CeRiTa PriTh@

August 24th, 2007

Kucing Kucing Rayya

Posted by Pritha Khalida in Cerpen

                                                                                                    

                                                                                           

                                                                                    Pritha Khalida                       

“Haatsyi!” untuk kesekian kalinya aku bersin pagi ini. Ergh! Ini pasti gara-gara peliharaan gadis sok ‘pintar-cantik-lugu’ itu.           

Namanya Rayya. Dia adik tiri yang baru saja kudapatkan setelah Papa menikah lagi sama tante Renata. Umurnya enam belas, tepat satu tahun di bawahku. Tapi karena dia pernah masuk kelas akselerasi, jadilah di sekolah kami satu kelas (uh, seandainya Papa berpikir lebih panjang untuk tidak memindahkan sekolahnya. Menikahi ibunya nggak berarti mempersatukan anak-anaknya jugakan?)           

Semua orang pasti mengira kalau aku iri padanya. Biar kujawab, IYA. Bagaimana tidak? Begitu sampai di rumah ini, Papa langsung menyuruhku pindah ke kamar belakang, sementara ‘Nona Rayya’ menempati kamar lamaku. Sebagai tambahan, aku mesti selalu mengajaknya kemanapun aku pergi. Mesti lah kami belajar sama-sama, makan sama-sama, dan merasakan segala perasaan sama-sama. Anehkan papaku? Dan yang paling aku benci, Papa mengizinkan gadis itu memelihara kucing di rumah ini. Padahal Papa tau persis kalau aku fobia pada binatang berbulu! Mending kalau cuma seekor, ini sih tujuh ekor! Sekalian saja ubah rumahku jadi tempat penampungan kucing. Menyebalkan! 

Rayya tau kalau aku tidak setuju terhadap idenya untuk memelihara binatang di rumah ini. Tapi waktu itu dia menggunakan strategi ‘memelas-memohon perlindungan’ padaku untuk membolehkan kucing-kucingnya tinggal bersama kami. Bahkan dia juga berjanji bahwa aku boleh mengusir kucingnya seandainya seekor saja menggangguku. Pintarnya si sok lugu itu memohon di depan Papa. Membuatku tak punya pilihan lain kan?           

Hari demi hari berlalu. Rayya memang menepati janjinya. Kucing-kucingnya tidak dibiarkan berkeliaran di dekat kamarku. Tapi yaa ampun, bulu-bulu kucing yang terbawa oleh angin itu selalu membuatku bersin.            

“Ya, kenapa sih kamu kayak yang cinta mati sama kucing-kucing itu?” tanyaku padanya suatu hari, saat kami sedang menonton tivi.           

“Mmhh…kenapa ya? Aku sendiri nggak tahu, Kak Lyt. Mungkin karena mereka itu binatang-binatang yang lucu. Aku pelihara mereka rata-rata dari bayi. Coba Kak Lyt bayangkan, melihat anak kucing sejak mereka baru lahir, mengamati pertumbuhannya dari hari ke hari…Semuanya membuatku sayaaang sekali sama mereka. Seolah-olah aku tak akan bisa hidup tanpa mereka, deh!”            

Yaiks, benci deh aku melihat gayanya yang sok manis dan penyayang itu. Berlebihan! Bahkan di mataku terkesan palsu!            

Seekor kucing mendekati kami.            

“Gyaaa!!!” teriakku sambil spontan melompat ke atas sofa. Jelas aku kaget setengah mati. Dari jarak beberapa meter, ia sudah terlihat bagaikan monster yang akan menerkamku, dengan terlebih dahulu menebarkan kutu-kutu yang bisa bikin kulitku gatal-gatal, selanjutnya masuk ke aliran darahku, dan wuuzz…menghilangkan nyawaku.           

Bilang aku berlebihan. Tapi, bukan salahku dong kalau aku fobia terhadap binatang berbulu. Aku sendiri nggak tau sebabnya. Tapi yang jelas, jika selama ini aku selalu berhasil menghindari mereka, kenapa sekarang tidak? Memberi kesempatan untuk dikalahkan oleh kucing-kucing sial itu? Nanti dulu…           

“Aduhh Kak Lyta, jadi balik lagi deh si Sasha. Kayaknya dia ketakutan mendengar jeritan kakak.” Gumam Rayya sambil menyusul kucing berbulu putih-cokelat itu keluar rumah.            

“Dia yang bikin aku kaget, tahu!” makiku jengkel.           

Hhh, lebih baik aku kembali ke zona nyaman, yaitu kamarku. Kumatikan tivi di ruang tengah. Sebelum memasuki kamar, aku mengelap terlebih dahulu pegangan pintu kamarku dengan tisyu basah yang selalu kubawa di dalam saku bajuku. Rayya sering sekali masuk ke dalam kamarku untuk pinjam barang atau numpang tidur kalau AC di kamarnya rusak. Jadi, pastilah sedikit banyak tangannya pernah menempelkan bulu-bulu kucingnya di pegangan pintu kamarku. Jadi, wajarkan kalau aku menyiapkan tindakan preventif dengan membersihkannya? Aku tidak mau ambil resiko tertular virus dari binatang berbulu, apapun jenisnya.

*           

Sore hari, aku baru pulang dari sekolah. Rasanya kerongkonganku seperti terbakar. Haus. Kuputuskan untuk langsung ke dapur tanpa mencopot sepatuku terlebih dahulu. Air di dispenser pun segera berpindah ke dalam mug bertuliskan namaku yang besar. Aku menggeser kursi di ruang makan. Papa selalu bilang tak baik minum sambil berdiri, seperti orang yang tak menghargai pemberian Tuhan katanya.           

“Aaaaarrrrggghhh!”            

“Praaaaaaaaaang!”           

“Meeoooooong!”           

Nyaris bersamaan tiga suara gaduh itu terdengar di ruang makanku. Wajahku terasa dingin sekali. Jantungku berdetak kencang. Seluruh badanku gemetar.Setengah berlari Tante Ren menghampiriku dengan alat catok rambut di tangan kanannya,           

“Ada apa, Malyta?”             

“A…ad…da SET…TAAN.” Jawabku agak gugup, namun menekankan kata setan.           

“Aduuh itu si Valya sampai sembunyi di pojokan. Pasti tadi dia ketakutan mendengar suara barang pecah. Sini sayaaang…” tante itu serta merta beralih pandang, dariku menjadi ke arah kucing putih kecil basah kuyup yang meringkuk di pojokan bawah wastafel. Ia lalu menggendongnya dan menciuminya seolah makhluk itu adalah seorang bayi kecil mungil yang baru saja dilahirkannya.            

“Omiiing…tolong dong itu beling di ruang makan dibersihkan! Nanti ada yang luka, lagi.” Teriaknya memanggil pembantu kami. Ia lalu meninggalkanku tanpa peduli sedikitpun.           

Aku masih mematung di samping meja makan. Berharap bahwa yang barusan itu mimpi. Sementara kulihat Oming mulai memunguti beling berukuran besar, menyapu yang kecil, dan mengelap serbuk beling pelan-pelan.           

“Permisi, neng Lyta…” ujarnya menyadarkanku bahwa ini bukan mimpi.            

Aku bergeser tanpa bicara apapun, memandangi mug porselen kesayanganku, hadiah ulang tahun dari almarhumah Mama tiga tahun yang lalu.

*           

Malamnya Rayya tidak mau makan. Tante Ren bilang, dia sedih karena si Valya-kucingnya terlihat murung sejak siang.            

“Rayya memang begitu, Mas. Dulu saja waktu Hansel mati, dia tidak mau makan berhari-hari. Sejak kecil dia pecinta kucing. Sepertinya kucing-kucing itu sudah menjadi sebagian dari nyawanya.”           

“Hoekk!” aku tersedak. Sungguh, kalimat itu benar-benar tidak penting untuk terdengar di telingaku.           

“Tapi nanti dia bisa sakit. Ayolah bujuk supaya makan sedikit saja.” Ucap Papa sabar.           

“Nanti aku coba lagi.” Ujarnya sambil menyendokkan sup ke piring Papa           

“Atau, bagaimana kalau Lyta saja yang ajak Rayya makan. Mungkin kalau sama kamu, dia terhibur.” Bujuk Papa.           

“Oh iya, betul! Hitung-hitung permintaan maaf karena tadi Lyta sudah membuat kaget Valya. Maukan Lyta? Tante mohon yaa?” kali ini Tante Ren memandangku dengan tatapan yang dibuat menyerupai malaikat.

“APA? BIKIN KAGET? Tante pikir aku sebegitu nggak punya kerjaan lantas NGAGETIN KUCING SIAL itu?” semburku kesal.           

“Lyta, apa-apaan sih? Kalau memang salah, ya cepat minta maaf. Masa sampai diminta saja nggak mau?”           

“Enggak Pa, bukan begitu ceritanya. Aku tadi mau minum, terus kucing itu ternyata lagi tiduran di kursi ruang makan. Ya aku yang kaget, dong. Bukan salahku kalo air di gelas tumpah, dan kucingnya Rayya tersiram…”           

“Ayo sana, minta maaf sama Rayya, ajak dia makan sama-sama kita, baru kamu boleh melanjutkan makanmu.” Kali ini suara Papa tegas. Artinya: tak bisa dibantah, apalagi diabaikan.           

Kuketuk pintu kamar Rayya, setelah tak lupa sebelumnya mengelap pegangan pintunya dengan tisyu basah andalanku. Hhh, ini pasti sarang virus!           

“Masuk saja kak Lyt, nggak dikunci kok pintunya.”           

“Ada kucing nggak di dalam?”           

“Nggak, mereka semua sudah Aya simpan di gudang.”           

Akupun masuk, melihat kanan-kiri. Yaa, barangkali saja masih ada seekor yang lupa dikeluarkan olehnya.           

“Nggak ada, Kak. Mama nggak mengizinkan aku simpan kucing di lantai dua. Takut masuk kamar kakak nantinya.” Rayya menghilangkan keraguanku.           

“Ya, makan gih. Kenapa sih cuma gara-gara kucingmu nggak mau makan, lantas kamu ikut-ikutan mogok makan begitu? Nggak masuk akal deh, Ya…”           

“Oming bilang, mug kesayangan kakak pecah ya gara-gara Valya? Maafkan Valya ya, kak…” ujarnya ketakutan.           

Aku mengangguk. Bagus deh, kurasa Rayya lebih tahu diri daripada ibunya.           

“Kakak nggak bakalan mengusir kucing-kucingku, kan?”           

“Asal kucing-kucing itu nggak berkeliaran di dapur. Kamu bisa jamin, nggak?” tegasku.           

“Aku janji. Apapun maunya kak Lyta, aku penuhi. Asal jangan sampai kakak usir kucing-kucing aku. Aku sayaaang banget sama mereka. Ya kak? Aku mohon…”           

“Ya sudah, sekarang makan dulu. Akukan lapar. Gara-gara kamu, makanku jadi terhenti.” Nada kesal masih menguasai suaraku. Aku tak peduli. Kalau aku ramah, bisa-bisa nanti dia merasa dikasih hati, lalu minta jantung lagi…

*           

Kalau kalian menduga permusuhanku dengan kucing-kucing sial itu berakhir sejak tragedi pecahnya mug kesayanganku, berarti kalian SALAH BESAR. Aku sendiri tidak tahu mengapa. Tapi sejak saat itu Rayya malah terkesan seperti menantangku.           

Beberapa hari yang lalu kaus kesayanganku bolong. Aku memarahi Rayya, karena kupikir salah seekor kucingnya lah yang membuat ulah seperti itu. Yaa, bisa sajakan kausku digigiti, atau dicakar? Itu kebiasaan kucing, bukan? Tapi Rayya dengan gagah berani membela kucingnya. Katanya, bolong di kausku itu pasti karena digigit tikus sewaktu dijemur. Hahh?? Memang ada tikus yang bisa lompat-lompat ke jemuran? Lagipula setahuku, di rumah ini belum pernah ada tikus. Tapi Papa membela Rayya. Katanya, aku tak boleh menuduh kucing-kucingnya sembarangan, tanpa bukti. Hhh…sudah kayak sidang pengadilan saja!

Minggu ini jumlah kucingnya bertambah banyak. Entah karena ada yang baru lahir, atau Rayya memungutnya dari parit, aku tak tahu pasti. Yang jelas, anak-anak kucing itu punya tempat terhormat di dalam keranjang berlapis bantal di kamar Rayya. Sempat aku mengingatkan Rayya mengenai janjinya untuk tidak menaikkan kucing ke lantai atas. Tapi apa kata Rayya? Ia malah beralasan bahwa kucing-kucing itu masih bayi, takut dimakan sama kucing jantan dewasa. Ahh, masa sih ada aturan kayak begitu di dunia kucing? Aku tak tahu, juga tak percaya. Jadi kupikir, pasti Rayya mengada-ada. Tapi ahh, kubiarkan saja. Daripada nantinya urusan jadi panjang sampai ke kuping Papa??

*           

Pada malam harinya terdengar berisik suara anak kucing dari dalam kamar Rayya. Aduhh! Makanya kubilang juga, satukan saja mereka sama induknya, biar disusui. Jangan-jangan adik tiriku sudah gila dengan berpikir bahwa dia bisa menyusui anak-anak kucing itu melalui payudaranya. Terlalu! Rasanya kali ini kemarahanku sudah mencapai puncaknya.           

“Ya, lu udah gila ya? Cepat keluarkan kucing-kucing sial itu. Simpan lagi di garasi, atau gue racun mereka!” teriakku lantang dari depan pintu kamar Rayya. Kata ganti yang kupakai pun sudah berganti dengan gue-lu, bukan aku-kamu lagi seperti biasanya. Sekarang aku sudah tidak peduli lagi sama campur-tangan Papa. Rasanya ini hakku untuk memperoleh kenyamanan tidur.           

Rayya tak menjawab. Kudengar ia berusaha membujuk kucing-kucingnya agar berhenti mengeong. Tapi, usahanya gagal. Suara mereka malah makin kencang saja. Oh Tuhan!!           

“Rayya, BUKA PINTU CEPAT!”           

Terdengar langkah-langkah terburu-buru di tangga. Papa sama tante Ren. Biar saja mereka marah. Waktunya bagi mereka untuk memahami, bahwa aku sudah betul-betul TERGANGGU.           

“Lyta, ini kan sudah malam. Kenapa sih mesti teriak-teriak?”            

“Papa terganggu sama teriakanku? Tapi masih bisa tidur nyenyak dengan berisiknya suara kucing-kucing sial itu? Hebat yaa?” ucapku sinis.           

“Ssstt…nggak enak didengar tetangga.”           

“Biar saja mereka dengar. Paling-paling mereka juga mau complain sama Papa karena nggak bisa menanggulangi keributan yang ditimbulkan sama peliharaan anaknya.”           

Papa dan tante Ren kali ini ikut mengetuk kamar Rayya.           

“Yaa, izinkan mama masuk ya?” tante Ren membujuk Rayya.           

Cuma mama tapi?” suara Rayya terdengar pelan.           

“Nggak! Tapi sama gue, sekalin bawa bulldozer buat MATIIN piaraan-piaraan lo yang GANGGU BANGET itu.”           

“Lyta masuk kamar!”           

“Tapi Pa…”           

“Biar tante Ren yang bereskan semuanya. Kamu MASUK KAMAR.”           

“Awas ya, kalo besok tuh kucing-kucing masih kedengeran suaranya, gue mampusin, Ya!” ancamku.           

Aku kembali dan memaksakan diri tidur di antara suara bising yang betul-betul kubenci itu. Aku bersumpah, kalau besok Rayya tak menyimpan anak-anak kucing itu ke garasi, akan kuracuni mereka, bagaimanapun caranya.

*           

Hari ini, 1 November 2007. Hari ulang tahunku yang ke delapan belas. Seperti biasa, aku selalu senang membuka berbagai kado yang kuterima. Mengocok-ngocok kado untuk mengira-ngira isinya, selalu menjadi ritual menyenangkan untukku.            

Tapi ternyata tahun ini, aku tak mendapat kado yang terbungkus kertas kado warna-warni. Cuma warna putih. Ya, pembungkus kadoku tahun ini semuanya berwarna putih. Coba kuhitung, ada sebelas bungkus kecil-kecil, ditambah dengan satu bungkus besar yang sama ukurannya dengan tubuhku. Senang sekali aku, khusus tahun ini banyak orang yang datang untuk merayakan ulang tahunku. Lihat, di sudut sana ada nenek, lalu tante Riska, Tante Vonie, Om Hendra…Yaa, banyak juga pihak keluarga Tante Ren yang datang. Rasanya ini pesta ulang tahunku yang paling meriah!           

Tapi, sebagian dari mereka menangis. Kenapa ya? Ahh, mungkin karena terharu menyadari bahwa aku sudah dewasa.            

Kado-kadoku dimasukkan ke dalam tanah oleh beberapa orang tetangga. Ah yaa, aku tahu…pasti biar aman dari pencuri. Tak apalah. Semua orang kembali menangis saat bungkus kadoku yang terbesar dimasukkan.

Ada apa sih? Aku saja tak masalah berjauhan dengan kado-kado itu.

            “Pembunuh! Kamu membunuh Rayya hanya karena membenci kucing-kucingnya. Sampai hati! Sudah gila kamu, Lyta! Penjarakan diaaa!!” tuding tante Ren kepadaku.

Apa katanya? Pembunuh? Ada-ada saja. Memang aku tak ada pekerjaan lain? Aku

kan hanya memberi jalan keluar agar Rayya bisa tenang bersama-sama dan merawat kesepuluh kucingnya, tanpa menggangguku tentunya. Bukankah Rayya pernah bilang,  “…seolah-olah aku tak akan bisa hidup tanpa mereka, deh…”            Beberapa orang berbaju putih membawaku pergi. Katanya sih aku harus menjalani pemeriksaan di RSJ. Tempat apa itu yaa? Semacam perkemahan musim liburan kah? Apapun itu, kuharap tak ada kucing lagi disana.

Next Page »