Cinta Sederhana
Pritha Khalida
Malam pertama. Aku nggak ngerti, kenapa sekarang ini kasus-kasus perselingkuhan makin marak dan variatif saja. Dunia mungkin mulai terbalik, atau berubah bentuk jadi jajaran genjang. Saat penghuninya sudah nggak ada yang peduli dan menghargai arti ketulusan sebuah cinta sejati. Well, bilang aku pemimpi. Atau bilang aku naïf. Aku hanya ingin bisa mencintai dan dicintai oleh seseorang secara sederhana. Ummh, maksudku, bisa berbagi waktu, tawa, canda, cerita, susah, senang, sedih, marah…Tanpa tendensi apa-apa, sekedar saling memahami dan selanjutnya menerima apa adanya. Salahkah aku? Terlalu tinggikah keinginanku?? Mungkin iya. Buktinya kali ini…Untuk keempat kalinya aku mengalami sendiri akibat dari perselingkuhan. Seseorang yang kucintai dengan tulus, dimana kupercayakan hatiku sepenuhnya…Ternyata hanya menjadikanku sebagai pacar kedua. Menempatkanku pada posisi yang (awalnya) aku yakin nggak diinginkan oleh perempuan manapun di dunia ini. Tapi, keyakinanku sedikit berubah setelah nonton film ‘Jomblo’. Dimana seorang tokoh bernama Lani, mau-mau saja bertahan pacaran sama Agus meski tahu dirinya ‘cuma’ selingkuhan. Seharian air mataku deras mengalir.Untung ada Itie, sahabat sekaligus teman satu kost-ku yang nggak pernah bosan mendengarkan segala keluh-kesahku, tanpa pernah menceritakannya lagi pada siapapun. Atas sarannya pula, sampai larut malam begini aku nggak kembali ke kamarku. Menurutnya, disaat sedih…bersama-sama akan lebih baik daripada sendirian. Hmmh, sepertinya ia benar. Apalagi jika ditambah dengan kehadiran Alissa-teman kost kami yang kecerewetannya bisa bikin kuburan jadi seramai pasar malam di tahun baru.“Bener nggak sih Bertrand itu gay?” tanya Alissa di sela-sela tabloid gosip yang sedang dibacanya.“Alaaah, gosip basi tuh. Ngapain dipercaya sih, Lis?” “Tapi, katanya dia tinggal di apartemen yang sama dengan Indra Bruggman?” “So what? Nah kita tinggal satu kost begini, emang langsung berarti kita lesbi? Enggakkan?” kali ini Itie beranjak dari duduknya, mengambil obat tetes mata dan menyodorkannya padaku.
“May, tolong tetesin dong.” “Beda laaah, Tie. Kita kan satu kost, tapi nggak sekamar. Nah ini, apartemen!”“Trus, memang apartemen kamarnya satu? Miskin amat sih artis kayak mereka nempatin apartemen dengan satu kamar?” Itie mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. “Thanks ya, May.”“May, kok diam aja sih? Nggak ngeri apa tiap hari makin banyak gay?!”“Aah, nggak urusan. Biarin aja, hak mereka kok. Asal nggak ngerugiin kita aja.” Jawabku seadanya. “Lho, secara nggak langsung kita bakal kena imbasnya, May! Coba bayangkan, konon perbandingan jumlah perempuan sama laki-laki di dunia sekarang udah tujuh banding satu. Nah, yang satu itu, mungkin hanya limapuluh persen yang straight. Sisanya, gay, biksu, pastor, dan mereka yang dengan berbagai alasan memutuskan untuk nggak menikah. Lalu, coba hitung lagi, berapa persen laki-laki straight yang belum punya ‘monyet’? Kalau sudah begitu, makin susahlah bagi kita untuk mendapatkan Mr. Right. Iya nggak, Tie?”“No comment.”“Bisa-bisa besok lusa semua majalah dan tabloid nggak lagi ngebahas mengenai Mr. Right, tapi para duda atau lajang yang membuka diri untuk mendonorkan sperma, ya?”“Maksudmu?” aku mendelik mendengar penuturannya.“Dengan niat mulia demi kelangsungan kehidupan di muka bumi, maka proses reproduksi harus terus berlangsung, bukan? Nah, dengan adanya donor sperma, maka para perempuan yang kehabisan stock lelaki, bisa tetap melanjutkan keturunan.”“Berlebihan.” Ucap Itie datar.“Kalian tuh nggak pada peduli sama isyu sosial. Padahalkan yang kayak gini penting untuk dibahas. Hhh, kalau gini ceritanya…bakal makin banyak aja laki-laki yang dengan seenaknya melegalkan poligami!” nada suara Alissa mulai meninggi. Kekesalannya rupanya mulai memuncak, atau bahkan sudah di puncak? Entahlah…“Tie, pinjam dulu tabloidmu ya?”“Jangan lupa dibalikin!” teriak Itie sebelum Alissa menghilang di balik pintu kamar.“Tenang Tie, aku cuma mau catat resep masakannya, kok.”Itie manyun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Gimana May, enakan perasaanmu?”“Lumayan, Tie. Betul katamu tadi. Ngapain juga kita capek-capek mikirin orang yang belum tentu mikirin kita?! Huh, Adie itu penipu!!!”“Yaa seenggaknya, dia jugakan pernah bikin beberapa kenangan manis buatmu.”“Tapi, itu semua udah menguap, Tie. Tertutup sama tumpukan dustanya!” Aku membenamkan wajah di bantal milik Itie yang sebagian permukaannya sudah menunjukkan warna kekuningan, karena menampung tetesan air mataku hari ini. Itie membelai kepalaku dengan lembut.“Yang penting kamu tahu dari sekarang, saat hubungan kalian belum lama, May. Sepertinya itu lebih baik daripada harus lebih jauh masuk dalam permainan Adie.”Sekali lagi, aku merasa beruntung jadi sahabatnya Itie.
Malam kedua. Aku masih mengungsi di kamar Itie. Hatiku belum benar-benar pulih. Perihnya selalu muncul lagi jika aku melihat kamarku. Kamar yang biasanya jadi tempatku dan Adie berbagi segalanya. Adie yang selama ini kupikir seorang cowok rumahan, karena nggak begitu suka menghabiskan waktu bersamaku di luar, ternyata bajingan! Sekarang mengertilah aku, rupanya keinginannya untuk kencan di kost ku hanya dijadikan alasan agar kami tidak sering kencan di luar, karena hal tersebut memungkinkan kami bertemu pacar pertamanya. Huh, mengapa selama ini aku begitu bodoh?! Kupikir, Adie menyukai dekorasi kamarku. Taunya?!? Cuma untuk tempat sembunyi. Malam ini Itie memasakkan spaghetti dengan saus barbeque yang enak untuk kami santap berdua. Katanya sih sausnya yang kental bisa merekatkan lagi kepingan-kepingan hatiku yang sudah dihancurkan oleh Adie. Aku tertawa mendengar gurauannya. Tapi, mungkin perkataannya ada benarnya juga. soalnya, setelah aku menghabiskan sepiring spaghetti, rasanya kesedihanku terbang sebagian. “May, udah ketemu Alissa hari ini?” “Belum. Kenapa memang?” “Tabloidku belum balik. Padahal di situ ada lowongan untuk TV Citra.” “Lowongan? Mau pindah kerja, Tie? Kok nggak pernah bilang?” “Baru rencana, sih. Kebetulan aja baca di tabloid itu kalau TV Citra lagi butuh script writer. Takutnya kalau keburu besar omong, nanti malah nggak jadi.” “Waah, sukses yaa… Tapi, nggak pindah kost kan?” “Kenapa? Takut kangen ya?” “Huuuu Ge-er!” “Gini-gini aku yakin lho kalau aku memang diciptakan untuk bikin kangen semua orang, heuheuheu…Adooh!!” BUK! Bantal hati miliknya mendarat tepat di dahi Itie yang lebar kayak nampan. Malam itu kami nyaris nggak tidur. Itie cerita banyak hal. Mulai dari keluarganya yang sudah tiga puluh tahun tinggal di Surabaya-tanpa pernah berniat pindah kemanapun, sampai mantan pacarnya yang dinilainya terlalu kemayu dan sebaiknya disimpan jadi kapster salon saja ketimbang memacarinya. Aku lebih banyak mendengarkan, dan sesekali tertawa melihat mimiknya yang selalu bisa memvisualisasikan ceritanya hingga terasa lebih hidup. “Tau nggak May…waktu aku sama Dodi ke Parangtritis…Aku pengin banget menunggang kuda. Nggak lama kemudian, kuda yang kutunggangi terantuk batu, dan aku terpental ke tanah.” “Oya? Trus, tulangmu ada yang patah?” “Patah sih enggak. Mungkin sedikit retak lahh. Yang jelas aku masih bisa jalan. Tapi, tahu nggak apa yang dilakukan oleh Dodi, si ‘tuan-salon-kemayu’ itu? Dia langsung teriak histeris sampai menarik perhatian semua orang yang ada di pantai. Dan, bukannya membopongku, dia malah sibuk minta tolong sana-sini. Ya Tuhan! Terbayang nggak malunya aku sampai di ubun-ubun!!” Aku terkikik. “Ya sudah, aku urus saja kakiku sendiri. Pincang pincang deh. Yang penting terbebas dari tatapan orang-orang yang seolah-olah sorot matanya bilang ‘Dik, itu pacarmu atau babysitter-mu ya?’” “Mungkin itu salah satu caranya memedulikanmu, Tie. Masa segitu saja dibilang kemayu?” “Entahlah, bisa jadi aku berlebihan. Mungkin juga pengaruh pola asuh. Ayahku tentara. Jadilah dari kecil aku dididik dengan pola asuh militer yang serba tegas, nggak manja, dan harus bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Bukannya sok sibuk kayak Dodi. Laki-laki kok lembek??” Sejenak Itie menghentikan ceritanya, “Keberatan aku merokok di kamar?” “Ya ampun, ini kan kamarmu, Tie.” Pemantik dinyalakan. Itie mulai menghisap rokok putihnya perlahan. Sejujurnya, aku nggak begitu suka sama perempuan yang merokok. Tapi, entah kenapa melihat Itie rasanya tak ada yang salah. Apa karena dia sahabatku? Atau karena ini kamarnya, sehingga aku merasa tak memiliki wewenang untuk melarangnya? Bagiku, Itie lebih terasa seperti kakak kandungku, bukan sekedar sahabat. Seandainya kakakku seperti Itie. Perhatian, tegas namun masih memiliki sisi lembut perempuan. Sayangnya yang kupunya adalah Kak Milla, seorang perempuan pemarah yang bisanya hanya menyuruh-nyuruh adik-adiknya untuk melayaninya, mulai dari mengambilkan minum sampai memijiti kakinya saat pulang kantor. Huh! Untungnya sekarang aku sudah tak tinggal serumah dengannya.
Malam ketiga. “Liiis!!!” “Teh Lissa kayaknya belum pulang, Mbak.” Jelas Ka Yan, teman kost kami yang kamarnya bersebelahan dengan Alissa. “Duh, tuh anak biasanya pulang jam berapa sih?” tanya Itie sewot. “Waah, nggak tentu juga ya. Seringnya pulang malam.” “Nanti tolong bilang, dicari Itie ya, Ka…” pesan Itie pada perempuan berwajah oriental itu. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum, membuat mata sipitnya tertutup nyaris seluruhnya. “May, masih mau nginap di kamarku?” “Ummh, lagi banyak kerjaan ya?” aku mengurungkan niatku semula, demi melihat wajah Itie yang nggak menunjukkan keceriaan sedikitpun. “Nggak apa-apa, kok. Lagi sedikit bete aja. Mungkin kalau ada kamu jadi cepat hilang bete-nya.” Senyumnya muncul sedikit. Itie bete? Kenapa ya?? Tumben. Tak lama aku tahu jawabannya. “Rudi?” aku membaca sebuah nama yang tertera di kartu undangan berwarna kecokelatan di samping laptop Itie. “Tepat!” ujar Itie gusar. Pada saat yang sama sebuah anak panah menancap tepat di lingkaran target berwarna hitam-merah yang terpasang di dinding, dan ternyata tepat mengenai sasaran: foto Rudi! Rudi adalah lelaki yang sudah dipacari oleh Itie setahun belakangan ini. “Tau nggak May, aku nemu undangan itu di atas meja kerjaku setelah beberapa hari ini aku nggak melihat Rudi di kantor. Minggu kemarin bilangnya mau meliput tempat wisata yang baru dibuka di Balikpapan. Nggak tahunya, urus pernikahan! Hhh…laki-laki banci! Nggak berani ya ngomong langsung?!” Itie terus saja memaki. Aku hanya bisa mematung di tepi ranjangnya. Hingga akhirnya Itie merebahkan tubuhnya. Aku mencoba mencari barang setetes saja air bening di pelupuk matanya. Tapi, nihil. Itie mungkin memang tak pernah menangis. Aku tak tahu apakah karena ia diajarkan untuk tidak menangisi laki-laki, atau sebetulnya memang nggak punya persediaan airmata selain untuk menguap? Ya, Itie adalah sosok tangguh yang selalu memotivasiku agar tetap bertahan atas segala kesulitan yang kualami, terutama masalah pacar. Tapi, sekuat-kuatnya aku, tetap saja aku menangis. Tapi Itie tidak. Ia begitu tegar di mataku. Coba kalau sekarang ini aku yang ada di tempatnya, mungkin yang kulakukan adalah meraung-raung sambil secara impulsif menghabiskan makanan apapun yang ada di hadapanku.
“Hey! Kok wajahmu jadi sendu gitu sih? Aku nggak apa-apa, kok.” “Nggak sedih, Tie?” “Nope! Kan selama ini aku selalu bilang, ngapain musingin orang yang bahkan ingat sama kita pun enggak?!” Aku memeluk Itie. Mungkin saja ini bisa sedikit meringankan bebannya. Ya, pastinya pedih sekali menghadapi kenyataan dikhianati oleh orang yang kita cintai, meski itu terjadi pada perempuan setegar Itie. Itie balas memelukku erat. Kupejamkan mata. Ahhh…rasanya nyaman sekali. Apakah ini yang dimaksud oleh slogan ‘That’s what friend is for’? atau ‘Give shoulder to cry on’? Tapi, betulkah begitu maksudnya?? “Tie, maaf baru bisa balikin tabloidmu sek…” terdengar suara Alissa yang tercekat. “Upss…Sorry…” ucapnya pelan, Itie tersentak dan melepaskan pagutan bibirnya dari bibirku.
Sudah kubilang, aku hanya ingin bisa mencintai dan dicintai oleh seseorang secara sederhana…































on June 27th, 2007 at 8:10 am
hemmmm ternyata Itie adalah seorang les**
Oh My God..
Itie ternyata gak mampu bertahan dengan masalahnya dan begitu cepat nyerah pada keadaan untuk akhirnya menjadi seoarng les**
Oh tidaaaaaaaaaaak….
on June 27th, 2007 at 8:34 am
hmm…hmm…hmm…ternyata itie dan aku adalah…
apa memang cinta yang berlebih menimbulkan racun? entahlah…
on June 29th, 2007 at 4:39 am
Ada beberapa bagian yang terjadi dilingkungan sekitar kita….
Seperti Tie dan si artis… itu lho, hehehe
on July 2nd, 2007 at 2:14 am
akhir yang tak dsangka2..hehehe
on July 10th, 2007 at 9:55 am
cerita yang membuat pembacanya tidak bisa berhenti membaca, sampai kata terakhir, yang menghenyakkan
on December 21st, 2008 at 7:23 am
waaah….keren bgt crtax teh…..
akhir yg tdk dpt d’duga.
hbt…..
keren dech……