayya tak menyimpan anak-anak kucing itu ke garasi, akan kuracuni mereka, bagaimanapun caranya.
*
Hari ini, 1 November 2007. Hari ulang tahunku yang ke delapan belas. Seperti biasa, aku selalu senang membuka berbagai kado yang kuterima. Mengocok-ngocok kado untuk mengira-ngira isinya, selalu menjadi ritual menyenangkan untukku.
Tapi ternyata tahun ini, aku tak mendapat kado yang terbungkus kertas kado warna-warni. Cuma warna putih. Ya, pembungkus kadoku tahun ini semuanya berwarna putih. Coba kuhitung, ada sebelas bungkus kecil-kecil, ditambah dengan satu bungkus besar yang sama ukurannya dengan tubuhku. Senang sekali aku, khusus tahun ini banyak orang yang datang untuk merayakan ulang tahunku. Lihat, di sudut sana ada nenek, lalu tante Riska, Tante Vonie, Om Hendra…Yaa, banyak juga pihak keluarga Tante Ren yang datang. Rasanya ini pesta ulang tahunku yang paling meriah!
Tapi, sebagian dari mereka menangis. Kenapa ya? Ahh, mungkin karena terharu menyadari bahwa aku sudah dewasa.
Kado-kadoku dimasukkan ke dalam tanah oleh beberapa orang tetangga. Ah yaa, aku tahu…pasti biar aman dari pencuri. Tak apalah. Semua orang kembali menangis saat bungkus kadoku yang terbesar dimasukkan.
“Pembunuh! Kamu membunuh Rayya hanya karena membenci kucing-kucingnya. Sampai hati! Sudah gila kamu, Lyta! Penjarakan diaaa!!” tuding tante Ren kepadaku.
Apa katanya? Pembunuh? Ada-ada saja. Memang aku tak ada pekerjaan lain? Aku
Pritha Khalida
Bruk!
Aku melemparkan map yang berisi file proposal skripsiku yang sudah penuh dengan tulisan bertinta merah-perbaikan dari dosen pembimbingku yang super-perfeksionis itu. Mesti kembali hari senin jika ingin seminar semester ini, begitu pesan dosenku sebelum kami berpisah di lorong kampus tadi.
Kerjaan bertambah lagi… Artinya, aku kembali nggak punya cukup waktu untuk hang out sabtu malam nanti. Aku juga nggak bisa santai-santai nonton Oprah atau DVD-DVD animasi favoritku. Sebagai tambahan, aku mesti lebih banyak menghabiskan waktuku di hadapan laptop dan menambah risiko mata merah dan sakit leher. Great!
Kenalkan, namaku Malika. Usia dua puluh empat. Status: Mahasiswa jurusan Psikologi yang belum juga lulus hingga melebihi jatah waktu sepuluh semester. Kenapa? Entahlah. Mungkin karena aku nggak memiliki separuh otak Einstein, atau bisa jadi karena dosen pembimbingku takut merindukanku jika meluluskanku segera. Yang jelas, aku paling tak suka jika ada orang yang bertanya, “Kapan lulus?” Apalagi jika ada pertanyaan terusan, “Lho, memang kuliah di Psikologi itu berapa semester sih?”
Ponselku berbunyi, dari Mbak Rahma.
“Lika, bisa nggak naskahnya dikirim besok pagi?” tanyanya tanpa basa-basi dulu.
“Ummh, kalo siangan bisa nggak Mbak?” aku mengajukan penawaran.
“Sebelum jam dua belas ya?”
“Oke.”
Klik.
Oya, aku lupa memberitahu kalian, bahwa selain sebagai seorang mahasiswa skripsi, aku juga bekerja paruh waktu sebagai asisten penulis skenario cerita remaja di tivi. Pekerjaan yang menyenangkan. Tanpa harus berada di kantor sepanjang hari, aku sudah bisa memperoleh penghasilan yang lumayan. Yaa, meski harus kuakui pula bahwa pekerjaan ini tak mudah. Sebagai asisten, setidaknya aku harus bisa menghasilkan satu skenario perminggu, untuk kemudian diedit oleh Mbak Rahma, hingga ia layak masuk ke meja rumah produksi dan tayang di tivi.
Naskah harus sudah masuk besok sebelum jam dua belas siang. Ya, artinya bertambah lagi lah durasi untuk memelototi laptopku akhir minggu ini. Terdengar ketukan pintu.
“Masuk aja, nggak dikunci…”
“Lika, masih punya kertas A4 nggak?” kepala Maria-teman kost ku menyembul.
“Tuuh di rak situ. Ambil aja.”
“Satu…dua…tiga… nah sudah, aku butuh
“Berantakan betul sih kamarmu, Lik?”
“As usual, no need to be asked, darling…” jawabku sambil senyum simpul.
“Sudah sampai mana memang skripsimu?”
Ough, pertanyaan itu lagi!
“Yaa, masih jauh ke sidang.” Jawabku pendek.
Maria tersenyum maklum. Ia seorang akuntan yang usianya kurang lebih sama denganku. Bedanya, ia sudah menyelesaikan kuliahnya tepat di semester delapan. Perbedaan yang bikin ibuku bertanya, “Kok Maria bisa cepet, sementara kamu enggak?”
Kupejamkan mata sambil melakukan peregangan. Hufffh! Coba aku punya mesin waktu seperti Nobita. Jika demikian, sekarang juga aku mau pergi ke masa depan. Ke masa dimana hari wisudaku tiba. Sehingga berakhir sudah pertanyaan orang-orang di sekitar mengenai skripsiku yang amat menyiksa. Oooh, aku betul-betul sudah bosan harus bolak-balik ke Rumah Sakit Jiwa untuk melengkapi data skripsiku…Hhh, kalau begini terus lama-lama aku bisa ketularan sakit jiwa.
Kubuka mataku perlahan.
Lho, di mana nih? Kamarku berubah. Aku mencoba mengingat-ingat tempat ini. Di dindingnya ada foto cewek bertoga. Kuperhatikan wajahnya. Mirip denganku. Ah, aku pasti bermimpi. Ketika sedang mencubit pipi, seseorang memasuki kamar.
“Heugh, emang nggak ada lagi yang bisa dikerjakan sama perempuan muda selain ngurusin kawin yaa??” perempuan itu mengomel. Hey, itu aku!
Ooh, sepertinya Tuhan mengabulkan doaku untuk memiliki mesin waktu. Aku bertemu dengan diriku, yang… entah berapa tahun kemudian. Kucoba memanggilnya. Tapi ia tak mendengar suaraku, bahkan melihatku pun sepertinya tidak.
Malika di hadapanku kemudian menuju meja belajar, duduk di situ dan… membanting frame foto Abi. Lho, kenapa? Kau… eh, apakah pada usia ini aku putus dengan Abi?
“Brengsek! Gimana mau kawin kalau calonnya aja udah kabur sama cewek lain?” gerutunya.
Abi selingkuh? Masa sih?? Diakan baik…
Ponselnya berbunyi. Ia mengangkatnya. Tak bicara apa-apa sih, tapi dari raut wajahnya aku bisa menangkap kalau ia tak suka dengan topik si penelepon.
“Ma, aku nggak mau kencan sama siapa-siapa lagi. Aku capek, Ma.”
Ia diam lagi agak lama, sampai akhirnya membanting ponsel ke kasur.
“Oooh Tuhan, apa kata Kartini kalau tahu perempuan jaman sekarang masih ada yang belum bebas untuk menentukan jodohnya sendiri? Salah yaa kalau aku masih melajang di usia menjelang kepala tiga?!” dengusnya kesal.
Apa?? Dia, eh aku belum juga laku menjelang tiga puluh? Oh NO! Aku mengusap wajahku sambil berdoa semoga ini hanya mimpi.
Aku merasa berputar. Pusing. Sekelilingku tiba-tiba empuk. Kubuka mataku. Lho… aku sudah berpindah tempat lagi. Tapi, masih bukan di kamar kost-ku.
Kulihat sekelilingku, mencoba mengingat-ingat tempat ini. Berantakan. Selimut belum dilipat. Bed cover menumpuk di lantai. Aroma wangi memenuhi hidungku. Kuhirup dalam-dalam, hingga dapat memastikan bahwa ini bukan aroma parfumku.
Seseorang memasuki kamar. Laki-laki! Ummh, siapa sih dia?? Sebelum berhasil mengingat siapa lelaki tersebut, ada seorang perempuan yang datang. Itu aku! Lalu, apakah itu suamiku kelak? Hmmh, lumayan lah. Nggak jelek-jelek amat. Yaa, setidaknya ternyata aku laku juga, hihihi…
“Kenapa sih kamu selalu nolak kalau aku ajak periksa, Mas?”
“Karena aku merasa nggak ada yang salah dengan tubuhku.”
“Jadi menurutmu aku yang mandul, gitu?”
“Aku nggak bilang begitu…”
“Tapi bisik-bisik di sekitar bilang begitu, Mas! Pasti Malika mandul. Masa sudah empat tahun kawin belum juga bisa hamil?? Padahal kata dokter, nggak ada masalah dengan rahimku.”
“Ya sudah kalau gitu. Nggak usah pusing.”
“Nggak pusing gimana? Kamu tahu nggak sih, kalau setiap hari setidaknya tiga orang yang nanya kapan punya momongan?? Belum lagi ibumu bilang, hati-hati lho kalau melahirkan di atas usia tiga puluh
“Yaa, bilang saja memang belum dipercaya Tuhan, mau gimana lagi?” laki-laki itu tetap menjawab dengan enteng.
“Seengaknya kamu periksa, apa susahnya sih Mas?”
“Jadi kamu nuduh aku mandul?”
“Aku nggak bilang gitu. Aku cuma…”
“Ya sudah, nggak usah paksa-paksa terus.”
Laki-laki yang belum juga berhasil kuingat identitasnya itu pun pergi meninggalkan aku, si Malika yang juga belum bisa punya anak setelah berusia thirty something.
Ia menghempaskan tubuhnya yang terlihat letih ke atas ranjang. Menatap langit-langit dengan nanar. Aku merasa tak enak. Apa yaa namanya perasaan ini? Antara iba, takut, sedih…dan… pokoknya campur aduk deh kayak sop buah. Tepatnya sop buah yang sudah basi.
Jutaan pertanyaan berdengung di kepalaku. Mempertanyakan apa yang salah dengan diriku? Kenapa nasibku jadi buruk seperti ini? Menikah tapi sulit punya anak. Belum pula suami yang menyebalkan, tak punya toleransi sedikitpun. Huh, dasar laki-laki!
Terdengar isakan. Ia menangis. Mungkin lebih tepat kalau disebut merintih. Aku duduk di sampingnya, mencoba membelainya, namun tak bisa. Aku invisible baginya.
Tuhan… maafkan aku. Tadinya kupikir semua akan baik-baik saja jika aku sudah menyelesaikan skripsiku. Kupikir, aku akan membuat bangga kedua orangtuaku setelah gelar S-1 sudah kuperoleh. Kupikir, aku akan segera mendapatkan pekerjaan bagus, menikah dan punya rumah tangga yang bahagia. Yaa, kupikir tak akan ada lagi yang membebaniku setelah aku menyelesaikan kuliahku. Minimal, jika aku sudah tak lagi tergantung secara finansial kepada orangtuaku, kupikir masalahku selesai, karena aku tak perlu lagi membuat laporan atas apa-apa yang kukerjakan pada mereka.
Ternyata aku salah. Salah total!
Ingin rasanya aku kembali pada keadaan terakhir yang kualami, mengerjakan skripsiku. Kembali berkutat dengan laptopku-yang beberapa minggu lalu sempat ingin kubanting karena mengandung virus yang menghabiskan semua dataku, sehingga membuatku terpaksa mengulang banyak pekerjaan.
Ingin rasanya aku bisa kembali menikmati secangkir ice chocolate kesukaanku di Starbucks, sambil mengamati para remaja yang seringkali menjadi inspirasiku saat menulis naskah skenario. Oya, apa kabar Mbak Rahma saat ini? Apakah setelah menikah aku masih menjadi asistennya?
Aku melangkah menuju jendela. Sempat terlihat sebuah kunci BMW di meja. Ouw, apakah itu mobil pertamaku?? Hebat betul! Apa yaa kira-kira pekerjaanku hingga berhasil menabung untuk membelinya? Dulu, untuk membeli motor matic pertamaku saja, aku harus urunan gajiku dengan pinjaman tanpa tenggat waktu dari ayah.
Kupejamkan mata. Berharap mesin waktu membawaku pulang. Pulang ke masa dimana aku berusia dua puluh empat. Ke akhir pekanku yang sempat kusesali karena terpaksa harus menghabiskan waktu untuk begadang di hadapan laptopku.
Taraaa! Kubuka mataku dan bersiap untuk tertawa menyambut map skripsiku dan mencium laptop kesayanganku.
Tapi… lho, aku masih di tempat yang sama?!?
Ah, pasti ada yang salah.
Baiklah, akan kucoba lagi. Mungkin tadi aku kurang berkonsentrasi.
Kupejamkan mataku 1…2…3… Huup!
Tetap tak berubah. Masih kamarku yang tadi. Tempat dimana Malika yang sudah menikah menangis karena suaminya yang tidak punya rasa empati itu meninggalkannya.
Tapi hey!
“DOOOR MAMAA!” seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun memasuki kamar sambil mengacungkan sebuah pistol air. Ia masih mengenakan seragamnya.
“Mama mati doong!” katanya lagi. Aku menoleh ke setiap sudut, mencari orang yang dipanggilnya mama.
BRUUK! Aku tersungkur. Anak itu menubrukku. Lho??
Kini wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku.
“Mama, tadi pe-er gambar Mail dapat delapan.” Katanya.
“Oya?” aku menjawabnya masih dalam keadaan bingung.
“Iyaa… Siapa dulu dong mamanya…”
“Mama?”
“Iyaa.
Aku? Membantu menggambar apel??
“Nanti bantuin Mail bikin pe-er mengeja yaa?”
“Sama mama?” kataku sambil menunjuk hidungku.
“Iya doong. Mail nggak mau sama papa ah, suka disuruh buru-buru terus. Nggak asyik!” Anak bernama Mail itu lalu beranjak menjauh. Aku bangun perlahan.
“Mama, ada tukang es krim. Mail mau yaa??” tunjuknya pada tukang es krim yang lewat di depan rumah. Aku mengangguk.
“Yang besar, boleh?”
Aku mengangguk lagi. Ia berlari, namun beberapa detik kemudian kembali lagi.
“Uangnya mana?”
Tanpa sadar aku merogoh sakuku. Di situlah aku baru menyadari bahwa pakaianku kini sudah berganti. Aku tak lagi mengenakan t-shirt dan celana jins yang tadi kupakai sepulangnya dari kampus. Aku kini memakai blus berwarna khaki dengan celana palazzo berwarna senada. Haah??
“Segini, cukup?”
Ia mengangguk dan berlari dengan riang keluar kamar.
Kini giliranku sibuk mencari cermin.
Kudapati cermin besar di sudut ruangan. Aku mencermati bayanganku disana.
Aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa mesin waktuku mungkin rusak secara permanen, sehingga aku tak bisa kembali lagi ke masa kuliahku. Oooh Tuhan… tolong kembalikan aku. Deadline revisi skripsiku dua hari lagiii!!
]]>
Pritha Khalida
Perempuan berusia empat puluhan di hadapanku tampak serius membuka-buka map. Sesaat ia mengamatiku, menaikkan kacamata silindrisnya hingga tepat di pangkal hidung.
“Nama lengkap saudara?”
“Titin, Bu.” Jawabku dengan sopan.
“Lengkapnya?”
“Tidak ada, Bu. Hanya Titin.”
“Hmmm…Perusahaan kami membutuhkan seorang sekretaris yang ulet, disiplin dan menguasai bahasa Inggris pasif dan aktif. Anda…?”
“Saya pernah mengikuti kursus bahasa Inggris, meski tidak sampai selesai. Juga mengikuti ujian TOEFL dan mendapatkan score limaratus limapuluh.” Jawabku, dengan nada yang kubuat setenang mungkin. Bukankah mestinya begitu sikap seorang pelamar kerja? Tegas, meyakinkan, namun tetap sopan.
“Tahukah anda kalau seorang sekretaris tidak hanya dibutuhkan di dalam kantor, tapi juga seringkali dikirim untuk mengikuti meeting mewakili perusahaan?”
“Iya, Bu.”
“Di situlah image perusahaan akan dibawa, dan… ditunjukkan pada mitra bisnis. Makanya, seorang sekretaris haruslah memiliki image yang positif…”
Selanjutnya bla… bla… bla… ia berbicara mengenai etos kerja, penampilan dan sebagainya. Pendek kata, hal-hal tersebut sudah kuhapal di luar kepala. Bagaimana tidak, aku lulus dari jurusan sekretaris dengan predikat ‘Sangat Memuaskan’. Masa yang begini saja masih tidak paham? Tapi, sebagai seorang pelamar yang sangat membutuhkan pekerjaan dan menginginkan posisi di kantor ini, maka kubiarkan saja ia berbicara panjang lebar. Aku mengangguk-angguk. Hingga akhirnya,
“Mengenai gaji…Masih bisa dinego? Anda kan fresh graduate.”
“Bisa, Bu. Saya minta disesuaikan saja dengan standar di perusahaan ini.”
“Kalau begitu, Anda akan kami pertimbangkan.”
“Kira-kira berapa lama pemberitahuannya ya, Bu?”
“Yaa, sekitar empat minggu lah. Soalnya sebetulnya perusahaan kami belum terlalu membutuhkan sekretaris saat ini. Kami hanya mempersiapkan untuk anak perusahaan yang akan dibuat di luar kota.” Ujarnya diplomatis.
“Terimakasih, Bu.” Aku pun mohon diri.
Huffh… ini adalah perusahaan ketiga yang memanggilku untuk wawancara dalam lima bulan sejak kelulusanku. Mudah-mudahan kali ini bisa tembus. Di tengah sulitnya mendapatkan pekerjaan di kota metropolitan-apalagi buat seorang lulusan D-3 sepertiku, sebuah posisi yang sesuai dengan latar belakang pendidikan sungguh bagaikan pelepas dahaga di padang pasir.
“Gimana Tin?” suara Ibu menyambutku begitu aku memasuki rumah. Kurasa ibu sudah lama menantiku di balik tembok rumah kontrakan kami yang tak bercat itu.
“Belum tahu, Bu. Katanya nanti dikabari lagi.” Aku bergegas menuju meja makan, menuangkan segelas air dan meneguknya hanya dalam hitungan detik.
“Pak Jito sudah datang kemari lagi tadi.” Ibu menghela nafas.
“Bilang sama dia, tolong tunggu sampai bulan depan. Saya pasti dapat pekerjaan, Bu.”
“Ealaah, jangan sombong begitu. Segala sesuatu juga ditentukan sama Gusti Allah.”
“Astaghfirullah, iya. Insya Allah Titin segera dapat pekerjaan, Bu. Sudah ya, sekarang Titin mau mandi dulu, sudah bau begini.” Ujarku sambil menempelkan hidung ke kerah blus putihku yang warnanya sudah seperti kopi susu, setelah seharian menapaki Jakarta dengan berganti dari satu metromini ke metromini lainnya.
Air di kamar mandi membasuh tubuhku. Betapa menyejukkan. Yaa, memang sih tidak dingin seperti air di pegunungan. Tapi setidaknya, bisa lah untuk menghilangkan penat. Seperti biasa, kupejamkan mataku sambil bersenandung, berharap menemukan setitik kedamaian di sana. Tapi nihil. Justru sebaliknya yang kudapat. Dalam mata yang terpejam, kulihat sosok bapak yang selalu berkeringat setelah pulang dari pekerjaannya menjadi kuli panggul di pelabuhan. Ada juga mas Anto-kakak sulungku. Matanya yang buta hanya bisa mengantarkannya untuk menjadi tukang pijat kampung. Sementara ibu, selalu tampak sibuk dengan tumpukan cucian tetangga.
Hmmmh… Akulah satu-satunya harapan keluarga. Satu-satunya orang yang bisa mengenyam pendidikan tinggi di keluarga ini. Otakku yang kebetulan encer semenjak masih bersekolah di SD, membuatku mampu meraih beasiswa untuk bisa kuliah di sebuah akademi sekretaris dan kursus bahasa Inggris.
Tapi apa yang harus kuperbuat jika keadaannya terus begini? Lima bulan sudah berlalu sejak kelulusanku. Kupikir dengan nilai yang baik, mendapat pekerjaan bisa lebih mudah. Ternyata tidak. Padahal kalau dipikir-pikir, apa sih yang kurang dariku untuk menjadi seorang sekretaris? Prestasi akademik lumayan bagus, kemampuan bahasa asingku pun oke lah. Penampilan? Yaa, meskipun tak pernah dibalut oleh pakaian bermerk, tapi kurasa aku tak kalah gaya dengan pelamar lainnya. Bahkan pernah sekali aku melihat sainganku yang datang dengan mengenakan rok mini dan beha berwarna hitam di balik blus putihnya. Menurutku sih itu tidak sopan. Kalau aku yang jadi manajer atau HRD, tak akan kuterima karyawati sepertinya.
Lalu di mana sebenarnya poin minusku? Kembali aku mengingat-ingat.
Ahaa! Iya… Mungkin itu. Sepertinya sih itu. Kurasa…
“Siapa nama Anda?”
“Nama saya Titin, Bu.”
“Nama lengkap?”
“Titin saja, Bu.”
Pembicaraan itu kembali terulang di benakku. Pembicaraan mengenai namaku. Ya aku ingat betul. Setelah melalui tiga kali wawancara, dan belum juga mendapatkan panggilan kedua sampai sekarang, aku mulai berpikir bahwa yang menjadi masalah atas semua itu adalah namaku. Karena namaku Titin. Nama yang kampungan. Bukan nama khas metropolitan. Alih-alih untuk menjadi seorang sekretaris yang bisa mewakili image perusahaan, mungkin para HRD itu menilai namaku lebih cocok untuk menjadi pembantu rumah tangga saja.
Aku pernah dengar ucapan pujangga yang menyatakan, ‘Apalah arti sebuah nama?’
Sepertinya harus kujawab sekarang, ‘ADA!’ Nama sangat berpengaruh terhadap kelangsungan karir, terutama saat karir itu baru saja akan dimulai. Buktinya, lihat aku! Masih menganggur sampai sekarang.
Mau bukti lain? Lihat saja artis-artis. Mereka yang berasal dari desa, banyak yang berganti nama setibanya di Jakarta dan mulai masuk tivi. Dan terbukti, setelah nama diganti maka tawaran-tawaran pun mulai berdatangan, bahkan mengantri.
Maka aku pun mulai berpikir untuk mengganti namaku. Orang yang pertama kali kuberitahu mengenai rencana ini tentu saja ibu. Dan, beginilah reaksinya,
“Waduuh Tin, namamu itu dibuat pakai syukuran bubur merah bubur putih, lho. Ya nggak bisa lah diganti begitu saja.”
“Yaa, cuma dimodifikasi sedikit lah, Bu. Misalnya jadi Tina. Kan nggak terlalu beda.”
“Hyaa beda, nak. Titin itu bukti cinta ibu dan bapakmu. Lha wong kami membuatnya dengan menyatukan penggalan nama kami, Narti dan Tino. Kalau jadi Tina, nanti penggalan nama ibu jadi hilang.”
“Tapi namaku kayaknya jadi masalah deh, Bu.”
“Aah, ibu tak sependapat denganmu, nak. Rejeki itu sudah ada yang mengatur. Mungkin ini belum bagianmu. Tenang saja lah dulu. Jangan putus asa. Mungkin Tuhan justru sedang merencanakan yang terbaik untukmu.”
“Aduuh, jadi sekretaris itu kurang baik gimana coba, Bu? Lagipula, gimana nggak putus asa? Ibu sendiri kan yang bilang kalau Pak Jono sudah bolak-balik melulu ke sini. Dia mau menagih uang kontrakan, bukan?”
Ibu terdiam. Aku agak menyesali ucapanku barusan. Mungkin terlalu kasar untuk ibu.
*
Hari ini, kembali aku berada di sebuah kantor. Kali ini sebuah rumah produksi yang memanggilku untuk wawancara. Sudah lewat enam bulan sejak permintaanku kepada ibu untuk mengganti namaku. Tapi ibu tetap saja keberatan. Alasannya masih sama, nama ini merupakan perpaduan cinta antara ibu dan bapak. Mengubahnya barang sehuruf saja, sama dengan menghilangkan makna dan cinta di dalamnya.
Jadi, hingga saat ini namaku masih Titin. Titin saja, tanpa nama panjang. Seiring dengan namaku yang belum berubah, nasibku pun belum berubah. Aku masih saja mengalami penolakan-penolakan dari berbagai perusahaan yang kukirimi surat lamaran dan riwayat hidupku. Kehidupan keluargaku pun belum banyak berubah. Kami masih tinggal di rumah kontrakan yang dindingnya tidak dicat. Dan masih selalu menunggak sekitar dua atau tiga bulan.
Aduuh, coba ibu setuju untuk mengganti namaku…
Perutku mendadak sakit. Duh, pasti ini gara-gara cabai rawit yang kumakan tadi waktu sarapan. Maklum, ibu hanya menyediakan sedikit tempe goreng. Maka, agar cukup menemani nasi yang sepiring sampai habis, kuperbanyak saja cabainya. Dan inilah akibatnya… Bagus!
WC duduk. Inilah alasan kenapa aku selalu tak suka jika terserang mulas di luar rumah. Aku tak terbiasa dengan WC duduk. WC seperti ini membuatku tak bisa memenuhi panggilan alam. ERGH! Mau tak mau kupaksakan saja duduk di situ, setelah membaca aturan untuk tidak berjongkok yang ditulis besar-besar di pintu toilet. Secara tak sadar aku mulai bersenandung. Aku tak ingat sejak kapan aku memiliki kebiasaan ini. Aku selalu bersenandung jika berada di kamar mandi, meski untuk sekedar buang air kecil sekalipun. Entahlah, aku selalu merasa suaraku terdengar lebih merdu kalau di kamar mandi.
Beberapa menit kuhabiskan di dalam toilet. Seperti dugaanku sebelumnya, aku tak berhasil menunaikan panggilan alam. Tapi tak apalah, setidaknya aku sudah merasa agak tenang setelah bersenandung barusan. Kusiram toilet, lalu kurapikan rambut dengan menggunakan jari seadanya.
“Suara anda bagus sekali.” Seorang perempuan berusia tiga puluhan mengejutkanku di depan pintu toilet. Ups! Aku malu sekali. Mungkin ia sudah menungguku begitu lama.
“Maaf, sudah menunggu lama ya?”
“Yaa begitulah, tapi saya memang menunggu anda, bukan toiletnya.” Ucapnya lagi.
“Saya? Ada perlu apa?”
“Kenalkan, nama saya Marina. Saya co-produser untuk beberapa sinetron remaja.” Ia mengulurkan tangannya dengan ramah.
“Nama saya…” sejenak aku ragu, mestikah kusebutkan namaku yang sebenarnya? “Emmh, nama saya Titin.” Ucapku akhirnya. Biarlah, apapun yang akan terjadi, terjadilah. Yang penting aku tak jadi anak yang kualat sama orangtua.
“Titin ya?”
“Iya, Titin saja. Tanpa nama panjang.” Aku menjelaskan, sebelum ditanya.
“Kerja di mana?”
“Masih menganggur, Bu. Ini juga lagi mengantri untuk wawancara.”
“Sebagai?”
“Sekretaris.”
“Oooh… Tertarik untuk jadi penyanyi?”
“Haah? Eh, maaf Bu?” aku terkejut.
“Iya, jadi penyanyi. Kebetulan sinetron yang akan kami produksi membutuhkan penyanyi untuk menyanyikan soundtrack-nya. Setelah mendengar suara anda, saya rasa karakternya cocok untuk membawakan lagu itu.”
Aku pasti bermimpi. Iya, pasti ini mimpi di siang bolong. Mana ada pencari bakat menemukan calon artisnya di dalam toilet??
“Bagaimana, anda berminat?” tanyannya lagi.
Aku berpura-pura membetulkan lengan kemejaku, padahal sebetulnya mencubit lengan, memastikan ini nyata. Aduh, sakit!
“Saya, jadi penyanyi?”
“Iya. Kalau anda berminat, sekarang kita test vocal di studio.”
Aku menurut saja, mengikutinya melangkah ke dalam studio. Dan aku merasa kagum melihat semua peralatan yang ada di situ. Persis dengan yang kulihat di tivi! Seorang lelaki memberiku sebuah CD, menyuruhku mendengarnya dengan seksama. Hanya butuh beberapa menit buatku untuk bisa memahami nada-nada dan menghafal liriknya. Aku pun mencoba menyanyikannya di hadapan Bu Marina dan beberapa orang kru.
Bu Marina dan seorang lelaki berjanggut di sampingnya-yang belakangan kutahu bahwa ia adalah seorang produser sinetron terkenal, mengacungkan jempolnya saat aku meletakkan headphone, setelah menyanyikan lagu tersebut secara lengkap.
“Dia oke, Tin. Kamu tinggal disuruh membaca kontrak saja. Jika setuju, maka kami akan mengontrakmu untuk menyanyikan soundtrack sinetron yang akan mulai kami garap bulan depan.”
Aku masih tercengang, tak percaya. Aku menjadi penyanyi? Yang benar saja! Bermimpi pun aku tak pernah!
*
Satu setengah tahun sudah berlalu sejak aku menandatangani kontrak pertamaku untuk menjadi penyanyi. Kini, sudah belasan sinetron yang menggunakan suaraku sebagai soundtrack-nya. Nasibku pun sudah berubah. Aku kini sudah mampu membelikan rumah yang layak untuk ditempati bersama dengan keluargaku. Sudah tak ada lagi suara Pak Jono yang selalu cerewet menagih uang kontrakan.
Hanya satu yang masih tak berubah, namaku tetap Titin. Nama yang merupakan perpaduan cinta antara bapak dan ibuku. Nama yang meski amat sederhana, kini kuyakini mengandung sejuta doa di dalamnya.
Sebuah nama sederhana yang kini sudah dikenal orang-orang, dan membuatku bangga menyebutnya, “Nama Saya Titin!”
Terimakasih ya, Bu…Pak…
]]>