Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/prithakh/public_html/wp-includes/cache.php on line 35

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/prithakh/public_html/wp-includes/query.php on line 15

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/prithakh/public_html/wp-includes/theme.php on line 505
CeRiTa PriTh@ » 2008 » April

CeRiTa PriTh@

April 1st, 2008

Pada KM 57

Posted by Pritha Khalida in Cerpen

Aku duduk di sudut sebuah restoran siap saji yang terletak di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat. Nanar kupandangi jalanan di luar kaca. Puluhan kendaraan lalu-lalang di sana. Mereka saling menyalip satu sama lain, seolah sedang mengejar sesuatu. Ah, apa sih yang tak perlu dikejar di kota ini? Semuanya membutuhkan kecepatan yang tinggi untuk didapatkan. Proyek pekerjaan, rumah tinggal, bahkan sekedar sale di mal. Jika tidak buru-buru, maka bersiaplah untuk mendapatkan ampas.

Termasuk jodoh. Ya, item yang satu itu pun konon harus segera dikejar, agar tidak mendapat cap ‘tidak laku’. Ibuku yang usianya sudah menginjak lima puluhan itu seringkali bertanya,
“Kapan dong kamu menikah? Ibu sudah kepingin nimang cucu.”
“Iya, Bu, sabar. Menikah kan tidak mudah. Harus ada pasangan yang cocok dulu.” Begitu selalu alasanku.

Tapi ibu biasanya punya argumen selanjutnya,
“Makanya dicari dong yang cocok itu. Kalau kamu terus sibuk dengan pekerjaanmu, setiap hari pulang larut malam, mana ada yang mau?”
“Tapi Bu, pekerjaanku memang banyak, kok.”
“Ingat umurmu, Mar.”
Itu kalimat pamungkas yang biasanya diucapkan ibu jika aku masih saja ngeyel urusan jodoh: Umur! Dan kalimat itu memang terbukti ampuh untuk membungkam mulutku agar menutup perdebatan ini dengan ibu.
Umur. Umur. Umur.

Apa yang salah sih dengan umur? Bulan lalu aku baru saja berulang tahun yang kedua kalinya dari sweet seventeen. Ya, tiga puluh empat! Lalu, apa yang salah dengan jumlah umur tersebut? Aku toh, cukup menikmati melajang pada angka ini. Karirku di kantor lumayan. Teman-temanku masih cukup banyak yang melajang. Meski yaa, kalau mau pakai hitungan sih, memang lebih banyak yang sudah menikah dan punya anak. Tapi, apa masalahnya? Tidak semua teman-temanku yang sudah menikah, bahagia dengan pernikahannya. Beberapa bahkan sering curhat kepadaku perihal suaminya yang disinyalir berselingkuh, atau malah istri yang baru beberapa bulan menikah, sudah dingin di ranjang. Nah, pernikahan bukan jaminan hidup bahagia bukan? Tapi tentu saja ibuku tak berpendapat demikian.

Sebuah mobil elf terlihat memasuki kawasan parkir. Aku beranjak dari tempat dudukku.
“Yang itu mobilnya?” tanyaku pada penjaga tiket travel yang duduk di pojokan. Ia mengangguk. Aku segera mengemasi barang-barangku. Sekali lagi kuseruput Coca Cola yang terletak di mejaku. Di sampingnya ada dua kertas bekas pembungkus burger yang isinya sudah kuhabiskan sejak tadi.

Aku sudah berada di kursi nomor tiga mobil travel yang akan membawaku ke Bandung. Huh, sebetulnya sih aku pesan kursi nomor lima, yang di dekat kaca, agar bisa tidur nyaman di pojok. Sialnya, seorang ibu berambut keriting ngotot meng-klaim bahwa itu adalah nomor kursi yang dipesannya. Pengurus tiket dan sopir tidak bisa melarangnya. Aku? Kupilih mengalah, daripada harus mendengarkan ocehannya sepanjang perjalanan. Yaa, duduk di dekat pintu juga sepertinya tak terlalu buruk.

Mobil mulai melaju. Aku segera menelan obat anti mabuk. Eit, jangan berpendapat kalau aku suka mabuk di perjalanan, ya… Aku meminumnya sekedar agar bisa tidur. Maklum lah, aku sering mengalami sulit tidur belakangan ini, apalagi di dalam kendaraan, entah kenapa. Mataku pun sedikit demi sedikit mulai terpejam, diiringi oleh bau minyak angin yang menusuk. Hueks! Ini pasti perbuatan si ibu berambut keriting!

“Permisi, Dik, saya mau ke toilet!” kalimat dengan volume super keras itu kudengar di sela-sela tidurku. Aku pun terjaga. Ibu rambut keriting tampak sudah setengah berdiri di sampingku. Maka kumiringkan tubuhku, agar dia bisa keluar.
Aku melihat keluar kaca mobil. Tampak ada pom bensin dan beberapa restoran. Plang bertuliskan ‘Rest Area KM 57 Cipularang’ terlihat beberapa meter di hadapanku. Oh, sudah sampai tempat peristirahatan toh, pantas mobilnya berhenti. Ah lumayan, sudah tidur kurang lebih satu jam. Kuregangkan tubuhku untuk menghilangkan penat. Beberapa kursi penumpang tampak kosong. Mungkin semuanya kebelet pipis seperti si ibu tadi. Tapi sepertinya aku tidak. Ah ya sudahlah, mungkin lebih baik jika aku tidur lagi saja. Maka kupasang posisi yang sekiranya nyaman untuk kembali bermimpi. Hmm, sungguh hebat pengaruh obat anti mabuk pada tubuhku…

Namun tidurku kali ini tidak berjalan semulus yang pertama. Rasanya baru beberapa menit saja aku terlelap, saat terdengar ribut-ribut. Oh, ada apa lagi??
“Mobilnya mogok.” Begitu jawaban seorang perempuan muda yang duduk tepat di sampingku.

“Mogok? Travel besar begini bisa punya armada yang mogok?” tanyaku setengah tak percaya. Ya, travel yang kunaiki untuk mengantarku ke Bandung kali ini adalah rekomendasi kantor. Dan, bukan kali pertama aku mempercayakan perjalanan Jakarta-Bandung ku padanya. Sebelumnya, tak pernah ada kasus mogok.
“Maaf sekali Bu, Pak… Semuanya terpaksa harus turun.” Sopir travel yang sejak aku membuka mata tak kelihatan, kini muncul.
“Mau dibetulkan?” Tanya seorang penumpang yang duduk di kursi depan.
“Mobil ini mau diderek. Tapi tak usah khawatir, satu mobil cadangan sedang dalam perjalanan kemari.”
“Waduuh, bisa telat nih sampai Bandung!” gerutu seorang penumpang.
“Iya, padahal saya ada meeting penting!” timpal yang lainnya.
Satu demi satu gerutuan pun terucap dari semua penumpang, yang kalau tak salah hitung ada tiga belas orang, termasuk si ibu keriting. Dia sibuk memaki-maki travel tersebut.
“Huh, kapok aku naik travel ini! Enggak profesional!” ucapnya ketus, sambil mengipas-ngipas pakai majalah.

Aku melirik ibu itu dengan ketus. Ada tiga tipe perempuan yang sangat tidak aku sukai, pertama perempuan yang suka menggerutu tapi tak berbuat apa-apa, kedua perempuan yang bisanya cuma dandan dan terakhir perempuan dengan otak yang kosong, sehingga isi omongannya dangkal. Kurasa ibu ini mewakili ketiganya. Jadi daripada aku tertular virus ibu itu, kutinggalkan saja ia.

Ada beberapa restoran berjejer di rest area yang juga dilengkapi dengan mesjid ini. Tapi, aku belum lapar. Jadi kucari saja restoran yang sekiranya menyediakan kopi atau cokelat. Lumayan, untuk menetralisir efek mengantuk akibat obat anti mabuk.
Ada sebuah coffee shop kecil di antara restoran steak dan rumah makan sunda. Tampilan luarnya sih oke, hangat dengan warna-warna kayu. Aku membuka pintunya. Hmm, aku menghirup aroma pegunungan. Mungkin dari pengharum ruangan yang ditaruh dekat AC. Sejuk.

“Iced Cappuccino, satu.” Pesanku pada kasir yang mengenakan apron berwarna krem. Ia segera mengetikkan pesananku dan memberikan bill. Dua puluh ribu. Lumayan, lebih murah dari harga rata-rata café di Jakarta. Aku membayarnya, dan menunjukkan tempat dimana aku akan duduk.

Sengaja aku mengambil tempat di dekat jendela, agar bisa melihat proses perbaikan mobil travel yang tadi kutumpangi. Atau, mungkin saja mobil cadangan yang dipesan sudah datang, jadi kan aku tinggal kesana.
Minuman yang kupesan datang. Segera kuseruput, hmmh… segaaar! Terdengar bunyi lonceng. Ada pelanggan yang baru masuk. Seorang perempuan. Cantik. Eh, tidak sih. Tidak begitu cantik. Menurutku yang begini ini lebih tepat disebut manis. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, sedikit gemuk, tapi ah yaa! Ia memiliki lesung pipi yang mengapit hidung mancungnya. Sempurna! Secara garis besar, inilah tipe perempuan yang aku suka.
Perempuan itu menghampiri kasir, tampak memesan sesuatu. Ia tersenyum pada kasir di depannya. Ouwh, nilaiku padanya bertambah. Aku suka perempuan yang murah senyum terhadap pelayan. Menurutku, pastilah perempuan itu memiliki keramahan alami, yang tidak dibuat-buat. Betul lho! Tidak percaya? Mari kita buktikan. Tentu kalian sering melihat perempuan yang tersenyum pada teman-temannya, saudaranya dan pada orang yang lebih tua darinya, sebagai bentuk penghormatan. Tapi jika ia masih memiliki senyum untuk mereka yang kelas sosialnya lebih rendah, seperti pramusaji misalnya, sepertinya tak banyak.

Perempuan itu, ah… mari kita panggil dia Manis. Manis berjalan mencari tempat duduk. Dari sorot matanya, kulihat ia sedikit bingung menentukan tempat duduk. Kenapa ya? Apakah ia termasuk tipe perempuan yang sangat mengutamakan kenyamanan? Karena jika hanya tempat duduk yang dicarinya, masih banyak yang kosong, kok. Tapi kalau tempat duduk yang nyaman, memang sudah terisi semua. Yang di pojokan dengan view bagus, sudah kududuki. Yang di tengah dengan sofa paling empuk, juga sudah ditempati sepasang muda-mudi. Sebetulnya kursi-kursi yang diletakkan di teras juga enak sih, kalau saja ditempati pada sore hari. Sayangnya ini pukul setengah dua siang. Matahari yang bersinar terik, membuatnya sangat tak nyaman sebagai tempat menikmati secangkir kopi.
Hey Manis, di sini saja… Aku tak keberatan kok berbagi tempat denganmu! Aku menatap Manis dengan tatapan yang menyiratkan isi hatiku. Manis melihat ke arahku sambil tersenyum. Jantungku sedikit berlompatan. Senyumnya maniiiiis sekali! Yaa, meskipun akhirnya ia memilih sofa lain, bagiku tak masalah. Karena dari jarak dua meter, aku masih bisa menikmati senyumnya dengan sempurna.

Entah mengapa aku tak bisa melepas pandanganku dari Manis. Mungkin karena ia tak membosankan untuk dilihat. Menit-menit pertama, aku melihat Manis mengeluarkan ponselnya. Ia berbicara pada seseorang di ujung sana. Mukanya terlihat sedikit berkerut. Mungkin kekasihnya yang membatalkan janji. Oh yah, kekasih seperti itu memang menyebalkan, Manis. Aku tahu betul.

Menit-menit selanjutnya, saat minumannya sudah diantar, Manis terlihat sibuk membuka agendanya sambil sesekali menyeruput minumannya. Kurasa, ia pesan minuman yang sama denganku, Iced Cappuccino! Hmm, kebetulan yang bagus. Menurutku, sepertinya Manis adalah perempuan sibuk yang terbiasa bepergian kesana-kemari. Lihat saja tasnya, berukuran besar dengan detail yang simpel. Untuk seorang perempuan yang jarang bepergian, biasanya mereka tidak memiliki tas-tas seperti ini. Yaa, kecuali jika perempuan itu termasuk tipe korban mode yang mengikuti segala mode baru yang ada di majalah atau internet. Tapi kuyakin Manis bukan tipe perempuan seperti itu.

Manis menatapku. Oh tidak! Ia memergoki aku yang sedang terpana menatapnya. Aku jadi salah tingkah. Sesaat kubuka tasku, berpura-pura sibuk mencari sesuatu. Segera kuambil MP3 Player yang selalu kusisipkan di saku tas bagian luar. Kupasang earphone-nya, lalu aku ikut menyanyikan lagu pertama yang terputar di situ. Sometimes When We Touch milik Dan Hill mengalun lembut di telingaku.

You ask me if I love you…And I choke on my reply
I’d rather hurt you honestly…Than mislead you with a lie
And who am I to judge you…On what you say or do?
I’m only just beginning to see the real you

Menurutku ini lagu yang kurang tepat untuk mengiringi perasaanku hari ini. Aku toh tak akan bohong kalau aku menyukai Manis, itu juga kalau dia bertanya. Tak akan pernah juga aku menyakitinya, seandainya ia mengizinkan dirinya menjadi milikku…

Aduuh, kenapa pikiranku jadi melantur begini? Aapakah aku jatuh cinta pada Manis? Jatuh cinta pada pandangan pertama? Seperti remaja saja! Aku kan sudah tiga puluh empat! Mestinya cinta di usiaku lebih dipikir dengan matang dan penuh pertimbangan yang logis. Tidak terburu-buru dan impulsif seperti ini.

Aku kembali menengadahkan kepala. Kurasa Manis sudah tidak menatapku lagi. Ya, betul saja dugaanku. Manis kini tengah sibuk membaca majalah. Ia membuka-buka halamannya. Kadang cepat, kadang baru dibalik setelah beberapa menit. Gaya membacanya hampir sama denganku. Melewat halaman yang tidak menarik dan terpaku pada halaman yang menarik. Tapi ah, manatau ia melewatnya bukan karena tak menarik, tapi karena sudah membacanya.

Aku sudah mulai bisa menguasai perasaanku lagi. Sudah bisa bersikap biasa. Tidak berpura-pura menyanyi untuk menutupi salah tingkah akibat perasaan yang bergejolak tak menentu. Manis… Manis… Bisa saja kau membuatku begini.

Lama-lama aku mulai menyadari sesuatu. Manis mengingatkanku pada seseorang di masa lalu. Bukan karena wajahnya yang mirip. Tapi lebih pada kemiripan sikap. Kemiripan gerak-gerik. Ya, tingkah laku Manis mirip dengannya.

Kirana. Di mana ya gadis itu sekarang? Terakhir aku bertemu dengannya mungkin sekitar enam belas tahun yang lalu, saat kami sama-sama masih mengenakan seragam putih-abu. Kirana yang cantik. Kirana yang sibuk. Kirana yang ramah. Kirana yang penuh perhatian dan setia kawan. Kirana yang apa adanya. Kirana yang… kucium bibirnya untuk pertama kalinya, sesaat setelah ia menumpahkan segala keluh kesahnya padaku mengenai perselingkuhan ayahnya dengan perempuan yang hanya lebih tua dua tahun darinya.

Saat perpisahan sekolah adalah kali terakhir aku melihatnya. Kirana dalam balutan kebaya warna hijau yang cantik, hingga membuatku nyaris tak mengenalinya. Waktu itu dia bilang, mamanya mengajaknya ke Australia, untuk melanjutkan sekolah di sana. Entahlah, aku tak sempat bertanya lebih banyak, bagaimana kelanjutan pernikahan orangtuanya. Saat itu jiwa remajaku hanya mampu menggenggam jemarinya dan mendoakan semoga ia sukses. Itu saja.

Aku kembali menatap Manis. Minumannya sudah habis. Ia terlihat membereskan agendanya. Sepertinya ia hendak meninggalkan café ini. Aduh, aku belum sempat berkenalan. Bagaimana ya? Apakah aku menghampirinya begitu saja, lalu menanyakan namanya, atau terus tersenyum dan berharap ia mengajakku berkenalan lebih dulu?

Manis berdiri. Tidak… tidak! Jangan pergi dulu! Aku pun segera membereskan MP3 Playerku. Aduh, gara-gara terburu-buru, aku malah menjatuhkannya. Sial! Setelah kudapatkan MP3 Player tersebut, aku segera mengangkat kepala. Betapa terkejutnya aku, karena ternyata Manis sudah berdiri di samping mejaku. Jantungku semakin berlompatan tak karuan. Manis tersenyum. Ia membuka mulutnya,

“Mbak Marlita Adriana, kan? Penyiar In The Morning-nya Green FM?”
“Iy… Iya…” aku mengangguk cepat-cepat. “Kok tahu?”
“Ah rasanya semua pendengar radio di Jakarta tahu Mbak, kok. Oya, saya Vina.” Manis mengulurkan tangannya. Aku menggenggamnya dengan hangat.
“Mari Mbak, saya duluan ya.” Ucapnya lembut.

Aku hanya bisa mengangguk mengiringi kepergiannya.