Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/prithakh/public_html/wp-includes/cache.php on line 35

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/prithakh/public_html/wp-includes/query.php on line 15

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/prithakh/public_html/wp-includes/theme.php on line 505
CeRiTa PriTh@ » 2007 » July

CeRiTa PriTh@

July 30th, 2007

Nama Saya Titin

Posted by Pritha Khalida in Cerpen

           

     

Pritha Khalida

      Perempuan berusia empat puluhan di hadapanku tampak serius membuka-buka map. Sesaat ia mengamatiku, menaikkan kacamata silindrisnya hingga tepat di pangkal hidung.            

 “Nama lengkap saudara?”           

“Titin, Bu.” Jawabku dengan sopan.           

“Lengkapnya?”                    

“Tidak ada, Bu. Hanya Titin.”           

“Hmmm…Perusahaan kami membutuhkan seorang sekretaris yang ulet, disiplin dan menguasai bahasa Inggris pasif dan aktif. Anda…?”           

“Saya pernah mengikuti kursus bahasa Inggris, meski tidak sampai selesai. Juga mengikuti ujian TOEFL dan mendapatkan score limaratus limapuluh.” Jawabku, dengan nada yang kubuat setenang mungkin. Bukankah mestinya begitu sikap seorang pelamar kerja? Tegas, meyakinkan, namun tetap sopan.           

“Tahukah anda kalau seorang sekretaris tidak hanya dibutuhkan di dalam kantor, tapi juga seringkali dikirim untuk mengikuti meeting mewakili perusahaan?”           

“Iya, Bu.”           

“Di situlah image perusahaan akan dibawa, dan… ditunjukkan pada mitra bisnis. Makanya, seorang sekretaris haruslah memiliki image yang positif…”            

Selanjutnya bla… bla… bla… ia berbicara mengenai etos kerja, penampilan dan sebagainya. Pendek kata, hal-hal tersebut sudah kuhapal di luar kepala. Bagaimana tidak, aku lulus dari jurusan sekretaris dengan predikat ‘Sangat Memuaskan’. Masa yang begini saja masih tidak paham? Tapi, sebagai seorang pelamar yang sangat membutuhkan pekerjaan dan menginginkan posisi di kantor ini, maka kubiarkan saja ia berbicara panjang lebar. Aku mengangguk-angguk. Hingga akhirnya,           

“Mengenai gaji…Masih bisa dinego? Anda kan fresh graduate.”            

“Bisa, Bu. Saya minta disesuaikan saja dengan standar di perusahaan ini.”           

“Kalau begitu, Anda akan kami pertimbangkan.”           

“Kira-kira berapa lama pemberitahuannya ya, Bu?”           

 “Yaa, sekitar empat minggu lah. Soalnya sebetulnya perusahaan kami belum terlalu membutuhkan sekretaris saat ini. Kami hanya mempersiapkan untuk anak perusahaan yang akan dibuat di luar kota.” Ujarnya diplomatis.           

“Terimakasih, Bu.” Aku pun mohon diri.           

Huffh… ini adalah perusahaan ketiga yang memanggilku untuk wawancara dalam lima bulan sejak kelulusanku. Mudah-mudahan kali ini bisa tembus. Di tengah sulitnya mendapatkan pekerjaan di kota metropolitan-apalagi buat seorang lulusan D-3 sepertiku, sebuah posisi yang sesuai dengan latar belakang pendidikan sungguh bagaikan pelepas dahaga di padang pasir.           

“Gimana Tin?” suara Ibu menyambutku begitu aku memasuki rumah. Kurasa ibu sudah lama menantiku di balik tembok rumah kontrakan kami yang tak bercat itu.           

“Belum tahu, Bu. Katanya nanti dikabari lagi.” Aku bergegas menuju meja makan, menuangkan segelas air dan meneguknya hanya dalam hitungan detik.           

“Pak Jito sudah datang kemari lagi tadi.” Ibu menghela nafas.           

“Bilang sama dia, tolong tunggu sampai bulan depan. Saya pasti dapat pekerjaan, Bu.”           

“Ealaah, jangan sombong begitu. Segala sesuatu juga ditentukan sama Gusti Allah.”           

“Astaghfirullah, iya. Insya Allah Titin segera dapat pekerjaan, Bu. Sudah ya, sekarang Titin mau mandi dulu, sudah bau begini.” Ujarku sambil menempelkan hidung ke kerah blus putihku yang warnanya sudah seperti kopi susu, setelah seharian menapaki Jakarta dengan berganti dari satu metromini ke metromini lainnya.           

Air di kamar mandi membasuh tubuhku. Betapa menyejukkan. Yaa, memang sih tidak dingin seperti air di pegunungan. Tapi setidaknya, bisa lah untuk menghilangkan penat. Seperti biasa, kupejamkan mataku sambil bersenandung, berharap menemukan setitik kedamaian di sana. Tapi nihil. Justru sebaliknya yang kudapat. Dalam mata yang terpejam, kulihat sosok bapak yang selalu berkeringat setelah pulang dari pekerjaannya menjadi kuli panggul di pelabuhan. Ada juga mas Anto-kakak sulungku. Matanya yang buta hanya bisa mengantarkannya untuk menjadi tukang pijat kampung. Sementara ibu, selalu tampak sibuk dengan tumpukan cucian tetangga.           

Hmmmh… Akulah satu-satunya harapan keluarga. Satu-satunya orang yang bisa mengenyam pendidikan tinggi di keluarga ini. Otakku yang kebetulan encer semenjak masih bersekolah di SD, membuatku mampu meraih beasiswa untuk bisa kuliah di sebuah akademi sekretaris dan kursus bahasa Inggris.           

Tapi apa yang harus kuperbuat jika keadaannya terus begini? Lima bulan sudah berlalu sejak kelulusanku. Kupikir dengan nilai yang baik, mendapat pekerjaan bisa lebih mudah. Ternyata tidak. Padahal kalau dipikir-pikir, apa sih yang kurang dariku untuk menjadi seorang sekretaris? Prestasi akademik lumayan bagus, kemampuan bahasa asingku pun oke lah. Penampilan? Yaa, meskipun tak pernah dibalut oleh pakaian bermerk, tapi kurasa aku tak kalah gaya dengan pelamar lainnya. Bahkan pernah sekali aku melihat sainganku yang datang dengan mengenakan rok mini dan beha berwarna hitam di balik blus putihnya. Menurutku sih itu tidak sopan. Kalau aku yang jadi manajer atau HRD, tak akan kuterima karyawati sepertinya.            

Lalu di mana sebenarnya poin minusku? Kembali aku mengingat-ingat.           

Ahaa! Iya… Mungkin itu. Sepertinya sih itu. Kurasa…            

 Siapa nama Anda?”           

“Nama saya Titin, Bu.”           

“Nama lengkap?”           

“Titin saja, Bu.”           

Pembicaraan itu kembali terulang di benakku. Pembicaraan mengenai namaku. Ya aku ingat betul. Setelah melalui tiga kali wawancara, dan belum juga mendapatkan panggilan kedua sampai sekarang, aku mulai berpikir bahwa yang menjadi masalah atas semua itu adalah namaku. Karena namaku Titin. Nama yang kampungan. Bukan nama khas metropolitan. Alih-alih untuk menjadi seorang sekretaris yang bisa mewakili image perusahaan, mungkin para HRD itu menilai namaku lebih cocok untuk menjadi pembantu rumah tangga saja.           

Aku pernah dengar ucapan pujangga yang menyatakan, ‘Apalah arti sebuah nama?’           

Sepertinya harus kujawab sekarang, ‘ADA!’ Nama sangat berpengaruh terhadap kelangsungan karir, terutama saat karir itu baru saja akan dimulai. Buktinya, lihat aku! Masih menganggur sampai sekarang.            

Mau bukti lain? Lihat saja artis-artis. Mereka yang berasal dari desa, banyak yang berganti nama setibanya di Jakarta dan mulai masuk tivi. Dan terbukti, setelah nama diganti maka tawaran-tawaran pun mulai berdatangan, bahkan mengantri.           

Maka aku pun mulai berpikir untuk mengganti namaku. Orang yang pertama kali kuberitahu mengenai rencana ini tentu saja ibu. Dan, beginilah reaksinya,           

“Waduuh Tin, namamu itu dibuat pakai syukuran bubur merah bubur putih, lho. Ya nggak bisa lah diganti begitu saja.”           

“Yaa, cuma dimodifikasi sedikit lah, Bu. Misalnya jadi Tina. Kan nggak terlalu beda.”           

“Hyaa beda, nak. Titin itu bukti cinta ibu dan bapakmu. Lha wong kami membuatnya dengan menyatukan penggalan nama kami, Narti dan Tino. Kalau jadi Tina, nanti penggalan nama ibu jadi hilang.”           

“Tapi namaku kayaknya jadi masalah deh, Bu.”           

“Aah, ibu tak sependapat denganmu, nak. Rejeki itu sudah ada yang mengatur. Mungkin ini belum bagianmu. Tenang saja lah dulu. Jangan putus asa. Mungkin Tuhan justru sedang merencanakan yang terbaik untukmu.”           

“Aduuh, jadi sekretaris itu kurang baik gimana coba, Bu? Lagipula, gimana nggak putus asa? Ibu sendiri kan yang bilang kalau Pak Jono sudah bolak-balik melulu ke sini. Dia mau menagih uang kontrakan, bukan?”           

Ibu terdiam. Aku agak menyesali ucapanku barusan. Mungkin terlalu kasar untuk ibu.

*           

Hari ini, kembali aku berada di sebuah kantor. Kali ini sebuah rumah produksi yang memanggilku untuk wawancara. Sudah lewat enam bulan sejak permintaanku kepada ibu untuk mengganti namaku. Tapi ibu tetap saja keberatan. Alasannya masih sama, nama ini merupakan perpaduan cinta antara ibu dan bapak. Mengubahnya barang sehuruf saja, sama dengan menghilangkan makna dan cinta di dalamnya.            

Jadi, hingga saat ini namaku masih Titin. Titin saja, tanpa nama panjang. Seiring dengan namaku yang belum berubah, nasibku pun belum berubah. Aku masih saja mengalami penolakan-penolakan dari berbagai perusahaan yang kukirimi surat lamaran dan riwayat hidupku. Kehidupan keluargaku pun belum banyak berubah. Kami masih tinggal di rumah kontrakan yang dindingnya tidak dicat. Dan masih selalu menunggak sekitar dua atau tiga bulan.           

Aduuh, coba ibu setuju untuk mengganti namaku…           

Perutku mendadak sakit. Duh, pasti ini gara-gara cabai rawit yang kumakan tadi waktu sarapan. Maklum, ibu hanya menyediakan sedikit tempe goreng. Maka, agar cukup menemani nasi yang sepiring sampai habis, kuperbanyak saja cabainya. Dan inilah akibatnya… Bagus!            

WC duduk. Inilah alasan kenapa aku selalu tak suka jika terserang mulas di luar rumah. Aku tak terbiasa dengan WC duduk. WC seperti ini membuatku tak bisa memenuhi panggilan alam. ERGH! Mau tak mau kupaksakan saja duduk di situ, setelah membaca aturan untuk tidak berjongkok yang ditulis besar-besar di pintu toilet. Secara tak sadar aku mulai bersenandung. Aku tak ingat sejak kapan aku memiliki kebiasaan ini. Aku selalu bersenandung jika berada di kamar mandi, meski untuk sekedar buang air kecil sekalipun. Entahlah, aku selalu merasa suaraku terdengar lebih merdu kalau di kamar mandi.            

Beberapa menit kuhabiskan di dalam toilet. Seperti dugaanku sebelumnya, aku tak berhasil menunaikan panggilan alam. Tapi tak apalah, setidaknya aku sudah merasa agak tenang setelah bersenandung barusan. Kusiram toilet, lalu kurapikan rambut dengan menggunakan jari seadanya.           

“Suara anda bagus sekali.” Seorang perempuan berusia tiga puluhan mengejutkanku di depan pintu toilet. Ups! Aku malu sekali. Mungkin ia sudah menungguku begitu lama.           

 “Maaf, sudah menunggu lama ya?”           

“Yaa begitulah, tapi saya memang menunggu anda, bukan toiletnya.” Ucapnya lagi.           

“Saya? Ada perlu apa?”           

“Kenalkan, nama saya Marina. Saya co-produser untuk beberapa sinetron remaja.” Ia mengulurkan tangannya dengan ramah.           

“Nama saya…” sejenak aku ragu, mestikah kusebutkan namaku yang sebenarnya? “Emmh, nama saya Titin.” Ucapku akhirnya. Biarlah, apapun yang akan terjadi, terjadilah. Yang penting aku tak jadi anak yang kualat sama orangtua.           

“Titin ya?”           

“Iya, Titin saja. Tanpa nama panjang.” Aku menjelaskan, sebelum ditanya.           

“Kerja di mana?”           

“Masih menganggur, Bu. Ini juga lagi mengantri untuk wawancara.”           

“Sebagai?”           

“Sekretaris.”           

“Oooh… Tertarik untuk jadi penyanyi?”           

“Haah? Eh, maaf Bu?” aku terkejut.           

 Iya, jadi penyanyi. Kebetulan sinetron yang akan kami produksi membutuhkan penyanyi untuk menyanyikan soundtrack-nya. Setelah mendengar suara anda, saya rasa karakternya cocok untuk membawakan lagu itu.”           

Aku pasti bermimpi. Iya, pasti ini mimpi di siang bolong. Mana ada pencari bakat menemukan calon artisnya di dalam toilet??           

“Bagaimana, anda berminat?” tanyannya lagi.           

 Aku berpura-pura membetulkan lengan kemejaku, padahal sebetulnya mencubit lengan, memastikan ini nyata. Aduh, sakit!           

 “Saya, jadi penyanyi?”           

“Iya. Kalau anda berminat, sekarang kita test vocal di studio.”           

Aku menurut saja, mengikutinya melangkah ke dalam studio. Dan aku merasa kagum melihat semua peralatan yang ada di situ. Persis dengan yang kulihat di tivi! Seorang lelaki memberiku sebuah CD, menyuruhku mendengarnya dengan seksama. Hanya butuh beberapa menit buatku untuk bisa memahami nada-nada dan menghafal liriknya. Aku pun mencoba menyanyikannya di hadapan Bu Marina dan beberapa orang kru.           

Bu Marina dan seorang lelaki berjanggut di sampingnya-yang belakangan kutahu bahwa ia adalah seorang produser sinetron terkenal, mengacungkan jempolnya saat aku meletakkan headphone, setelah menyanyikan lagu tersebut secara lengkap.           

“Dia oke, Tin. Kamu tinggal disuruh membaca kontrak saja. Jika setuju, maka kami akan mengontrakmu untuk menyanyikan soundtrack sinetron yang akan mulai kami garap bulan depan.”           

Aku masih tercengang, tak percaya. Aku menjadi penyanyi? Yang benar saja! Bermimpi pun aku tak pernah!

*           

Satu setengah tahun sudah berlalu sejak aku menandatangani kontrak pertamaku untuk menjadi penyanyi. Kini, sudah belasan sinetron yang menggunakan suaraku sebagai soundtrack-nya. Nasibku pun sudah berubah. Aku kini sudah mampu membelikan rumah yang layak untuk ditempati bersama dengan keluargaku. Sudah tak ada lagi suara Pak Jono yang selalu cerewet menagih uang kontrakan.           

Hanya satu yang masih tak berubah, namaku tetap Titin. Nama yang merupakan perpaduan cinta antara bapak dan ibuku. Nama yang meski amat sederhana, kini kuyakini mengandung sejuta doa di dalamnya.            

Sebuah nama sederhana yang kini sudah dikenal orang-orang, dan membuatku bangga menyebutnya, “Nama Saya Titin!”

            Terimakasih ya, Bu…Pak…

Next Page »