Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/prithakh/public_html/wp-includes/cache.php on line 35

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/prithakh/public_html/wp-includes/query.php on line 15

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/prithakh/public_html/wp-includes/theme.php on line 505
CeRiTa PriTh@ » 2007 » October

CeRiTa PriTh@

October 8th, 2007

Bayu…oh Bayu…

Posted by Pritha Khalida in Cerpen

                                                                                               Pritha Khalida 

Sekali lagi aku mematut-matut diri di hadapan cermin berukuran satu meter yang terpasang pada lemari kayu di sudut kamarku. Disana kulihat ada pantulan seorang gadis remaja yang tampak serasi sekali dengan kemeja putih dan rok abu-abu. Hmmh, menurutku sih rok sepanjanglima senti di bawah lutut ini agak kepanjangan. Mestinya kan sebaliknya,lima senti di atas lutut. Biar terlihat keren dan dewasa, seperti para murid SMA dalam cerita-cerita remaja di televisi itu lho…           

“Aura, cepat sarapan! Katanya mau pergi bareng Ayah. Sudah hampir jam tujuh nih!” terdengar seruan bunda dari ruang makan.           

“Iya Bun, sebentar lagi. Tanggung niih!”            

Kemeja putihnya kukeluarkan agak banyak, biar tak terlihat seperti anak SD yang baru masuk sekolah. Nah iya, begini…Lalu kuoleskan sedikit pelembap bibir…Ya! Rasanya sempurna. Urusan rok yang masih kepanjangan, tak apa lah. Nanti kalau gaung Masa Orientasi Siswa sudah selesai, akan kupotong sedikit.           

“Pagi Bundaaa…”           

Bukannya menjawab sapaanku, bunda malah mengendus-ngendus badanku.           

“Ada apa sih, Bunda? Kok kayak si Bleki aja main endus?”           

“Hush, sembarangan kalau ngomong! Kamu itu pakai parfum satu liter ya, Ra? Kok wangi betul, sih?”           

“Enggak ah, secukupnya aja kok. Mungkin aku emang udah wangi dari sananya, Bun.” Segera saja aku duduk dan menyendok nasi goreng yang sudah disiapkan bunda pagi itu.           

“Bukan begitu. Apa nggak dimarahi guru, nanti? Masa anak sekolah wanginya kayak mau ke pesta?”            “Aduuh, memang kalau pakai wewangian itu khusus untuk ke pesta aja, ya? Ayah kalau jum’atan kan pakai parfum juga.”             “Iya, tapi…”            “Sudahlah Bun, biarkan saja. Kan lebih baik begitu daripada Aura bau kambing, hahaha!” seloroh ayah.             Aku memonyongkan bibir ke arah ayah. Sambil diam-diam dalam hati kuucapkan terima kasih juga padanya. Hebat! Ayah memang selalu menjadi pembelaku jika bunda sudah mulai kumat cerewetnya.            “Ayo, Ra…” ajak Ayah sambil menenteng tas kerjanya.           

“Bun, Aura pergi yaa…Assalamualaikum!”           

“Wa alaikum salam. Hati-hati, Ra!”           

Pagi itu aku pergi ke sekolah membonceng motor ayah. Lumayan, menghemat ongkos angkot. Jarang-jarang bisa begini. Biasanya kan ayah baru pergi jam tujuh lebih tiga puluh.           

“Yah, berentinya jangan pas di depan sekolah yaa…” pintaku mencolek bahu ayah.

“Kenapa? Kamu malu ya cuma diantar pakai motor?”           

“Haduuh ayah ini. Aku kan pakai rok, susah turunnya. Kalau pas di depan gerbang, nanti pahaku kelihatan sama semua orang. Ayah mau?”           

Ayah hanya terkekeh menanggapiku.           

“Makanya jahit rok itu jangan terlalu sempit dong, Ra.” Begitu saran ayah setelah aku berhasil turun dari motor.           

“Aduh segini sih belum seberapa, Yah. Masih banyak kok yang lebih ketat dari aku. Ini namanya mode. Nah, gaya kan?”

kembali aku mematut-matut rambutku di kaca spion.           

“Gaya, tapi bikin repot. Sudah sana, tuh belnya sudah bunyi.”           

Sesegera mungkin aku mencium tangan ayah, melambaikan tangan dan menghilang di antara kerumunan teman-temanku.           

Melangkah di koridor sekolah terkadang membuatku sebal. Pasalnya, koridor sekolah di pagi hari berfungsi layaknya etalase yang menjual barang dagangan. Bedanya, yang ‘dijual’ di sini bukan barang-barang seperti di toko, tetapi etalase koridor sekolah menjual pasangan-pasangan yang sedang mengobrol berduaan. Apalagi kalau ada yang punya pacar keren, seolah-olah di jidatnya tertulis kalimat mengejek, “Aku Punya Pacar Keren, Kamu?”           

Yaa, bilang saja aku iri. Memang demikian adanya. Aku iri sama teman-temanku yang sudah punya pacar. Jangan dulu punya pacar deh, minimal ada yang naksir saja. Dapat bunga, dapat sms-sms mesra, boneka, atau cokelat. Kan aku juga mau!            

Coba lihat! Menurutku, penampilanku sudah keren, wangi dan badanku pun tidak gendut. Sebagai tambahan, otakku tergolong encer. Tapi kenapa sih cowok-cowok di sekolah ini tidak satupun yang naksir aku? Temanku yang penampilannya biasa-biasa saja, ada yang suka. Kenapa aku tidak? Hhh, jangan-jangan murid cowok di sekolahku sebetulnya bermata rabun semua…

*           

“Ra, maaf ya nanti kita nggak bisa pulang bareng.” Bisik Mawar di sela-sela pelajaran biologi.           

“Kenapa?”           

“Aku mau jalan dulu sama Ardi.” Mawar tampak berseri-seri. Pipinya bersemu meraah sekali, seperti tomat. Aku mengangguk saja.           

Dan seperti beberapa siang sebelumnya. Aku kembali menyusuri jalan menuju rumah sendirian. Sambil sesekali menyelipkan doa di dalam hati, Tuhan, sudikah kiranya Engkau memberiku pacar barang seorang saja?’           

BLETAK! Sebuah batu kecil mengenai betisku, terpental dari mobil yang melaju cepat di jalanan.            

“Heh! Gak punya mata ya?! Hati-hati dong kalau bawa mobil!” aku berhenti sejenak, berjongkok memerhatikan betisku yang memerah. Untung tidak luka. Kalau sampai luka memar sedikiit saja, kusumpahi pengemudi mobil itu supaya masuk nerak…           

“Hai, kamu tidak apa-apa?” seseorang menyapaku. Suaranya lembut.            

“Ummh…tid…dak apa-apa, kok…”            

Bohong! Betisku sebetulnya sakit. Tapii…, bagaimana mengatakannya yaa? Orang yang menanyaiku itu, ternyata si pengendara mobil yang tadi ngebut. Dan dia itu…ummmh…keren! Percaya atau tidak, rasanya betisku agak berkurang sakitnya setelah melihatnya.           

“Rumahmu jauh?”           

“Suu…dah dek…kat.” Aduduuh, kenapa aku mendadak gagu begini sih?!           

“Ayo, kuantar.”           

Aku masih mematung di hadapannya. Oh Tuhan, tolong gerakkan kakiku. Jangan biarkan aku tampak norak di hadapan cowok keren ini. Tapi rupanya, kali ini Tuhan sedang tak berkenan mengabulkan doaku.            

“Namaku Bayu. Aku nggak bakalan menculik kamu, kok. Hitung-hitung sebagai permintaan maafku, yuk kuantar.” Ajaknya sekali lagi. Dan kali ini aku tak kuasa menolak ajakannya.           

Aku berada di mobilnya. Sejuk. Tentu saja, karena aku membandingkannya dengan trotoar tanpa pohon peneduh yang biasa kususuri setiap pulang sekolah. Sedikit berkhayal, aku sempat memikirkan bagaimana kalau cowok inilah yang menemani hari-hari pagiku di koridor sekolah? Lalu sudah terbayangkan puluhan pasang mata yang berbalik iri memandangku. Rasakan! Hihihii…           

“Yang cat putih itu rumahku, Kak.”           

“Aah, jangan panggil kakak. Bayu saja.” Ia menepikan mobilnya.           

Bukannya menyegera turun, aku malah diam saja. Bayu memandangiku. Ayo doong, ayoo…Jangan ragu-ragu…ucap hatiku.           

Ya! Aku berharap Bayu mengatakan sesuatu di sini, saat ini. Khayalanku kali ini tak berlebihan. Minimal, dia minta izin untuk sering-sering mampir saja sudah cukup untukku.           

Aku menoleh ke arah Bayu. Dia terlihat sibuk memasang kunci ganda pada kemudi. Ah, mungkin justru dia mau mampir?? Oh la laa, senangnya. Bayu memang jantan. Baru ketemu satu kali saja, ia sudah berniat menemui ibuku. Waduuh, mesti bilang apa ya sama bunda? Apakah aku bilang saja bahwa Bayu itu cowok yang kutemui secara tidak sengaja karena tragedi batu yang mampir di betisku? Atau, kubilang langsung bahwa ia calon… Hush berlebihan! Masa baru sekali ketemu sudah jadian? Jangan doong…Kan aku mau proses yang lengkap, mulai dari naksir-naksiran, sms-sms mesra, dan akhirnya menyatakan cinta dengan cara yang romantis seperti di film.           

“Sudah sampai.” Ia menyadarkanku dari lamunan.           

“Oh…eh…ummh…” Aduh, masa ia tak mengerti, sih? Turun duluan dong, bukakan pintu untukku.           

“Kakimu masih sakit?”           

 “Sed…sedik…kit…”           

Bayu masih diam saja. Aku yakin ia salah tingkah. Mungkin ia juga sedang bingung memikirkan apakah pantas menggendongku untuk menebus kesalahannya mementalkan batu ke betisku…           

“Aura…” 

 “Ya…” aku menjawab pelan. Ups! Seingatku bahkan aku belum menyebutkan namaku padanya. Kok ia bisa tahu yaa? Jangan-jangan, ia sebetulnya sudah lama naksir aku diam-diam??           

“Ummh, sebetulnya aku…”           

Mau minta aku jadi pacarmu? Aduuh, jangan sekarang dong. Kan kurang seru. Masa baru bertemu beberapa menit sudah langsung menyatakan cinta?            

“Aduh, aku jadi nggak enak nih bilangnya.”           

“Nggak apa-apa, bilang aja.” Ujarku dengan kepercayaan diri yang diset setinggi mungkin. Padahal sih, jangan ditanya, jantungku dari tadi sudah lompat-lompat! Sekujur tubuhku sudah dipenuhi keringat.            

 “Maaf ya, sudah bikin kakimu sakit. Tapi, aku nggak bisa lama-lama kali ini.”           

Kali ini? Berarti lain kali bisa dong?! Hatiku bersorak tak karuan.           

“Gak apa-apa. Mau kemana memang? Kuliah?” tanyaku sok dewasa dan sok pengertian.            

“Bukan.”           

“Lantas?”           

“Pekerjaanku belum selesai.”           

Owh, hebatnya! Rupanya dia bukan sekedar mahasiswa yang mengandalkan uang orangtua. Diam-diam aku makin salut pada Bayu.           

“Kerja di mana?” tanyaku lagi.           

“Di…” ponsel Bayu tiba-tiba berbunyi.            

“Iya…saya sedang di jalan, Pak. Iya, mungkin sekitar sepuluh menit lagi saya sampai. Selamat siang, pak.”           

“Aura, aku harus pergi sekarang. Yang punya mobil sudah menelepon.” 

“Memangnya, ini mobil siapa?” aku mulai bingung.           

“Pak Hermawan.”           

“Siapa dia?”           

“Orang yang punya mobil ini, dan mereparasinya di bengkel tempatku bekerja.” 

           Seketika keeping-keping hatiku luluh-lantak. Khayalan akan sms-sms mesra, pamer pacar di koridor sekolah pagi-pagi, pernyataan cinta yang romantis…Semua terbang satu-persatu. Berganti dengan tumpukan LKS dan pe-er yang selalu setia menantiku setiap pulang sekolah, bahkan di malam minggu sekalipun!

            Bayu…oh…Bayu…