Rumah Untuk Bram
Pritha Khalida
Tak pernah jemu aku memandangi rupaku di cermin. Gagah. Tampan. Semua pasti jatuh cinta padaku.
Hmmmmhhh…aku menggeliat lagi untuk kesekian kalinya. Pendingin ruangan sudah dimatikan. Itu artinya Mbak Inah sudah masuk dan membersihkan kamarku sewaktu aku masih terlelap, entah jam berapa itu. Kulirik meja kecil di samping tempat tidurku. Sudah ada susu di situ. Kuseruput perlahan… Masih hangat, sedapnyaa…
“Bram, Mama pergi dulu yaa…” semerbak parfum Mama mampir di hidungku, saat beliau menciumku. Mama memang selalu wangi. Tak peduli itu pagi atau malam, mama selalu terlihat cantik di mataku.
Di teras aku duduk di kursi yang terbuat dari anyaman rotan, menikmati suasana pagi. Heuh! Masih pagi saja Jakarta sudah panas. Kucoba hembuskan nafas melalui mulut. Jangankan uap yang terlihat – seperti saat aku masih tinggal di Bandung, ini sih yang ada bau mulutku saja yang menambah polusi.
Aku mau keluar saja. Yaa, mudah-mudahan saja gadis-gadis metropolitan cantik-cantik meskipun masih pagi. Konon katanya, mereka hanya cantik menjelang siang saja – saat make up sudah menutupi seluruh wajah. Dan kembali terlihat kusam saat malam menjelang.
Segala rupa kesibukan terlihat di sekitar rumahku. Mulai dari tukang sayur yang berteriak-teriak menjajakan dagangannya, para pembantu yang sibuk memanggili tukang sayur, sopir-sopir yang memanaskan mobil majikannya (dan terkadang menyempatkan diri bergaya seolah itu mobil mereka, hihihi…).
“Udah dibilang aku hari ini enggak mau sekolah! Kenapa sih tiap hari aku harus sekolah? Bosan tauuu!” bentak seorang anak pada perempuan yang sedang berusaha keras memakaikan sepatu di kakinya.
“Tapi Cathy harus sekolah. Kalau enggak, nanti mbak Lili dimarahi mama. Yaa, sekolah yaa sayang?” ucapnya lembut penuh harap.
“Mbak Lili aja yang sekolah. Aku cuma mau sekolah, kalo di sana udah ada play station sama Barbie. Ngerti?!” anak itu berbalik masuk ke rumah dengan muka yang ditekuk, rambut yang acak-acakan, dan sepatu yang baru terpasang sebelah. Perempuan yang dipanggilnya dengan sebutan Mbak Lili itu hanya mampu menggelengkan kepalanya. Seperti latah, aku ikut-ikutan menggelengkan kepala mengikuti Mbak Lili. Huh! Dasar anak tidak tahu bersyukur! Hari gini nggak mau sekolah cuma karena nggak ada mainan di sekolahnya? Gila apa!? Sementara di luar sana ribuan anak putus sekolah karena nggak ada biaya, terkena bencana, atau lebih parah lagi…terkena busung lapar! Andai dia pernah lihat billboard iklan layanan masyarakat yang menggambarkan seorang anak membaca buku di anatra tumpukan sampah – dan menganggapnya sebagai ruang kelas. Hmm, atau mungkin dia sering melihatnya, tapi tak mengerti. Ahh ya sudahlah, apa pula urusannya buatku.
Lelah berjalan, aku menghentikan langkah di dekat pos satpam. Ada tukang bubur ayam di situ. Mungkin aku mau pesan saja satu mangkok. Bersih tidak yaa? Mama selalu berpesan agar aku tidak jajan di sembarang tempat. Tapi jika jajanan itu mampu meneteskan air liurku, biasanya kulanggar saja pesan beliau. Dan hal yang sama terjadi setelah aku melihat tukang bubur ayam ini.
Saat menikmati bubur ayam, kurasakan beberapa mata tertuju padaku. Ada yang tersenyum, ada pula yang hanya melihat sekilas. Beberapa dari mereka terlihat berbisik-bisik, sambil tetap menatapku. Duhh, aku jadi salah tingkah. Memang di sini tak ada yang seganteng aku yaa?? Aku membalas senyuman mereka dengan malu-malu.
Matahari mulai meninggi. Aku harus pulang sekarang. Hmmh, pastinya menyenangkan kembali masuk kamar dan menikmati sejuknya pendingin. Ya, aku tahu kalau kebanyakan berada di ruangan ber-AC tidak baik untuk kesehatan kulit. Tapi setidaknya lebih baik daripada menghirup bau dari selokan besar di sini.
Tapi tunggu dulu! Heyy! Rasanya pas pulang tadi aku tidak menemukan selokan besar begini. Haduhh, di mana aku yaa? Lalu, kemana jalan pulang? Baguss, aku tersesat! Begini nih kalau sok tahu jalan-jalan sendiri di daerah baru.
Kucoba untuk terus berjalan sambil berusaha mengingat-ingat jalan menuju rumahku. Sial! Kenapa aku begitu bodoh sih untuk tidak mengingat tanda apa saja yang kulalui sepanjang jalan tadi??
Nihil. Aku tetap tak ingat. Bahkan mungkin sekarang ini aku sudah semakin jauh tersesat dari rumahku. Oh tidaaak! Satu minggu di Jakarta, dan aku tersesat tanpa membawa apa-apa! Bagaimana kalau terciduk petugas Pamong Praja seperti yang sering terlihat di Alun-Alun Bandung? Aku pasti akan disatukan dengan para pedagang kaki lima di bagian belakang mobil, persis seperti pesakitan. Tuhan, tunjukkan aku jalan menuju rumah. Aku memejamkan mata, memohon perlindungan-NYA.
Sayup-sayup terdengar suara adzan di mesjid. Apakah aku harus kesana dulu? Memohon padaNYA agar Dia sudi kiranya menuntunku pulang… Ah, tapi badanku tak bersih, penuh keringat di mana-mana. Masa iya menghadap Yang Maha Pencipta dengan tubuh kumal??
“Aduhh!”
“Ehh…ma…maaf…maaf ya neng, aku gak sengaja.” Bodoh! Saking bingungnya, aku sampai menabrak perempuan.
“Ya sudah nggak apa-apa. Huh enak aja panggil neng! Namaku Mona, tau!” makinya galak.
“Iy…iya, Mona. Maaf yaa. Betul, aku nggak sengaja.”
“Makanya kalo jalan liat-liat. Linglung sih!” katanya lagi, masih dalam nada yang nggak menyenangkan. Busyet! Cewek Jakarta galak amat??
Mona membersihkan tubuhnya yang kotor. Aku memerhatikannya dengan seksama. Hmm, cantik juga yaa? Padahal dia sepertinya bukan perempuan pesolek. Tapi tetap saja cantik. Bahkan bibirnya yang dimonyongkan pun tak mengurangi kecantikannya.
“Apa liat-liat?”
“Mau kemana?”
“Apa urusanmu?”
“Aku mau pulang.”
“Pulang saja.”
“Aku tak ingat jalan pulang.”
Kali ini gadis itu menengokku,
“Kau…kau…”
Aku mengangguk sekuat mungkin. Pasti ia mengira aku tersesat dan ingin diantar.
“Kau amnesia? Habis dipukul preman yaa?”
Glekk!
“Tidak, aku sehat. Namaku Bram. Aku orang baru di sini. Baru satu minggu. Tadi pagi aku iseng jalan-jalan, eh nggak taunya tersesat begini.”
Mona menatapku dari ujung telinga sampai ujung kuku kaki. Pandangannya setengah iba setengah curiga. Mungkin dipikirnya aku penipu, yang akan menyergap dan memerkosanya begitu sampai di tempat sepi. Huh sialan! Aku laki-laki baik-baik ya, asal tahu saja! Kalau kau berhasil menemukan rumahku, akan kuajak kau masuk dan sekalian kuperkanalkan pada Mama, kalau dia sudah pulang tentu saja!
“Rumahmu di mana?”
“Jalan Mangga tiga belas.”
“Ikuti aku.”
“Kemana?”
“Ke rumahmu tentu saja. Mau kemana lagi?” jawabnya judes.
ASYIK! Hatiku bersorak kegirangan.
“Awas yaa kalau macam-macam. Di sini daerah kekuasaanku tau!”
Hyaa ampun, masih tetap galak?? Ikhlas nggak sih dia ngantar aku pulang? Ah, tapi aku diam saja. Mencoba menjadi pengikut yang baik.
Mona banyak mengambil jalan pintas yang sama sekali tak kulihat tadi di perjalanan pergi. Dia lebih memilih melewati gang sempit dan pinggiran kali ketimbang jalan kompleks.
“Kenapa berhenti?” tanyaku heran, ketika Mona menghentikan langkahnya di dekat sebuah rumah kumuh di pinggir kali.
“Itu rumahku.” Katanya cuek.
Hampir aku bergidik jijik, andai tak ingat bahwa Mona adalah dewi penolongku kali ini. Syukurlah, aku masih bisa bersikap sopan dan tahu diri.
“Kapan-kapan aku boleh main?”
“Boleh saja, kalau tak takut kena bakteri.” Jawabnya cuek, seakan bisa membaca pikiranku.
Kami terus berjalan.
“Ini kan rumahmu?”
Kutegakkan kepala. Ya benar! Wuihh hebatt! Ia memang layak disebut penguasa di daerah ini. Hafal jalan, seperti sopir taksi saja.
“Mampir yuk…” ajakku.
Mona menatap matahari yang sudah mulai berwarna oranye.
“Baiklah, sebentar saja yaa…”
Kami mengobrol di kursi rotan terasku yang nyaman. Di situlah aku mulai mengenal Mona lebih jauh. Ia banyak bercerita tentang asal-usulnya. Bahwa ia tinggal bersama adik-adiknya di rumah kumuh tadi. Mona sudah tidak memiliki ayah sejak lahir. Ibunya pergi saat ia masih kecil, dan tak pernah kembali. Jadilah ia dan adik-adiknya harus berjuang menghidupi diri, terkadang dibantu oleh tetangga.
“Makanya aku kurus kering begini. Nggak kayak kamu.” Katanya sambil tersenyum. Ohh, cantiknyaaa…
“Bram…Bram…Hallooo…”
“Oh eh iya?”
“Jangan melamun, ah. Masih banyak hal berguna lain yang bisa kau lakukan selain itu.”
Mona melihat ke sekeliling.
“Rumahmu asri sekali yaa? Pasti menyenangkan tinggal di sini. Apa-apa sudah tersedia. Kau tak perlu lagi seperti aku repot-repot mengais tumpukan sampah untuk mendapatkan sesuap nasi.”
Oh Tuhan, separah itukah keadaannya? Sampai harus mengais-ngais tumpukan sampah?? Aku iba padanya.
“Hey! Kenapa melamun lagi?? Sudah, nggak usah ngeliatin aku kasian gitu dong. Aku udah biasa, kok. Udah ah, pulang dulu yaa…” pamitnya.
Aku mengantar Mona sampai pagar. Malu juga sihh, dimana ada cowok gentle membiarkan cewek pulang sendiri?! Tapi, daripada nyasar lagi malah bikin repot…
“Besok kesini lagi ya?” harapku.
“Kusempatkan. Daagh Bram…”
Mataku mengantarkannya hingga membelok di ujung jalan sana.
“Bram, lagi apa di luar? Haduuuhh, kok kumal begitu sih? Kayak gembel kamu!” tiba-tiba saja Mama sudah ada di belakangku dan memandangku dengan jijik. Baiklah, aku akan mandi…Meski malas.
Besoknya pagi-pagi sekali aku sudah rapi. Akan kutunggu Mona di depan pagar. Siapa tahu ia mau mengajakku jalan-jalan lagi hari ini. Yaa, minimal mengobrol juga tak apa-apa. Aku suka sekali mendengar celotehannya. Tak hanya celotehan, aku juga suka melihatnya memonyongkan bibir, melihat muka judesnya…Ah, pokoknya aku suka semua kalau itu tentang Mona!!
Ya, aku telah jatuh cinta sejak pertama kali melihat Mona. Ooohhh, secepat itukah ibukota memberiku cinta?? Aku bahkan tak peduli dari mana Mona berasal. Aku tak peduli meski Mona bukan perempuan yang rapi, wangi, dan penuh riasan mahal seperti Mama. Aku suka Mona, apa adanya. Betul cinta itu buta, kawan!
“Kita mau kemana?” tanyaku bersemangat. Ya, Mona menepati janjinya untuk datang ke rumahku.
“Terserah kau saja.” Ujarnya sambil menggigiti kukunya. Heuh! Kalau aku yang begitu dan terlihat oleh Mama, pasti beliau akan memarahiku. Jorok katanya. Tapi kalau yang melakukannya Mona, kok kelihatannya lucu yaa??
Mona memutuskan mengajakku ke Monas. Katanya biar aku tak penasaran. Masa iya tinggal di Jakarta tapi tak tahu Monas. Ya sudah aku menurut saja. Kami berjalan kaki kesana. Catat yaa, jalan kaki! Mona bilang, CUMA lima kilometer, hitung-hitung olahraga pagi. Ohh, mudah-mudahan betisku tak meletus!
Kami berjalan beriringan. Lagi-lagi beberapa mata memandangiku, seperti di tukang bubur kemarin. Tapi kali ini lain. Pandangan mereka rasanya tak mengenakkan. Kenapa yaa??
“Kau tak malu berjalan denganku?” tanya Mona membuka percakapan.
Aku yang mulai ngos-ngosan memandangnya,
“Memang kenapa?”
“Lihat dirimu, begitu tampan, rapi, dan wangi. Aku? Kumal dan…mmh…bau.”
“Tapi begitu saja kau cantik.” Ucapku, jujur dari hati.
“Gombal!” tapi tak urung pipi Mona bersemu merah. Dan ia tambah cantikkk saja!
BYUUURRR….
Sebuah mobil melintas di genangan air, yang langsung saja mengotori tubuhku. Rasanya ingin aku memaki sopirnya. Punya mata nggak sih dia??? Tapi Mona malah tertawa-tawa.
“Menyukuriku ya?”
“Kau..kkaau, huahaaahhaaaa…..”
“Puas betul sih?”
“Lihat dirimu, Bram.” Katanya. Kuturuti.
“Sekarang lihat aku.” Pintanya. Kuturuti jug…Ah yaa sekarang aku mengerti.
“Kita sama-sama kumal sekarang. Ternyata dalam keadaan begini, kau tidak terlalu ganteng deh.” Ucapnya.
“Jadi, sekarang kau malu jalan denganku?”
Mona menggeleng.
“Aku justru senang, karena kalau begini aku jadi terlihat seperti bidadari di sampingmu. Tidak seperti tadi, puteri buruk rupa.” Ucapnya pelan. Tanpa sadar aku mengelus kepalanya.
Menjelang sore kami pulang. Aku sekarang sudah tahu Monas, lho! Bukan hanya lewat, tapi duduk-duduk dan lomba lari dengan Mona di bawah bayangannya.
“Mona, itu Mama lagi duduk di teras. Ayo masuk, kukenalkan kau padanya.” Ajakku dari luar pagar. Mona terlihat sungkan, tapi kupaksa.
Mona memberi salam pada Mama. Mama yang sedang membaca majalah, membalas salamnya dengan dingin. Ia tak berkata apa-apa. Ya! Mama bahkan tak sempat menanyakan nama Mona, setelah… setelah ia menatap Mona lekat-lekat keseluruhan tubuhnya. Merasa kehadirannya tak diinginkan, Mona berpamitan. Ia pun melarangku mengantarnya sampai pagar. Mona berjalan pulang. Lunglai.
“Aduuh, bergaul sama perempuan kampung gitu bikin kamu kotor, Bram. Kenapa sih kamu nggak cari pacar yang sepadan? Jadi, mata mama enak ngeliatnya juga.” santai saja kalimat itu terucap dari mulut Mama ketika ia mengambil botol air minum di kulkas. Ya, santai! Seolah-olah dia lagi bilang bahwa rumput di halaman sudah tinggi. Tanpa nada bersalah atau sungkan.
Ingin rasanya aku bilang bahwa meski demikian Mona itu perempuan mandiri, hebat, dan segudang kebaikan lainnya. Tapi entah kenapa kalimat-kalimat itu tertahan di tenggorokanku. Ah, paling juga Mama nggak akan peduli. Aku pun melangkah gontai ke kamarku. Kuambil remote, menyalakan AC. Kurebahkan tubuhku di atas kasur empuk. Aku bahkan tak berpikiran untuk mandi dulu. Biar saja, semua keringatku hari ini mengingatkanku pada Mona. Sepuluh kilometer kutempuh untuk bersamanya. Aku tak ingin semuanya hilang begitu saja dengan setetes sabun mandi dan air dari shower.
Minggu pagi. Aku sudah berniat jalan-jalan lagi sama Mona. Pasti menyenangkan!
Tapi, lho kok?! Pintu depan terkunci rapat. Aku mencari kuncinya di buffet, biasanya disimpan di situ kalau malam. Tidak ada. Di meja makan, juga tidak ada. Apa di kamar Mama? Belum sempat aku berjalanmenuju kamar Mama,
“Hari ini kau tak boleh keluar, Bram. Apalagi kalau sama perempuan kampung itu.” Ucap Mama dingin.
Oh, tidakk! Kenapa??
Seolah dapat membaca pikiranku, Mamam menyambung ucapannya,
“Mama nggak suka sama dia. Ayo, temani Mama masak aja lah. Hari ini Mama mau bikin gurame bakar kesukaanmu.” Mama memasang celemeknya.
Oooh, aku amat merindukan gurame bakar buatan Mama. Rasanya lezaaaat sekali! Tapi, ah tidak…Mona pasti menungguku di luar sana. Kemarin aku janji hari ini mau ke rumahnya. Semacam kunjungan balasan begitulah.
Tak sampai lima menit aku sudah berada di depan jendela kamarku. Senyumku terkembang. Betapa gampangnya melompat ke tembok pembatas rumah dari atas balkon. Daah Mama, aku mau kencan dulu yaa…sama pujaan hatikuuu…
Kutunggu di depan pagar sampai lama, Mona tak juga datang. Daripada betisku varises karena kebanyakan berdiri, akhirnya kuputuskan ke rumahnya saja, toh aku sudah hafal jalannya.
Tak lama kemudian, aku sudah tiba di rumah Mona yang amat sangat sederhana. Jangankan AC, kursi saja tak ada. Mona mempersilakanku masuk. Rupanya ia sedang makan dengan ketiga adiknya. Sederhana saja, nasi bungkus.
Mona mengacuhkanku. Aku tahu, pasti ia masih sedih atas penolakan Mama kemarin. Ohh Mona, cantik…maafkan aku yaa…
Perutku keroncongan. Belum makan dari pagi. Aku kembali teringat gurame bakar buatan Mama. Mungkin sekarang sudah siap, dan Mama sedang sibuk mencariku. Apakah tindakan kaburku tepat? Ohh, aku lapar sekaliii…
“Nih makan dulu sebelum kau pingsan.” Mona tiba-tiba saja sudah berada di depanku, mengangsurkan sebuah bungkusan. Tanpa pikir panjang, kuhabiskan isinya sampai tandas. Mona tersenyum melihatku. Aku malu juga sih. Tapi, tak apalah daripada aku mati kelaparan??
“Mona, maafkan aku yaa?”
“Apa salahmu?”
“Kemarin…Mama…”
“Ah sudahlah tak usah dipikirkan. Salahku juga sih, kemarin aku kumal. Coba kalau aku mau sedikit bersolek…”
“Begitupun kau cantik.”
“Tapi tidak begitu di mata Mamamu.”
Kami menghabiskan siang dengan mengobrol di rumah Mona. Sesekali juga bercanda dengan adik-adiknya. Ada suasana yang belum pernah kuarasakan sebelumnya. Apa yaa namanya? Kebersamaan…yang hangat di tengah-tengah mereka. Atau kehangatan yang datang dari kebersamaanku dengan Mona? Entahlah, sulit untuk digambarkan. Ada keakraban yang muncul begitu saja saat adiknya Mona mengajakku bermain.
Hmmh…rasanya aku sudah lama mengenal mereka semua. Rasanya menyenangkan. aku diterima dengan menjadi diriku sendiri. tanpa dipedulikan apakah aku punya rumah besar atau tidak. Aku merasa…DICINTAI.
“Sudah sore, pulang gih. Nanti dicari Mama.” Ucap Mona. Aku masih asyik bermain dengan adiknya.
“Bram, pulang. Tidak usah kuantar kan?”
Aku menggeleng.
“Sudah hafal jalan, hebat.”
Aku menggeleng lagi.
“Ngomong dong, jangan cuma geleng-geleng aja. Kau tidak mendadak bisu, kan?”
Lagi-lagi aku menggeleng.
“Braaam!” Mona mulai kesal. Tak apa, aku suka memandangi marahnya yang cantik.
“Sssttt…jangan mengusirku yaa?? Aku mohon…” pintaku memelas.
“Lalu?”
“Izinkan aku tinggal di sini. Di rumahmu.”
“HAAH?!”
“Aku takkan merepotkanmu, janji!”
Mona diam saja. Aku menganggapnya sebagai tanda setuju. Tak lama Mona menunduk, tersenyum. Ia berlari keluar, diikuti adik-adiknya, tak ketinggalan diriku.
Kini, kami berlima sedang berdiri di atas jembatan yang tinggi. Memandang ke bawah, rumah Mona. Aku tersenyum, merasa gagah sebagai satu-satunya laki-laki di antara mereka.
Kembali kulihat mata orang-orang yang lewat memandangi kami. Aku tak peduli sekarang. Tanganku meraih kepala Mona agar bersandar padaku. Mona menurut. Kali ini tanpa sungkan.
Sore itu jembatan macet, seperti biasanya. Seorang anak membuka kaca mobilnya dan memandangku lekat.
“Mama, aku mau kucing angora gendut itu!”
“Ihh, kumal gitu! Paling juga kucing garong, bukan angora! Cepat tutup kacanya, bau kali tauuu!!!”
Kaca ditutup. Aku menatap Mona dengan mesra. Menggosok-gosokkan telingaku ke lehernya.
“Meoooonnggg….”































on June 18th, 2007 at 3:16 am
saya kritik ya
mona = gadis ?
pikir2 pikir lagi dech? menurut penelitianku, kucing betina yang udah 2 bulan aja udah berbuat ‘gituan’ dan akhirnya melahirkan (g mungkin aborsi), padahal itu adalah kucing betina yang cacat (study kasus ditempatku). Jadi tidak mungkin bgt tuh kalo Mona masih gadis.
on June 18th, 2007 at 10:47 am
To: Monster
Makasih yaa atensinya…
Tentang si Mona yang ‘gadis’ atau bukan itu, kalo gue sih mandangnya dari segi tokoh Bram ya…Kan gue di situ pake kata ganti org pertama.
Nah saat cerita itu dibaca berdasarkan pengamatan Bram, mereka kan baru kenal aja gitu. Gak mungkin juga kan Bram nanya sama Mona, “Lo masih gadis apa udah janda?”
Kejawab ga? Kejawab lah yaa…
on June 24th, 2007 at 12:23 pm
terus nulis ya jeng, ide yg bagus; smoga semakin mantap dengan plot-plot ceritanya yg orisinil.
salam.
on July 8th, 2007 at 3:10 am
hi jeng…terus nulis ok… yang lebih menantang lagi dong ceritanya.
on August 28th, 2007 at 8:57 am
huahahhaha…ternyata bram n mona itu kucing toooo…huahahhaa