Buku Harian Acit
Pritha Khalida
Orang-orang di sekitar rumahnya masih ramai membicarakan tentang pembagian jatah daging qurban yang tidak merata, ketika Acit pulang sekolah siang itu. Sinar matahari siang membakar tubuhnya yang kurus. Berulang-kali tampak remaja berusia lima belas tahun itu
mengusap peluhnya. Acit teringat kata-kata Bu Sita-wali kelasnya, di ruang guru tadi…
“Sudah tiga bulan kamu menunggak SPP, Astrid.” Ucapnya lembut. Acit-demikian ia biasa disapa, tak berani menjawab apa-apa. Kepalanya tertunduk lemas saat itu.
Kepala dengan rambut dikuncir itu masih tertunduk lemas sampai sekarang. Beberapa belas meter lagi Acit akan tiba di rumahnya. Namun ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Acit membayangkan ayahnya yang tidak mampu lagi bekerja sejak kehilangan kedua kakinya karena terjatuh saat menjadi buruh kontrak, membangun sebuah gedung pencakar langit. Di benaknya juga ada ibu, yang selalu sibuk dengan makanan kecil jualannya. Didit dan Dion, dua adik kembarnya yang masih duduk di bangku kelas satu SD juga tak luput hadir dalam bayangan Acit.
“Huuuff…” Acit menghela nafas.
“Kak Acit pulaaaaang!” Dion yang rupanya sedang bermain mobil-mobilan di teras, berteriak menyambutnya. Didit ikut-ikutan meneriakkan namanya sambil mengacungkan senapan plastik ke arah Acit. Acit pura-pura tertembak sebelum masuk rumah. Didit tertawa kegirangan.
“Sudah makan, Cit?” ibu menyapanya. Acit menggeleng.
“Makanlah dulu. Ibu masak tempe bacem hari ini.” Kali ini Acit hanya mengangguk sambil tersenyum. Ibu menatapnya.
Di dalam kamar, maat Acit menerawang memperhatikan sekelilingnya. Sebuah kamar berukuran dua kali dua meter yang belum dicat dengan sempurna itu, masih memberikan pemandangan yang sama dengan semalam, saat Acit memperhatikannya juga, guna mencari barang berharga apa yang dimilikinya dan dapat dijual untuk menutupi SPP? Tapi hasilnya nihil.
Ada poster seorang penyanyi tertempel di dinding kamar Acit. Namanya Ardelia. Dia itu penyanyi idola Acit. Acit mengidolakannya karena masa lalunya. Penyanyi yang terkenal lewat ajang pencarian bakat se-Indonesia itu awalnya hanya anak seorang buruh cuci miskin dari suatu daerah di Sumatera. Namun karena bakat dan kegigihannya, ia bisa berhasil menjadi juara ajang tersebut. Suatu prestasi yang hebat di mata Acit! Maka dengan menempelkan posternya di belakang pintu kamar, Acit berharap suatu saat dia pun akan bisa jadi orang hebat seperti Ardelia. Terkenal dan mengubah nasib keluarganya.
Tapi, aku bisa apa? Acit membatin. Seingatnya, ia sama sekali tidak memiliki bakat menyanyi, menari, akting dan semacamnya – yang rata-rata dicari di bidang entertainmen. Yaa, bukankah hanya itu bidang yang bisa ditekuni oleh remaja yang masih bersekolah? Setidaknya itulah yang Acit tahu. Acit juga tidak punya koneksi orang ‘besar’ yang bisa merekomendasikannya untuk bekerja di suatu perusahaan. Jangankan orang ‘besar’, sejauh ini kenalannya ya cuma teman-teman dan para tetangga. Kondisi mereka rata-rata tak jauh beda dengannya.
“Ah sudahlah, gimana nanti saja.” Ucap Acit pelan. Ia segera menuju ruang makan. Perutnya sudah bunyi tanpa aturan dari tadi.
*
Malam hari sebelum tidur, Acit mengambil sebuah buku tulis dari bawah bantalnya. Acit lalu menuliskan beberapa baris kalimat di dalamnya. Buku harian-demikian Acit menyebutnya. Walau jika dilihat, tampilannya tidaklah seperti buku harian remaja perempuan pada umumnya: hard cover dengan halaman yang berwarna-warni dan wangi. Buku harian Acit hanya sebuah buku tulis biasa yang sudah agak lecek, karena ditulisi setiap hari dan disimpan di bawah bantal.
…Bu Sita bilang batasnya bulan depan, dan aku benar-benar tidak tahu dari mana bisa mendapatkan uang untuk melunasinya.
Demikian akhir tulisan Acit malam ini. Seperti malam-malam sebelumnya, Acit memang selalu menuliskan semua pengalamannya di buku harian tersebut. Pengalaman yang sebagian besar merupakan kegelisahannya atas kehidupan keluarganya.
*
Pagi sudah datang lagi. Mau tidak mau Acit harus bangun dan bersiap-siap ke sekolah.
Hhh… Acit menghela nafas dalam-dalam. Sejak pemberitahuan mengenai tunggakan SPP itu terdengar di telinganya, sekolah bagaikan suatu momok yang menakutkan bagi Acit.
“Ha…ri…i…ni…a…ku…ke…te…mu…ra…ma…” demikian eja Dion. Ia tertawa-tawa karena berhasil mempraktekkan pelajaran membaca di sekolahnya. Didit yang belum selancar Dion hanya bisa memperhatikannya sambil sesekali melihat tulisan di dalam buku yang dipegang Dion.
“Ayo teruskan.” Pinta Didit penuh harap.
“Sebentar, dong!” Dion membalik buku tersebut lalu membaca lagi dengan mimik serius,
“Ra…ma…i…tu…tam…pan…se…ka…li…”
“Dion, simpan bukunya!” Acit yang masih mengenakan handuk, muncul di pintu kamar. Ia tampak kesal sekali pada Dion. Ouw, rupanya sedari tadi Dion membaca buku hariannya.
“Di…dion mau belajar baca, Kak…”
“Enggak boleh buku yang itu.”
“Ta…tapi…”
“Gak ada tapi-tapian, pokoknya cari buku lain aja, sana!” Acit merampas buku tersebut dari tangan adiknya dengan judes. Dion mengkerut. Ia berlari kecil keluar kamar. Di belakangnya Didit menyusul dengan muka sama takutnya.
“Nakal!” pekik Acit. Perasaannya campur aduk sekarang, antara kesal dan malu. Bagaimana kalau Dion memberitahukan isi buku hariannya kepada ibu? Arrgh!! Buku harian itu pun segera dimasukkannya ke dalam tas, terselip di antara buku-buku pelajarannya. Ya, Acit memutuskan untuk memindahkannya sementara dari tempat asalnya di bawah bantal.
*
Acit berjalan terburu-buru ke dalam kelasnya. Ia berharap untuk tidak bertemu dengan Bu Sita pagi ini. Sebetulnya sih memang tidak ada pelajaran bahasa Indonesia di kelasnya hari ini. Tapi mana tahu Bu Sita iseng mampir melihat anak-anak walinya? Apa pun alasannya, setidaknya untuk satu hari ini Acit ingin bisa merasa tenang dari urusan SPP.
JDUKK!!
“Aduuh”
Acit tak sengaja menabrak seseorang. Namun badannya yang besar, membuat Acit yang justru tersungkur.
“Eh Astrid… maaf yaa.”
Rama! Iya itu Rama!
Sontak saja degup jantung Acit seperti berkejaran. Rama adalah temannya di kelas sebelah. Sudah lama Acit menyukai Rama. Cowok itu mantan ketua OSIS di sekolahnya, baru beberapa bulan yang lalu ia menyerahkan jabatannya pada adik kelas mereka.
“Eh… apa?” Acit yang melamun, tak mendengar kata-kata Rama.
“Aduuh Strid, kamu itu baru kelas sembilan kok sudah banyak melamun, sih? Cepat tua, lho!”
“Enggak kok… aku…eeh… lagi mikirin… ulangan! Iya ulangan!” jawab Astrid berbohong.
“Oooh… ya sudah kalau begitu bergegas dong, nanti keburu bel lho!”
Astrid mengangguk cepat-cepat. Namun beru saja ia melangkah,
“Tuh kan melamun… ini bukunya jatuh saja sampai enggak sadar.” Suara Rama kembali mengejutkannya. Acit berbalik. Oh tidak! Itu kan buku hariannya. Segera saja ia merebutnya dari Rama.
“Buku apa, Strid? Kok kayaknya takut amat kalau aku baca?”
“Ummh, ini… coret-coret… biasa laah. Tulisan-tulisan enggak penting, kok.” Jawab Acit cepat.
“Kamu suka nulis? Nulis apa?”
“Emmh… apa saja yang menarik.”
“Cerpen?”
“Ummh, kadang-kadang.”
“Kalau begitu, kamu mesti ikutan ini, dong!” ujar Rama sambil menunjukkan sebuah poster di mading. Acit membacanya perlahan.
Sebuah lomba menulis cerpen. Yang paling menggiurkan tentu saja hadiahnya, uang tunai tiga juta rupiah untuk pemenang pertama! Besar sekali! Acit membayangkan dengan uang segitu, tak hanya SPP yang bisa dilunasinya. Mungkin ia juga bisa membelikan beberapa pakaian untuk adik-adiknya. Atau, membetulkan sepeda tua milik ibu, mungkin?
Bel masuk berbunyi. Rama pamit dari Acit, sementara ia masih sibuk menuliskan ketentuan lomba cerpen tersebut.
*
Deadline lomba tinggal seminggu lagi. Sementara Acit belum juga menemukan tema yang bagus untuk ditulis. Beberapa sobekan kertas sudah berserakan di sisi tempat tidurnya. Jumlahnya memberi tahu sudah berapa kali Acit merasa ada yang salah dengan tulisannya. Acit lalu membuka buku hariannya. Ia mulai jenuh mencari topik untuk cerpennya.
“Heran, susah betul sih nulis cerpen ketimbang beberapa halaman? Nulis buku harian sudah sampai buku mau habis, kok kayaknya gampang-gampang aja, ya?” Acit menggerutu. Ia tak habis pikir mengenai keduanya. Dahinya berkerut beberapa menit, sampai akhirnya…
“Aku tahu!”
Segera saja Acit mengambil kertas dan menulis. Satu dua baris terlewati. Hingga akhirnya Acit selesai menulis sekitar tujuh halaman. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Astrid merasakan pegal di sekujur tubuhnya. Namun ia tersenyum puas. Cerpennya sudah selesai. Judulnya “Ibuku dan Sepeda Tuanya”. Ya, Acit memutuskan untuk menuliskan saja pengalamannya. Ia merasa bahwa menulis berdasarkan sesuatu yang dipahaminya, akan jadi lebih mudah dan cepat tentu saja!
*
Sepulang sekolah, Acit mampir dulu ke TU. Di sana ada Pak Darman, ketua TU yang juga tetangganya. Acit menyapanya dengan sopan. Berharap Pak Darman sudah tidak banyak pekerjaan lagi.
“Ada apa, Strid?” tanyanya ramah.
“Mmmhh… boleh saya pinjam mesin tiknya, Pak?” Acit tampak ragu.
“Boleh saja! Kebetulan pekerjaan bapak sudah selesai. Mau mengerjakan tugas?”
Acit mengangguk, berbohong. Ah biar lah, toh bagi Pak Darman tak ada bedanya seandainya yang diketiknya kali itu tugas sekolah atau bukan, begitu pikir Acit. Kurang lebih dua jam akhirnya Acit selesai mengetik. Jarinya pegal-pegal.
*
Kantor pos di dekat kantor kelurahan sudah hampir ditutup pintunya saat Acit datang untuk mengeposkan cerpennya. Untung saja petugasnya masih mau melayani Acit. Mungkin karena dilihatnya Acit datang dengan keringat sebesar-besar butiran jagung, ia pun tidak sampai hati untuk menolaknya.
*
“Astrid!” Rama melambaikan sebuah tabloid padanya dari kejauhan. Acit menghampirinya. Pagi itu ia datang lebih awal, karena mau piket.
“Ada apa?” tanyanya heran.
“Ini lihat, kamu dapat juara pertama lomba cerpen tempo hari!” Rama berbicara agak keras sambil menunjukkan tabloidnya. Acit kegirangan. Ia lalu memperhatikan tabloid tersebut lekat-lekat, takut Rama salah baca. Tapi betul, tidak perlu diragukan lagi. Di kolom itu tertulis nama serta nama sekolahnya. Lalu di bawahnya tertulis bahwa Acit berhak atas hadiah uang tunai tiga juta rupiah! Mata Acit berkaca-kaca. Ia tak tahu harus bicara apa.
“Sekali lagi, selamat ya!” Rama mengulurkan tangannya. Acit menerima ucapan tersebut dengan bahagia dan terharu. Tanpa sadar tangan Rama digenggamnya erat.
*
Siang itu Acit tersenyum dengan riang. Terik matahari masih sama panasnya dengan hari-hari sebelumnya, membuat peluhnya mengalir dan bajunya tampak lusuh. Namun kali ini Acit tidak lagi berjalan dengan lunglai. Ia berjalan tegak, menatap ke depan. Ya, kini ia tak perlu lagi khawatir. Selembar kuitansi pelunasan SPP sudah tersimpan rapi di saku kemejanya.
***






























