New Home… New Life

Kanan-kiri bantal. Makanan rasanya enggak enak-hambar. Mau ngapa-ngapain juga enggak jelas. Mata masih panas. Kurang lebih begitu lah yang saya rasakan saat ini. Entah gara-gara apa, sejak tadi subuh saya mendadak ambruk. Badan rasanya menggigil, kepala pusing kaya diketok-ketok palu, jalan berasa melayang dan mual-mual pengin muntah.

Mertua saya yang kebetulan lagi menginap di rumah, langsung tanggap demi ngeliat menantunya kayak orang mabuk-kesambet setan. Badan saya dipijat. Sambil mijat beliau bilang, “Kamu ini masuk angin. Cuma diusap aja udah merah. Gimana kalau dikerok, bisa sampe biru-biru! Mana urat kenceng semua begini!” (Ini betulan dipijat, sodara-sodara. Sakit banget, saya sampe jerit-jerit. Tapi mertua saya keukeuh kalau segitu itu untuk beliau namanya diusap) :p

Oke lupakan urusan pertentangan pijat atau usap itu. Yang jelas hari ini saya memang sakit. That’s the point.

Setelah diusap, eh…dipijat… Saya sambil tiduran mencoba nginget-nginget, kenapa bisa sampai masuk angin berat begini ya? Dan segera saya menemukan jawabannya.

Mari kita lihat aktifitas sehari-hari saya:

Pagi: Bersih-bersih, nyiapin sarapan sekeluarga, nyuapin Gaza sambil lari-lari

Agak siang: beres-beres, nemenin Gaza main (kalau ujan mainnya di dalam rumah, kalau ngga ujan di taman bermain dekat rumah).

Siang banget: Nyuapin Gaza makan siang sambil lari-lari

Agak sore: Saat Gaza tidur saya beres-beres lagi (kalau udah pada beres biasanya saya nulis atau baca buku atau internetan sekedar browsing dan fesbukan)

Sore banget: Nyiapin makan malam dan nyuapin Gaza (masih sambil lari-lari atau jalan, yang jelas enggak duduk).

Malam: Setelah Gaza tidur (yang enggak jelas jam berapa), beres-beres seluruh isi rumah (kadang enggak sempat karena Gaza baru tidur jam 11).

See…
Sebagian besar waktu saya dihabiskan untuk mengejar-ngejar Gaza. Pasalnya si pangeran kecil saya yang satu itu memang sangat aktif (bukan hiperaktif ya, catat). Dia hobi lari kesana kemari, loncat-loncat-loncat dan manjat-manjat. Baru berhenti kalau ada sesuatu yang menarik perhatiannya dan dirasa perlu untuk dia tanyakan. Misalnya aja kalau lagi lari-lari di halaman trus dia ngeliat bunglon, dia akan berenti dan nanya, “Bunda itu anak bunglon ya?” Kecil!” Atau saat lari-lari di taman bermain trus dia menemukan bahwa perosotannya basah, dia akan bilang “Bunda perosotan basah. Ujan ya? Boleh naik engga?” atau kalau lari-larinya di dalam rumah dia biasanya berhenti saat ngeliat semut dan bertanya, “Bunda, injek ya?” dan seterusnya.

Ini adalah catatan aktifitas saya sejak tinggal di rumah baru kami di kawasan Bojonggede-Kab Bogor hampir sebulan ini. Tadinya sebelum pindah dan masih menempati kontrakan di daerah Pasarminggu-Jaksel, aktifitas saya enggak sepadat ini. Sama sih lari-lari, tapi karena di sana rumahnya lebih kecil jadi lari-larinya juga enggak terlalu capek. Kalau pun di luar rumah, jangkauan Gaza pun saya batasi karena daerah tempat kami tinggal itu kan di jalan tikus-yang sering dilewati kendaraan untuk memotong jalan, jadi dia cuma boleh lari-lari dalam radius beberapa meter saja dari rumah, karena takut ketabrak kendaraan yang kalo lewat berasa lagi di jalan tol.

Dan di samping masalah lari-lari, waktu masih tinggal di rumah lama, saya enggak harus memasak sendiri setiap hari. Memasak merupakan kegiatan pilihan yang biasanya saya kerjakan karena pengin, bukan karena harus. Ya iyalah, di sana segala macem tukang masakan mateng mulai dari jengkol sampai tongseng ada komplit dan dekat! Sementara di sini, warung masakan matang yang paling dekat aja jaraknya sepuluh menit jalan kaki. Dan itu pun (maaf) enggak menggugah selera. Jadi ya masih mending masakan saya :p

Tapi ternyata, masak bukanlah sekedar meramu bumbu. Gaza yang biasanya punya banyak waktu bermain dengan saya, menuntut hal yang sama. Dia enggak rela kalau pagi-pagi atau siang-siang yang biasanya jadi quality time untuk kami berdua, saya habiskan di dapur. Dia pun merajuk, jerit-jerit dan bahkan kadang cari perhatian dengan membanting semua mainannya.

Sementara saya yang biasanya siap meladeni apa maunya dan mengejaknya bermain atau membacakan buku, berubah jadi galak sama dia. Ya gimana enggak galak, masakan kan engga bisa ditunda kaya tulisan. Kecuali kalau mau makan ayam gosong atau sayur garing.

“Nanti dulu Gaza, bunda kan lagi masak.”
“Nanti dulu Gaza, cucian panci bunda masih banyak.”
“Tunggu ya, Bunda lagi motong wortel nih.”
“Sabar sayang, kalau engga direbus nanti ayamnya kabur lagi.”

dan sejuta nanti-tunggu-sabar saya persembahkan untuk Gaza. Sementara dia teriak-teriak.

“Mainannya dilempar nih, rusak!”
“Kuenya buang kasih kucing ya!”
“Coret-coret di tembok aja!”

dan ya, semua itu dia laksanakan…

HUffftttt!!!! Hampir pingsan rasanya kalau habis masak ngeliat ruang tengah dan kamar udah kaya kapal pecah. Padahal penginnya kan langsung makan atau istirahat. Ini sih boro-boro, kadang nyari tempat untuk duduk aja susah kalau enggak beres-beres dulu.

Saya kadang ngebatin.

Dulu enggak pernah begini-begini amat.

Dulu nyaris semuanya under control.

Dulu…dulu…dulu…

Jadi kalau gitu, ini semua gara-gara pindah rumah.

Tapi, husssh! Saya segera mengusir jauh-jauh pemikiran nggak tau diri itu. Ini kan rumah saya sendiri, bukan rumah kontrakan lagi. Rumah yang kami (saya dan suami) beli setelah susah payah menabung. Rumah yang kami idam-idamkan sejak lama. Rumah yang dulu pas ngontrak selalu kami cita-citakan, “Suatu saat nanti insya Allah kebeli…”

Bukan salah siapa-siapa kalau tempatnya enggak strategis di antara warung dan rumah makan seperti di kontrakan dulu. Bukan salah siapa-siapa juga kalau lingkungan sekitarnya nyaman untuk tempat bermain anak balita.

Bukan… Bukan salah siapa-siapa. (kesimpulan ini saya peroleh setelah introspeksi yang cukup lama dan sibuk mencari kambing hitam).

Dan akhirnya saya menyadari bahwa punya rumah sendiri bukanlah sekedar masalah mengumpulkan uang. Bukan juga sekedar capek packing. Bukan pula sekedar sibuk beradaptasi dengan tetangga. Tapi lebih dari itu dan mungkin inilah yang paling penting: beradaptasi dengan diri sendiri! Dalam artian, menyiapkan mental untuk banyak hal-hal baru. Menyiapkan emosi agar tidak naik-turun saat menghadapi segala sesuatu yang di luar perkiraan.

Well, suami saya yang tadinya hanya menempuh perjalanan sekitar 30-40 menit kalau mau ke kantor, sekarang bertambah jadi sekitar 1,5-2 jam. Perubahan yang sangat terlihat adalah badannya jadi kurusan :p Awal-awal sih dia ngeluh capek dan beberapa kali masuk angin karena menempuh perjalanan super panjang pakai motor (gak tau kenapa sampe sekarang dia belum tertarik naik kereta). Tapi kalau lagi santai dan ngeliat rumah, capeknya suka mendadak hilang berganti sama senyum-senyum sendiri.

Ya, sepertinya semua berubah dengan cepat. Dan kalau saya enggak memaksa diri untuk berubah-menyesuaikan keadaan, maka saya akan terlindas tanpa ada ruang untuk bernafas.

Maka di tengah-tengah bantal dan guling dan badan yang masih dingin menggigil, saya pun bertekad akan berubah. Ya minimal berubah menjadi pribadi yang lebih kuat. Sehingga bisa menjaga stabilitas emosi. Dan mendopping badan dengan makanan yang lebih seimbang gizinya supaya nggak gampang sakit meskipun aktifitas bertambah banyak.

Banyak ibu-ibu lain di luar sana yang bisa tetap sehat jiwa-raga dalam mengurus semua masalah rumah sambil tetap berkarir meski tanpa pembantu/babysitter), kenapa saya enggak?

Jadi saya harus bisa. Harus!

(catatan dari atas tempat tidur setelah sepanjang pagi menutup diri di balik selimut tebal)

This entry was posted on Wednesday, January 25th, 2012 at 2:30 pm and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

One Response to “New Home… New Life”

  1. vidy Says:

    Setujuuuu…. super mommy..!!

Leave a Reply