Satu Hari di Bulan Januari
Pritha Khalida
“Di sini kah kita akan tinggal, Ma?” Tanyaku pada Mama, yang baru saja menutup pintu. Agak susah pintu tersebut ditutup, karena di sana-sini masih bertumpuk kardus-kardus.
“Baru segini kemampuan Mama saat ini, De.” Suara Mama terdengar lembut namun tegas.
Rumah petak berukuran 3 x 10 meter. Dengan dua kamar yang tak berpintu. Ya, tak berpintu! Satu kamar mandi kecil dan satu dapur kecil dengan wastafel yang sudah banyak karat di beberapa bagiannya, turut melengkapi rumah ini.
“Kok yang punyanya enggak mengecat dulu rumahnya sih, Ma?”
“Enggak sempat, De. Penyewa sebelumnya baru pindah dua hari yang lalu. Sedangkan kita kan butuh pindah cepat juga.” Tangan Mama yang cekatan mulai membongkar-bongkar kardus.
“De, ada bakso tuh! Beli yuk?” Alina – saudara kembarku, memanggil dari arah lorong menuju dapur. Aku sebetulnya enggak pengin makan bakso. Enggak Cuma bakso deh, kayaknya. Aku enggak selera makan apa pun di rumah ini, sungguh! Tapi mata Alina menatapku, yang apabila diberi balon ucapan seperti di dalam komik-komik, mungkin akan tertulis ‘Cepat Kesini Jangan Banyak Alasan!’
“Udah dong De, jangan protes melulu. Kasihan kan Mama. Segini aja mestinya kita udah bersyukur masih bisa punya tempat tinggal.
“PUNYA? Ini kan Cuma NGONTRAK.” Kataku sengit.
“Eh tapi kita kan udah bayar setahun penuh. Itu artinya dalam waktu setahun, rumah ini milik kita.” Alina mengambil dua buah mangkok dan menyodorkan satu padaku.
“Apaan?”
“Mau bakso enggak?”
Aku menggeleng. Tanpa banyak komentar, Alina menyimpan kembali mangkok yang sedianya untukku. Lalu berlalu dari hadapanku, menuju pintu samping.
Aku menatapnya dari balik pintu. Alina sedang berdiri di samping tukang bakso, memberi perintah pada abangnya untuk membuatkan semangkok bakso favoritnya yang tidak pakai seledri dan bawang. Beberapa anak kecil ingusan lewat di samping Alina, membawa mainan-mainan yang kumal. Alina dengan ramah menyapa mereka. Anak-anak itu menjawab sapaan Alina, hingga dalam waktu sebentar saja mereka sudah terlihat sangat akrab.
“Daagh adik-adik…” kata Alina saat semangkuk bakso panas sudah siap di hadapannya.
***
Pukul 2.45 dini hari. Mataku masih belum juga bisa terpejam. Sementara di sampingku, kulihat Alina sudah lama terlelap memeluk guling kesayangannya. Hufft! Aku masih berharap bahwa ini mimpi. Sangat berharap bahwa aku akan terbangun di pagi hari dan melihat dinding kamar dengan wallpaper berwarna ungu muda. Sedikit menoleh ke arah kiri, biasanya ada segelas susu low fat yang sudah disiapkan oleh Irah, pembantu rumah tangga kami. Selanjutnya aku akan mengecek communicator yang berisi setidaknya satu ucapan selamat pagi dari Andri.
Tapi semua tidak lagi kumiliki saat ini. Kamar yang kutempati sekarang berdinding biru kusam, seperti yang tak pernah dicat bertahun-tahun lamanya. Sudah sempit, harus berbagi dengan Alina pula. Lihat ke sebelah kiri, jangankan meja kecil tempat menaruh gelas susu, yang ada tumpukan kardus berisi barang-barangku, yang aku sendiri enggak tahu mau menyimpannya di mana. Irah pulang kampung sebulan yang lalu. Andri… Sial! Cowok itu pergi entah kemana setelah ayahku mendadak jadi artis di beberapa berita kriminal di tivi, karena kasus korupsi dan pernikahan sirinya terbongkar. Dan jangan tanya kemana communicator kesayanganku. Alina memintanya seminggu yang lalu! Untuk ongkos pindahan, katanya.
Tuhan…Tuhan… tolong dong jadikan ini hanya sebagai mimpi buruk di siang hari! Tolong Tuhan, jika pun hanya boleh aku memohon satu kali lagi sepanjang sisa usiaku, aku hanya inginkan semuanya kembali seperti semula, sungguh!
Namun Tuhan tidak memihakku saat ini.
***
Sekolah baru tidak begitu menyenangkan untukku. Ralat, rasanya seperti neraka! Bukan hanya fasilitasnya yang sangat minim, dimana toiletnya saja kurasa sama dengan yang ada di terminal bis antar kota. Tapi teman-temannya juga sangat enggak menyenangkan! Mereka tuh pengin tahu aja urusan orang. Pakai tanya-tanya lah, kenapa aku pindah dari International School kesini? Gimana rasanya? Ada bedanya enggak? Dan bla…bla…bla…
Ya jelas lah ada bedanya! Jauuuuh! Di sekolah lamaku, semua terlihat dan berjalan sangat teratur. Kebersihan dan disiplin adalah faktor utama yang yang harus dijalankan. Boro-boro ada tukang dagang berkeliaran di depan pagar (dan siswa boleh makan di luar pada jam sekolah!), di sana ada cafetaria yang menyediakan makan siang kami setiap harinya, dengan menu empat sehat lima sempurna.
“De, lihat nilai yuk! Katanya udah dipasang di mading!” ajak Alina, membuyarkan lamunanku. Buku di hadapanku terlempar.
“Nilai apa?”
“Ulangan Biologi kemarin.”
Alina menyeretku menuju papan pengumuman. Aku enggak bersemangat sama sekali.
“Waah, selamat ya Alina…”
“Iya, kamu pintar sekali…”
“Besok-besok ajarin aku, dong…”
Ucapan-ucapan itu memberondong Alina ketika kami sudah hampir mendekati mading. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mengetahui penyebabnya. Alina mendapatkan nilai sempurna untuk ulangan harian pertama kami di sekolah ini. Sementara aku, dapat 10! Sepuluh dari range 0 – 100! Baguuuus…
Setelah semua teman sekelas tak lagi berada di sekitar kami, Alina mencolek lenganku, “Kamu enggak belajar ya, De?”
Aku hanya melihatnya sekilas, lalu meninggalkannya.
***
Bulan Januari sudah hampir usai. Alina sibuk meneliti resolusi di dalam agendanya. Ia memberi tanda check list pada beberapa kolom. Woow! Adakah resolusi yang bisa ia jalankan pada masa-masa sengsara seperti ini? Oh yaa, aku juga membuat resolusi waktu itu. Tapi itu semua sudah hilang. Sudah kubilang kan, kalau communicator-ku menjadi salah satu modal kami hingga tiba di rumah bau apek ini?!
***
Malam itu hujan turun begitu deras. Aku khawatir atap rumah yang kami tempati saat ini, tak cukup kuat untuk menahan airnya.
“Kak…” kubangunkan Alina.
“Hmmh…” masih dengan mata yang setengah terpejam, Alina melihatku.
“Ujannya gede banget ya? Bakal bocor enggak, sih?”
“Enggak tahu.” Jawabnya singkat.
“Kalau bocor gimana?”
“Ya ditampung.” Alina masih menjawab dengan tenang. Seolah-olah rumah yang bocor adalah masalah kecil baginya. Sama dengan kalau aku bertanya harus diapakan kah makanan yang sudah basi? Lalu dijawab, ya dibuang. Singkat.
***
Keesokan harinya, kami – Aku dan Alina, baru pulang sore hari. Hujan deras membuat kami basah kuyup. Satu payung kecil untuk berdua tentu saja tak menjanjikan perlindungan memadai di tengah hujan deras dan angin yang bertiup kencang. Apalagi kami sekarang naik metromini pulang sekolah. Buat yang pernah yang tinggal di Jakarta, pasti tahu lah bahwa bis berwarna oranye ini tak pernah benar-benar berhenti saat menaikkan atau menurunkan penumpang. Keadaan yang menjadikan kami mau tak mau harus bersahabat dengan genangan air di pinggir jalan.
“De, banjir!” Alina menunjukkan luapan air yang sepertinya sudah mencapai lutut, beberapa meter di hadapan kami. Ya, jalanan di mana kami berdiri saat ini lebih tinggi kurang lebih empat puluh sentimeter, sehingga air tergenang di bagian yang rendah.
“Terus, gimana caranya ke rumah?”
“Eng… kayaknya rumah kita juga kebanjiran deh…” Alina menggumam. Oh tidak!
“Jadi gimana, dong?” aku mematung di tempat. Alina dengan sigap melepas sepatu dan kaos kakinya.
“Yuk, De?”
Apa? Ia mau menerobos banjir? Oh jangan… Aku enggak berniat melakukan hal yang sama. Enggaaaaak!
“Cepat! Kasihan Mama, pasti repot kalau rumah kemasukan air.”
“Tapi, airnya kotor, Kak!”
“Ya udah kamu tunggu aja di sini!” kali ini Alina terdengar begitu kesal padaku.
Mesti gimana lagi, coba? Aku enggak bisa membayangkan harus berjalan di tengah banjir. Tahu sendiri dong, kalau banjir itu berasal dari luapan air sungai atau selokan? Yang mana sungai atau selokan di sekitar rumah yang kami tempati itu warnanya butek! Hiiy, aku bergidik membayangkan apa saja yang ada di dalamnya.
Satu jam nyaris berlalu ketika genangan air di hadapanku sudah menyusut hingga semata kaki. Oke, tunggu beberapa menit lagi sampai surut betul, baru aku akan pulang. Bilang saja aku manja atau apapun itu. Tapi mengingat bahwa pastinya aku harus ikut membersihkan sisa banjir di dalam rumah, maka kuanggap penantianku saat ini sebagai saat untuk mengumpulkan tenaga.
Begitu tiba di depan rumah, kulihat ramai sekali. Beberapa orang tetangga berkumpul di sekitar rumahku. Ada apa, ya?
“De, sini cepet! Nanti kehabisan lho ubi rebusnya!” aku melihat Alina dari balik jendela yang dibuka lebar.
Ubi rebus? Terus banjirnya??
Aku menerobos masuk ke dalam rumah setelah sedikit menebar senyum kepada beberapa orang yang masing-masing sedang memegang sebuah ubi rebus. Di dalam, terlihat masih ada dua piring berisi ubi rebus. Piring satunya masih agak penuh, sementara yang lainnya tinggal berisi dua buah ubi.
“Ma…” aku mencari sosok Mama di antara beberapa tetangga yang ada di rumah kami. Kubuka tirai kamar Mama. Kulihat beliau baru saja selesai shalat.
“Cepat ganti baju, De. Lalu ngumpul sama tetangga, ya… Ngobrol-ngobrol lah, sekedar ucapan terima kasih. Kita sudah banyak dibantu lho tadi, membersihkan air yang masuk.” Mama melepas mukenanya. Aku tak tahu harus bicara apa.
Kupeluk Mama, “Ma, maafin Ade, ya?”
Mama balik memelukku, lebih erat. Air mata tak kuasa lagi kubendung. Ia jatuh satu-persatu membasahi pipiku.
“Udah lah, De. Enggak apa-apa.”
“Ade udah jahat banget sama Mama. Hikss…”
“Mama juga minta maaf. Enggak banyak yang bisa Mama lakukan untuk mengatasi musibah yang menimpa keluarga kita, De.”
“Enggak. Mama udah ngelakuin semua yang terbaik. Mama tetap berusaha supaya kami bisa tetap makan, sekolah… itu udah lebih dari cukup, Ma.”
“Syukur lah kalau kamu bisa ngerti.” Mama mengusap rambutku dengan lembut, lalu menyimpan lipatan mukena dan sajadahnya di atas kasur. Kulihat beberapa barang yang tadinya disimpan di lantai pun kini sudah berpindah ke atas kasur. Lantai semen masih terasa lembap. Mama menyodorkan sebuah daster padaku. Aku melongo.
“Pakai ini aja dulu, biar cepat. Nggak enak membiarkan tetangga menunggu lama.” Aku pun segera mengganti seragamku.
“Lama amat sih ganti bajunya?” Alina manyun. Aku tersenyum saja menanggapinya. Ia menuju dapur dan sebentar kemudian kembali dengan piring yang berisi beberapa potong ubi.
“Untung kamu punya kakak yang baik. Nih, kalau enggak kusimpankan, pasti udah gak dapet jatah!”
Tanpa menunggu lama, sepotong ubi rebus pun berpindah ke dalam mulutku. Lezaaat! Sama lezatnya dengan keadaanku saat ini. Berada di tengah-tengah orang yang kucintai. Ya, itu saja sudah lebih dari cukup… untuk saat ini ![]()
































on January 30th, 2009 at 11:22 pm
wah, iya ka, berada di tengah-tengah orang yang selalu sayang sama kita memang selalu mengasyikkan dan menentramkan hatiii . .
he he he
on January 31st, 2009 at 3:08 am
eh adekx alina ntu otakx d’bawah rata2 ya teh??? dpt nilai 10 dari range 0-100.
Tp bagus bgt crtax….
Inilah hidup, kadang d’atas kadang jg d’bawah….
roda kehidupn trz brputar.
dan qt hrslah menerima semua ini dg lapang dada.
walaupn mgkn sulit u/dtrima tp inilh knytaanx….
bgus teh bwt pmbelajaran hidup.
hehehehehe
eh btw aq yg prtama kasi komentar lowh….
on January 31st, 2009 at 4:52 am
Wah, critanya bagus bgt teh ! ngajarin kita biar menerima keadaan. Keren ! Rame ! Seru !
on January 31st, 2009 at 8:25 pm
hiks terharu..
on February 11th, 2009 at 4:51 am
akhir2 ini cerpennya kayaknya cerpen2 untuk remaja atau anak2 ya prith… sarat dengan moral
makin dewasa aja XD
on February 15th, 2009 at 3:17 pm
duhh bener bgt, berkumpul sama orang2 terkasih emang hal yg paling nikmat ……
on February 16th, 2009 at 3:56 am
MnK hIdUp Itu adLh p’JuangN… HrI nI qTa MeNangIs Tp sIaPa yG Tw kLo bSoK qTa bS TerTaWa….
on February 18th, 2009 at 2:52 pm
been there done that bu…
saat keluarga lg terpuruk, rasanya emang pengen nangiiiss trs. tp family what’s that matter, as long as we have each other..nothing else matters
on April 14th, 2009 at 3:25 am
wiiihhh.. hebat bgt.. ajarin bikain novel dund.. salam kenal… kalo bisa, bales yaa..
on May 11th, 2009 at 11:25 pm
keren. thanks
on June 1st, 2009 at 10:50 pm
cerpen kamu bagus.kenapa nggak coba bikin versi cetaknya…?
on June 22nd, 2009 at 9:10 am
. menyentuh bgd . . .
. kita emg hruZ bersyukur dgn semua yg telah diberikan oleh Allah . . .
on July 22nd, 2009 at 12:13 pm
nice story… aku baca bukunya mbak yang lemot… hahahaha terus penasaran gimana orangnya
on August 3rd, 2009 at 8:15 am
nice story…
emg hidup tuh penuh liku-liku
salam sis