CeRiTa PriTh@

August 8th, 2007

Mesin Waktu

Posted by Pritha Khalida in Cerpen

                                                                                                  

             

                                                                                       

                                                                                       Pritha Khalida

Bruk!           

Aku melemparkan map yang berisi file proposal skripsiku yang sudah penuh dengan tulisan bertinta merah-perbaikan dari dosen pembimbingku yang super-perfeksionis itu. Mesti kembali hari senin jika ingin seminar semester ini, begitu pesan dosenku sebelum kami berpisah di lorong kampus tadi.           

Kerjaan bertambah lagi… Artinya, aku kembali nggak punya cukup waktu untuk hang out sabtu malam nanti. Aku juga nggak bisa santai-santai nonton Oprah atau DVD-DVD animasi favoritku. Sebagai tambahan, aku mesti lebih banyak menghabiskan waktuku di hadapan laptop dan menambah risiko mata merah dan sakit leher. Great!    

Kenalkan, namaku Malika. Usia dua puluh empat. Status: Mahasiswa jurusan Psikologi yang belum juga lulus hingga melebihi jatah waktu sepuluh semester. Kenapa? Entahlah. Mungkin karena aku nggak memiliki separuh otak Einstein, atau bisa jadi karena dosen pembimbingku takut merindukanku jika meluluskanku segera. Yang jelas, aku paling tak suka jika ada orang yang bertanya, “Kapan lulus?” Apalagi jika ada pertanyaan terusan, “Lho, memang kuliah di Psikologi itu berapa semester sih?”          

 Ponselku berbunyi, dari Mbak Rahma.           

“Lika, bisa nggak naskahnya dikirim besok pagi?” tanyanya tanpa basa-basi dulu. 

“Ummh, kalo siangan bisa nggak Mbak?” aku mengajukan penawaran.           

“Sebelum jam dua belas ya?”           

“Oke.”           

Klik.            

Oya, aku lupa memberitahu kalian, bahwa selain sebagai seorang mahasiswa skripsi, aku juga bekerja paruh waktu sebagai asisten penulis skenario cerita remaja di tivi. Pekerjaan yang menyenangkan. Tanpa harus berada di kantor sepanjang hari, aku sudah bisa memperoleh penghasilan yang lumayan. Yaa, meski harus kuakui pula bahwa pekerjaan ini tak mudah. Sebagai asisten, setidaknya aku harus bisa menghasilkan satu skenario perminggu, untuk kemudian diedit oleh Mbak Rahma, hingga ia layak masuk ke meja rumah produksi dan tayang di tivi.           

Naskah harus sudah masuk besok sebelum jam dua belas siang. Ya, artinya bertambah lagi lah durasi untuk memelototi laptopku akhir minggu ini. Terdengar ketukan pintu.           

“Masuk aja, nggak dikunci…”           

“Lika, masih punya kertas A4 nggak?” kepala Maria-teman kost ku menyembul. 

“Tuuh di rak situ. Ambil aja.”           

“Satu…dua…tiga… nah sudah, aku butuh

lima lembar saja. Thanks yaa…” ia membalikkan badannya,           

“Berantakan betul sih kamarmu, Lik?”           

“As usual, no need to be asked, darling…” jawabku sambil senyum simpul.           

“Sudah sampai mana memang skripsimu?”           

Ough, pertanyaan itu lagi!           

“Yaa, masih jauh ke sidang.” Jawabku pendek.           

Maria tersenyum maklum. Ia seorang akuntan yang usianya kurang lebih sama denganku. Bedanya, ia sudah menyelesaikan kuliahnya tepat di semester delapan. Perbedaan yang bikin ibuku bertanya, “Kok Maria bisa cepet, sementara kamu enggak?”           

Kupejamkan mata sambil melakukan peregangan. Hufffh! Coba aku punya mesin waktu seperti Nobita. Jika demikian, sekarang juga aku mau pergi ke masa depan. Ke masa dimana hari wisudaku tiba. Sehingga berakhir sudah pertanyaan orang-orang di sekitar mengenai skripsiku yang amat menyiksa. Oooh, aku betul-betul sudah bosan harus bolak-balik ke Rumah Sakit Jiwa untuk melengkapi data skripsiku…Hhh, kalau begini terus lama-lama aku bisa ketularan sakit jiwa.           

Kubuka mataku perlahan.            

Lho, di mana nih? Kamarku berubah. Aku mencoba mengingat-ingat tempat ini. Di dindingnya ada foto cewek bertoga. Kuperhatikan wajahnya. Mirip denganku. Ah, aku pasti bermimpi. Ketika sedang mencubit pipi, seseorang memasuki kamar.           

“Heugh, emang nggak ada lagi yang bisa dikerjakan sama perempuan muda selain ngurusin kawin yaa??” perempuan itu mengomel. Hey, itu aku!            

Ooh, sepertinya Tuhan mengabulkan doaku untuk memiliki mesin waktu. Aku bertemu dengan diriku, yang… entah berapa tahun kemudian. Kucoba memanggilnya. Tapi ia tak mendengar suaraku, bahkan melihatku pun sepertinya tidak.            

Malika di hadapanku kemudian menuju meja belajar, duduk di situ dan… membanting frame foto Abi. Lho, kenapa? Kau… eh, apakah pada usia ini aku putus dengan Abi?            

“Brengsek! Gimana mau kawin kalau calonnya aja udah kabur sama cewek lain?” gerutunya.           

Abi selingkuh? Masa sih?? Diakan baik…           

Ponselnya berbunyi. Ia mengangkatnya. Tak bicara apa-apa sih, tapi dari raut wajahnya aku bisa menangkap kalau ia tak suka dengan topik si penelepon.           

“Ma, aku nggak mau kencan sama siapa-siapa lagi. Aku capek, Ma.”           

Ia diam lagi agak lama, sampai akhirnya membanting ponsel ke kasur.           

“Oooh Tuhan, apa kata Kartini kalau tahu perempuan jaman sekarang masih ada yang belum bebas untuk menentukan jodohnya sendiri? Salah yaa kalau aku masih melajang di usia menjelang kepala tiga?!” dengusnya kesal.           

Apa?? Dia, eh aku belum juga laku menjelang tiga puluh? Oh NO! Aku mengusap wajahku sambil berdoa semoga ini hanya mimpi.           

Aku merasa berputar. Pusing. Sekelilingku tiba-tiba empuk. Kubuka mataku. Lho… aku sudah berpindah tempat lagi. Tapi, masih bukan di kamar kost-ku.           

Kulihat sekelilingku, mencoba mengingat-ingat tempat ini. Berantakan. Selimut belum dilipat. Bed cover menumpuk di lantai. Aroma wangi memenuhi hidungku. Kuhirup dalam-dalam, hingga dapat memastikan bahwa ini bukan aroma parfumku.

Seseorang memasuki kamar. Laki-laki! Ummh, siapa sih dia?? Sebelum berhasil mengingat siapa lelaki tersebut, ada seorang perempuan yang datang. Itu aku! Lalu, apakah itu suamiku kelak? Hmmh, lumayan lah. Nggak jelek-jelek amat. Yaa, setidaknya ternyata aku laku juga, hihihi…           

“Kenapa sih kamu selalu nolak kalau aku ajak periksa, Mas?”           

“Karena aku merasa nggak ada yang salah dengan tubuhku.”           

“Jadi menurutmu aku yang mandul, gitu?”           

“Aku nggak bilang begitu…”           

“Tapi bisik-bisik di sekitar bilang begitu, Mas! Pasti Malika mandul. Masa sudah empat tahun kawin belum juga bisa hamil?? Padahal kata dokter, nggak ada masalah dengan rahimku.”           

“Ya sudah kalau gitu. Nggak usah pusing.”           

“Nggak pusing gimana? Kamu tahu nggak sih, kalau setiap hari setidaknya tiga orang yang nanya kapan punya momongan?? Belum lagi ibumu bilang, hati-hati lho kalau melahirkan di atas usia tiga puluh

lima itu rawan… Bla…bla…bla…”           

“Yaa, bilang saja memang belum dipercaya Tuhan, mau gimana lagi?” laki-laki itu tetap menjawab dengan enteng.            

“Seengaknya kamu periksa, apa susahnya sih Mas?”           

“Jadi kamu nuduh aku mandul?”           

“Aku nggak bilang gitu. Aku cuma…”           

“Ya sudah, nggak usah paksa-paksa terus.”            

Laki-laki yang belum juga berhasil kuingat identitasnya itu pun pergi meninggalkan aku, si Malika yang juga belum bisa punya anak setelah berusia thirty something.           

Ia menghempaskan tubuhnya yang terlihat letih ke atas ranjang. Menatap langit-langit dengan nanar. Aku merasa tak enak. Apa yaa namanya perasaan ini? Antara iba, takut, sedih…dan… pokoknya campur aduk deh kayak sop buah. Tepatnya sop buah yang sudah basi.            

Jutaan pertanyaan berdengung di kepalaku. Mempertanyakan apa yang salah dengan diriku? Kenapa nasibku jadi buruk seperti ini? Menikah tapi sulit punya anak. Belum pula suami yang menyebalkan, tak punya toleransi sedikitpun. Huh, dasar laki-laki!

Terdengar isakan. Ia menangis. Mungkin lebih tepat kalau disebut merintih. Aku duduk di sampingnya, mencoba membelainya, namun tak bisa. Aku invisible baginya.

Tuhan… maafkan aku. Tadinya kupikir semua akan baik-baik saja jika aku sudah menyelesaikan skripsiku. Kupikir, aku akan membuat bangga kedua orangtuaku setelah gelar S-1 sudah kuperoleh. Kupikir, aku akan segera mendapatkan pekerjaan bagus, menikah dan punya rumah tangga yang bahagia. Yaa, kupikir tak akan ada lagi yang membebaniku setelah aku menyelesaikan kuliahku. Minimal, jika aku sudah tak lagi tergantung secara finansial kepada orangtuaku, kupikir masalahku selesai, karena aku tak perlu lagi membuat laporan atas apa-apa yang kukerjakan pada mereka.           

Ternyata aku salah. Salah total!           

Ingin rasanya aku kembali pada keadaan terakhir yang kualami, mengerjakan skripsiku. Kembali berkutat dengan laptopku-yang beberapa minggu lalu sempat ingin kubanting karena mengandung virus yang menghabiskan semua dataku, sehingga membuatku terpaksa mengulang banyak pekerjaan.           

Ingin rasanya aku bisa kembali menikmati secangkir ice chocolate kesukaanku di Starbucks, sambil mengamati para remaja yang seringkali menjadi inspirasiku saat menulis naskah skenario. Oya, apa kabar Mbak Rahma saat ini? Apakah setelah menikah aku masih menjadi asistennya?            

Aku melangkah menuju jendela. Sempat terlihat sebuah kunci BMW di meja. Ouw, apakah itu mobil pertamaku?? Hebat betul! Apa yaa kira-kira pekerjaanku hingga berhasil menabung untuk membelinya? Dulu, untuk membeli motor matic pertamaku saja, aku harus urunan gajiku dengan pinjaman tanpa tenggat waktu dari ayah.

Kupejamkan mata. Berharap mesin waktu membawaku pulang. Pulang ke masa dimana aku berusia dua puluh empat. Ke akhir pekanku yang sempat kusesali karena terpaksa harus menghabiskan waktu untuk begadang di hadapan laptopku.           

Taraaa! Kubuka mataku dan bersiap untuk tertawa menyambut map skripsiku dan mencium laptop kesayanganku.           

Tapi… lho, aku masih di tempat yang sama?!?           

Ah, pasti ada yang salah.            

Baiklah, akan kucoba lagi. Mungkin tadi aku kurang berkonsentrasi.            

Kupejamkan mataku 1…2…3…            Huup!           

Tetap tak berubah. Masih kamarku yang tadi. Tempat dimana Malika yang sudah menikah menangis karena suaminya yang tidak punya rasa empati itu meninggalkannya.           

Tapi hey!

Ada yang berubah. Kamarnya sudah rapi sekali. Kapan dibereskannya? Siapa yang membereskan? Kok cepat sekali, sampai aku tak menyadarinya?           

“DOOOR MAMAA!” seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun memasuki kamar sambil mengacungkan sebuah pistol air. Ia masih mengenakan seragamnya.           

“Mama mati doong!” katanya lagi. Aku menoleh ke setiap sudut, mencari orang yang dipanggilnya mama.           

BRUUK! Aku tersungkur. Anak itu menubrukku. Lho??           

Kini wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku.           

Mama, tadi pe-er gambar Mail dapat delapan.” Katanya.           

“Oya?” aku menjawabnya masih dalam keadaan bingung.           

“Iyaa… Siapa dulu dong mamanya…”           

“Mama?”           

“Iyaa.

Kan semalam mama yang bantu Mail gambar apel.” Ujarnya kenes.           

Aku? Membantu menggambar apel??            

“Nanti bantuin Mail bikin pe-er mengeja yaa?”           

“Sama mama?” kataku sambil menunjuk hidungku.           

“Iya doong. Mail nggak mau sama papa ah, suka disuruh buru-buru terus. Nggak asyik!” Anak bernama Mail itu lalu beranjak menjauh. Aku bangun perlahan.           

“Mama, ada tukang es krim. Mail mau yaa??” tunjuknya pada tukang es krim yang lewat di depan rumah. Aku mengangguk.            

“Yang besar, boleh?”           

Aku mengangguk lagi. Ia berlari, namun beberapa detik kemudian kembali lagi. 

“Uangnya mana?”           

Tanpa sadar aku merogoh sakuku. Di situlah aku baru menyadari bahwa pakaianku kini sudah berganti. Aku tak lagi mengenakan t-shirt dan celana jins yang tadi kupakai sepulangnya dari kampus. Aku kini memakai blus berwarna khaki dengan celana palazzo berwarna senada. Haah??           

Ada uang dalam saku celanaku, segera kuberikan pada Mail,           

“Segini, cukup?”           

Ia mengangguk dan berlari dengan riang keluar kamar.           

Kini giliranku sibuk mencari cermin.            

Kudapati cermin besar di sudut ruangan. Aku mencermati bayanganku disana.

Ada sosok seorang perempuan dewasa dengan stelan resmi. Rambutku panjang tergerai. Garis-garis halus terlihat di bawah mataku. Dan, ouwh!

Ada selembar uban menyembul di antara rambut hitamku. 

            Aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa mesin waktuku mungkin rusak secara permanen, sehingga aku tak bisa kembali lagi ke masa kuliahku. Oooh Tuhan… tolong kembalikan aku. Deadline revisi skripsiku dua hari lagiii!!

17 Responses to ' Mesin Waktu '

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to ' Mesin Waktu '.

  1. ippen said,

    on August 8th, 2007 at 2:36 am

    hemmm.. Sabar itu indah…
    hidu itu penuh masalah.. masalh itu akan terasa indah tergantung bagaimana kita menyikapinya *nyontek Aa Gym*
    hadapi hidup dengan ikhlas….
    *kok gue mendadak bijak* hehehe

    itu Mail kembar apa nggak?
    hehehe :P


  2. on August 10th, 2007 at 9:03 am

    ada kok yang lebih menarik daripada sekadar kuliah, yakni bekerja dan mencoba sisi hidup yang lain.. meskipun romantisme masa lalu terasa lebih memabukan..

  3. inashaa said,

    on August 10th, 2007 at 12:39 pm

    ka, ceritanya seru bgt ka.. kereeen !! jd inget, pas baca komik “hai miiko”.. critanya si miiko tu badannya pendek bgt, trus dia pngen bgt bisa lihat masa depannya, di jalan dia ktemu peramal.. si miiko dikasi bola kaca sm pramal itu.. pas dia buka pintu kamarnya, mendadak smua berubah.. dia udah SMA.. eh ternyata dia bisa jd tinggi dan pacaran sama rivalnya sendiri.. hhehe.. jd pngen liat masa depan.. tp takut kayak cerpennya ka pritha.. hehehe :D

  4. sa said,

    on August 13th, 2007 at 9:59 pm

    lg putus asa ya…
    ndak papa.. jalankan masa2 putus asanya.
    asalkan nanti ingat lagi utk bangkit ya.

    coba mesin waktu nya dipinjemkan ke belanda donk. :)

  5. deen said,

    on August 14th, 2007 at 6:05 am

    wah, cerpennya unik euy…. obrolin sesuatu yg sangat2 slalu dptanyakan oleh perempuan2.. “Besok gw kayak apaan y?..” .. YUP..!.. Most of women are dreamers..
    Two thumbs up deh..

  6. apenk said,

    on August 14th, 2007 at 6:26 am

    keren bgt nee cewe nya ippen ^_^


  7. on August 14th, 2007 at 7:24 am

    hmmm..pas masuk ke masa depan itu kyanya alurnya kecepetan (iya ga sih?)..tp critanya bagus..masalahnya..endingnya kok horror gtu. hepi ending dunk mbak, hiks…hehehheheh

    aku suka cerpennya, keren

  8. Iko said,

    on August 14th, 2007 at 8:55 am

    Yaaa… sayang banget. Dari usia 24 menuju usia yang dewasa, langsung punya anak lagi, hehehe…

    Sisanya gak dinikmati donk… hehehe…

  9. aRai said,

    on August 17th, 2007 at 2:02 pm

    kirain teh lagi cerita pribadi … ari pek teh cerpen geuningan … untung weh teu di baca semuana … pas liat ka bawah kategori cerpen … baru mudeng dah bahwa ini teh cerpen …

    uluh … uluh … si neng pinter lah :D

  10. Hannie said,

    on August 17th, 2007 at 2:47 pm

    wahhh…. udah serius bacanya, kirain ini curhatmu, eh kok namanya jadi beda banget yahhh??? hehhehe…
    mesin waktu kek gini, aku mo pinjem tapi… takut kuciwa!!! wakakkkkk… hiks.

    madesu….. :p

  11. angky said,

    on August 18th, 2007 at 11:58 am

    hehehe..suka mimpi punya mesin doraemon…kek gw donkk!!

  12. denny said,

    on August 19th, 2007 at 1:43 pm

    life can be fun Prith…
    Chayoo..!

    ceritanya bgs, qm curhat ya..
    don’t worry girl..,lingkungan hidup itu g cm seputar wisuda, qm tau g, qm itu keren bgt, g byk org yg bs kyk qm, tetaplah semangat n berdoa, Dia g akan biarkan yg buruk datang padamu.., key..

  13. Reeree said,

    on September 19th, 2007 at 2:32 pm

    excellent…bgs bgt c…..
    buatny bRp har tuch?
    cemangat …buat yang lebih dan lebih bagoez lagi ya…..

  14. niar said,

    on November 29th, 2007 at 9:59 am

    masuk akal kah ??

  15. santi said,

    on December 14th, 2007 at 4:48 am

    hai…cerpen km bagus dech…makasih

  16. taqi said,

    on April 3rd, 2008 at 6:38 am

    keren banget.. seru juga endingnya gak bisa balik lagi… mau dong mesin waktunya, mau liat taqi nikah sekalian liat calon besan :P

  17. Tya said,

    on December 14th, 2008 at 3:44 pm

    Gw banget dah!
    Pengen punya mesin waktu..
    Klo bneran punya, aq justru pengen balik ke masa lalu. Biar aq bisa ngehindarin ketemu sama bajingan2 yg kelak bkal nyakitin aku.
    Caiyo Pritha.. Salute to u!

Leave a reply