Cinta Yang Sempurna
Pritha Khalida
Aku mencintai ibuku, lebih dari apapun yang kumiliki di dunia ini. Ibu begitu berarti untukku. Bukan hanya karena rahimnya telah kutempati selama lebih dari sembilan bulan, dan air susunya kering untukku. Bukan hanya karena itu, aku mencintainya. Ibuku kucintai dan kuhormati lebih dari sekedar itu. Ibu bagaikan malaikat dalam hidupku. Sejak segala inderaku dapat merasakan berbagai stimulus, ibulah orang pertama yang dekat denganku, mengobrol dan bercerita tentang banyak hal kepadaku, mengajarkan apapun yang kubutuhkan untuk bertahan hidup. Yang paling penting, ibu pula-dengan semua ketegarannya, yang mengajarkanku untuk dapat membedakan mana omongan orang yang patut didengar dan mana yang tidak.
Seperti ucapan berikut, “Ih, si Marlina kan anak haram…”
Meski diucapkan lebih dari dua puluh tahun yang lalu, tetapi kalimat itu terkadang masih terdengar jelas di telingaku. Kalimat yang disertai dengan cibiran dan tubuh yang mendadak berbalik memunggungi, jika aku dan ibuku lewat di hadapan para pemilik mulut usil itu. Sebelum tahu apa artinya anak haram, aku tak begitu peduli terhadap kata-kata itu. Namun usia yang bertambah, membuatku tahu artinya, dan selanjutnya ingin sekali kujahit satu persatu mulut-mulut usil itu menggunakan jarum jahit yang selalu tersusun rapi di samping mesin jahit sederhana milik ibu-yang digunakannya sebagai sumber penghidupan untuk kami berdua selama bertahun-tahun. Ayahku pergi meninggalkan ibu setelah delapan tahun perkawinan yang tak kunjung dikaruniai anak. Ayah pergi dengan perasaan marah bercampur kecewa. Ayah pergi dengan caci-maki mengatai ibu mandul. Ayah pergi dengan hutang yang menumpuk di kedai-kedai minuman keras dan teman-teman berjudinya. Dan yang paling menyakitkan, ayah pergi dengan anak gadis pemilik kedai minuman. Perempuan yang dihamilinya terlebih dahulu, untuk membuktikan kejantanannya pada ibu. Aku mengetahui semua cerita itu dari Uwa Eti-kakak kandung ibu yang rumahnya kami tumpangi, setelah rumah gubuk kami terbakar saat usiaku menginjak sepuluh tahun.“Linaaaa!” satu suara parau memanggilku dari kamar sebelah.
“Ada apa, Bu?” aku menghampiri ibuku. Tubuh rapuhnya tampak terduduk di atas kursi roda, sedang memandangi pemandangan di belakang rumah yang menghadap ke kebun pisang. Kaki ibu patah empat tahun yang lalu, terjatuh dari sepeda saat hendak mengantarkan jahitan tetangga. Waktu itu, aku baru saja lulus kuliah.“Sepertinya ibu perlu kacamata baru. Yang ini sudah tak jelas untuk membaca.”
“Baiklah, kalau begitu besok kita ke optik memeriksakan mata ibu. Jadi, bisa segera dibuatkan kacamata baru yang lebih nyaman untuk membaca.”
“Kenapa mesti tunggu besok? Sekarang saja. Toh kau punya mobil sendiri!”
“Tapi sekarang sudah sore, Bu.”
“Dulu pun ibu mengantarkan jahitan ke tetangga sampai jam sepuluh malam, jika itu memang diperlukan cepat. Itu di kampung, pakai sepeda kumbang. Nah sekarang, kita sudah tinggal di kota. Toko-toko masih buka sampai malam, kan?”
“Sekarang, Bu?”
“Ya!”
“Bagaimana kalau sebentar lagi? Menunggu sampai bang Hasan pulang.” Aku mengusulkan.
“Kalau ibu bilang sekarang ya sekarang!” ucapnya berang.
Aku mengangguk setuju. Jika sudah demikian, tampaknya aku tak punya pilihan lain. Segera kuambil kunci mobil. Sebelum pergi kusempatkan menelepon suamiku, minta izin. Untungnya bang Hasan mengerti. Jadi sepanjang sore hingga malam aku mengantar ibuku menyusuri setiap optik yang ada di sebuah mal yang terletak di kawasan Gatot Subroto. Ibu baru sreg dengan sebuah kacamata yang ada di optik kelima yang kami datangi. Itupun tidak segera menyukainya, melainkan dengan bertanya-tanya dulu mengenai keunggulan lensanya, bingkainya, dan mengajukan penawaran harga. Ough! Jam sepuluh malam mobilku memasuki halaman. Aku memanggil Sati-pembantuku, untuk membantu memapah ibu ke atas kursi rodanya. Kepalaku pusing. Ingin rasanya langsung kurebahkan tubuh ini ke tempat tidur. Tapi…“Lina, ibu kepingin minum bajigur. Tolong cegat tukang bajigur yang biasa lewat di depan rumah.”
“Tapi tukang bajigur biasanya lewat jam Sembilan, Bu.” Ucapku sopan.
“Memangnya ini jam berapa?” ujar ibu gusar.
“Sepuluh lewat lima.”
“Ya sudah, kalau tidak ada… Kau buatkanlah untuk ibu. Atau, bagaimana saja caranya. Yang jelas ibu ingin minum bajigur sebelum tidur.”
Permintaannya membuatku terhenyak. Maka mau tak mau akupun menyeret tubuh letihku ke dapur, membuat bajigur. Dua puluh menit menjelang jam sebelas, akhirnya aku naik ke atas tempat tidur. Bang Hasan merangkulku dengan mesra. Aku bersandar di bahu bidangnya.
“Maaf ya bang, terpaksa makan malam sendiri lagi tadi.”
“Nggak apa-apa, kan kamu memang lagi ada perlu sama ibu.” Jawabnya lembut, entah karena sabar atau memang sudah terbiasa. Selanjutnya ia mulai memijati leherku dengan lembut. Ooh, terimakasih Tuhan karena telah kau karuniai aku seorang suami yang begitu bijaksana.
*
Aku terbangun setengah tiga dini hari oleh bunyi ribut-ribut dari arah dapur. Tergopoh-gopoh aku bersama suamiku ke dapur. Dan di sana, kami melihat ibu sedang memarahi Sati. “Ada apa, Sat?” tanyaku. Sati tak menjawab, ibu mewakilinya.“Si Sati ini mau membunuhku, Lina! Masak dia bikinkan aku mie, eh dibubuhkannya cabai sebanyak mungkin ke dalam mangkok.”
“Ng…nggak, bu. Saya nggak bermaksud begitu. Tadi katanya bumbunya suruh dimasukkan semua, jangan ada yang terlewat…” ujar Sati ketakutan, bahkan matanya tidak berani menatap ibu.
“Sudah masuk sana, biar saya yang buatkan mie-nya.” Suruhku.
“Perlu abang temani?” bang Hasan menawarkan.
“Abang tidur duluan. Paling-paling sebentar, nanti Lina nyusul.”
Dan memang betul sebentar. Sangat sebentar malah. Soalnya setelah mie matang, ibu ternyata sudah terlelap di atas kursi rodanya. Tak ingin membangunkan siapapun, aku berusaha sekuat tenaga memindahkan sendiri tubuh ibu ke atas kasur. Dalam perjalanan dari kamar ibu menuju kamar, aku melewati kalender berukuran besar di ruang keluarga. Kuingat-ingat, tak terasa sudah hampir sebulan ayah meninggal. Ayah? Yaa, memang itulah status biologisnya untukku, meski sejujurnya tak rela aku memanggilnya begitu. Laki-laki yang sudah terlihat tua itu muncul lagi di kehidupan kami beberapa bulan yang lalu. Kedatangannya disertai dengan permintaan maaf yang bertubi-tubi dan adegan berlutut di hadapan ibu. Katanya, maaf karena ia telah menelantarkan kami selama ini. Maaf karena tak pernah memberi nafkah, dan lain-lain. Tanpa kuduga, dalam sekejap saja ibu langsung memaafkannya. Lebih dari itu, ibu menawarkannya untuk tinggal di rumahku. Di rumah yang dibeli secara mencicil oleh suamiku. Tanpa persetujuan kami sebelumnya.Aku sempat memprotes hal ini. Selain karena aku membenci ayahku teramat sangat, aku pun tak ingin goresan-goresan luka di masa lalu menyeruak kembali di hatiku dan ibu. Namun ibu tak peduli. Beliau mengancam, apabila ayah tak diizinkan tinggal, maka ibu pun akan ikut pergi bersama ayah. Bang Hasan tak keberatan, malah menyambut gembira. Sudahlah, aku tak punya kuasa apa-apa lagi untuk menyerukan keberatanku. Hampir sebulan ayah meninggalkan kami semua. Meninggal dengan keterangan paru-parunya yang sudah bolong karena asap rokok memenuhinya. Dan sudah selama itu pula lah sikap ibu berubah menjadi tak bisa diprediksi. Ibu tak lagi lemah lembut dan penuh kasih sayang. Ibu tak lagi suka memasak sambil bercanda bersamaku. Pun ibu tak lagi suka mengelus perutku yang kini sudah memasuki kehamilan bulan ketujuh. Sejak ayah tiada, sepanjang hari ibu hanya membaca atau memandangi kebun pisang di belakang rumahku. Perubahan sikap yang tak kumengerti sebabnya, dan tak pernah sekalipun dibicarakan oleh ibu.
*
“Hari ini kamu periksa kandungan, kan?” Bang Hasan mengingatkanku saat sarapan.
“Iya.”
“Tunggu abang pulang saja, ya? Jangan menyetir sendiri. Nanti ada apa-apa, lagi.”
“Ah, nggak apa-apa, bang. Sudah biasa, kok.”
“Diantar ibu?”
“Kalau ibu mau.”
“Ya sudah kalau begitu, abang pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik.” Ucap bang Hasan, sambil mengelus perutku dan sejenak menempelkan telinganya di sana.
“Anak ayah yang shaleh, jaga ibumu yaa…” pesannya. Aku tersenyum sambil mengamini ucapannya. Jam Sembilan tepat, aku berencana ke rumah sakit, memeriksakan kandungan. Kutengok ke kamar ibu, bermaksud mengajaknya serta. Dari belakang kulihat, seperti biasa ibu sedang tertunduk, membaca buku.“Bu, mau temani Lina ke rumah sakit tidak?”Ibu tak menjawab. Aku menghampirinya, mengulang ucapanku sambil berlutut di sampingnya.
BRAAK! Buku dan pulpen yang sedang dipegang ibu terjatuh. Sebuah buku tulis yang dipenuhi dengan tulisan tangan ibu. “Lho, ibu tidur? Pindah ke kasur yuk, Bu…” ajakku.
Ibu tak bergerak, meski sudah kubangunkan berulang-ulang. Jangankan tubuhnya, denyut nadi di pergelangan tangannya saja tak terlihat pergerakannya. Aku panik.
“Satiiii!!!!” perlahan kurasakan tubuhku menjauh dari ibu. Limbung.
*
Shalat jenazah selesai diselenggarakan di rumahku sore itu, bersamaan dengan dikumandangkannya adzan ashar di mesjid sebelah rumah. Beberapa tetangga dan kerabat mendoakan ibu dengan kitab suci di tangannya. Merasa tak kuasa untuk berada di tengah-tengah mereka, maka aku pun memilih untuk menyendiri di dalam kamar. Di tanganku ada buku tulis yang memuat tulisan ibu. Buku harian ibu, ternyata. …
Begitulah, semua yang ibu lakukan akhir-akhir ini semata agar kau membenci ibu. Karena ibu pikir hanya dengan cara demikian lah, kau tak akan kehilangan saat ibu tinggalkan. Bukannya hendak mendahului kehendak Tuhan, tapi entah mengapa ibu sudah merasa bahwa ajal ibu semakin dekat. Terimakasih sudah mengizinkan ibu berada di samping ayahmu di hari-hari terakhir dalam hidupnya. Ibu tahu kau kesal akan keinginan ibu. Maafkan ibu, ya… Ibu hanya ingin mewujudkan sebuah cinta yang sempurna untuk ayahmu. Cinta yang tak sempat ibu berikan karena beliau keburu meninggalkan kita, bahkan sebelum menyadari kehadiranmu di rahim ibu.Tolong maafkan juga ayahmu, Lina… Beliau tak ubahnya seperti kita, manusia yang tak luput dari khilaf. Ibu harap kau pun bisa mencintainya dengan sempurna. Seperti cinta yang kau berikan untuk ibu. Tak bersyarat, meski berulang kali ibu menyusahkanmu. Bukan hanya cinta yang hadir seiring kebahagiaan belaka…
Air mataku meleleh. Semoga aku bisa mewujudkan cinta sempurna seperti yang ibu inginkan. Tak hanya pada ibu, tapi juga pada mendiang ayah, suamiku…dan kelak pada anakku.
Terimakasih, bu…































on July 18th, 2007 at 10:31 am
hiks.. aku jadi terharu…
jadi inget emak yg berada nun jauh di kampung sana…
emak.. how are you today?
emak, don’t worry, I’m fine.
on July 19th, 2007 at 4:01 am
Glek..speechless aaah..
hiks hiks..
on July 20th, 2007 at 2:10 am
Tha, sayang..paparan kebencian si Lina ke Ayah serasa msh kurang menohok, krg greget gtu….(skedar opini :)..)
Generally, two thumbs up!..deen smpt merinding euy diakhir cerita..
on July 26th, 2007 at 5:04 am
Ceritanya bagus bgt.. pertamanya siy ceritanya lumayan tp pas buku harian ibu dibaca, hiks2, jd tharu,sedih n bahagia, pokoknya campur aduk dweh..
on October 24th, 2007 at 3:49 am
mmm……lumayan,alur ceritanya rapi dan jujur agak sukar tertebak kemana arahnya
but….untuk rasa kesal ke ayahnya emang kurang greget sich. terus semangat yach untuk menulis. Chayo !!!
halah…gayane rek, kaya dah jadi penulis besar aja, ngasih2 suport:P
lam kenal yah, add me at u’r friendster dunkz, yar bisa tuker2an cerpen getu
on December 1st, 2007 at 6:40 am
Asli..buagus bgt…4 thumbs to u
on December 7th, 2007 at 12:36 pm
minta yah cerpennya
by:gugun
on August 16th, 2008 at 12:50 pm
blog kamoe adalah blog yang ke 20 yang memajang foto menggunakan jilbab
Nice blog sis *yg punya cantik*
salam kenal *mengulurkan tangan*