Dari Balik Barongsai
“Ya, selesai! Besok jam sembilan pagi kita gladi resik. Semua diharapkan sudah membawa kostum masing-masing. Lengkap.” Perintah Caraka.
Aku dan anggota barongsai lainnya hanya bisa mengangguk tanpa berani menolak, apalagi membantah. Ya, meski amat sangat lelah namun kami paham bahwa pertunjukan besok malam sangat penting. Grand opening sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Bandung, yang bertepatan dengan Imlek.
“Langsung pulang, Lan?” Damian menyapaku.
“Mungkin.”
“Aku numpang motormu lagi, ya?”
Aku mengangguk. Kuserahkan helm yang baru kuambil di loker padanya.
*
“Sudah ibu bilang, bekerjalah yang benar!” Gerutuan itu kembali mampir di telingaku. Khas, setiap kali aku pulang larut dengan membawa kostum barongsaiku.
“Bagiku ini sudah benar, Bu.”
“Apanya yang benar? Pulang larut malam dengan segala baju badut begitu!”
“Ibu, ini BARONGSAI. Bukan BADUT.”
“Apapun katamu lah. Yang jelas kostum merah menyala itu tidak mampu memberi kau penghasilan yang layak. Ia hanya membuatmu capek, penuh keringat, pulang larut malam, dan…”Ucapan ibu terhenti.
Aku dengan sabar menunggu kelanjutannya. Meski, yaa kurang lebih aku sudah bisa memperkirakan apa ujung pembicaraan beliau.
“Dan, itu membuatmu jadi bujang lapuk. Tak akan ada gadis yang mau jadi istrimu, dengan penghasilanmu yang tak pernah menentu. Paham?”
“Iya, Bu.”Aku masuk ke dalam kamar. Kuhempaskan tubuh ini ke atas ranjang. Terbayang lagi wajah tua ibu di mataku. Wajah yang entah kenapa selalu tampak menyiratkan ketakutan jika ajalnya segera tiba. Sementara belum kunjung pula aku menikah, dan memberinya cucu barang seorang saja. Ya aku tahu ibu kesepian. Ayah sudah meninggal saat aku masih bayi, tanpa kutahu pasti penyebabnya. Menurut ibu sih karena kecelakaan lalu lintas. Aku percaya saja.
Tapi kenapa mesti barongsaiku yang selalu diungkitnya kalau dia kesal? Apa salah barongsaiku? Toh kegiatan itu tidak merugikan. Bahkan seringkali memenuhi kebutuhan hidupku dan ibu, meski secara sederhana. Sederhana? Apa karena itu ibu marah? Sudah bosankah ibu hidup sederhana seperti ini? Apakah ibu sudah mulai termakan omongan tetangga tentang segala macam baju atau perabot yang mewah? Atau iri karena hanya bisa melihatnya di setiap sinetron dari tivi 14 inchi kami?
Hhh Bu…Andai ibu tahu, mendapatkan pekerjaan jaman sekarang itu tidak semudah membalikkan tempe goreng di wajan. Apalagi dengan ijazah D1 yang kupunya. Kemarin saat di pertokoan kulihat lowongan kerja untuk menjadi kasir supermarket saja syarat pendidikannya minimal D3. Lalu, apa guna ijazahku?
Lagipula, masa tidak ada niat ibu melestarikan kebudayaan leluhur? Ibuku memiliki separuh darah Cina, separuh lagi Sunda. Apakah ibuku tak bangga dengan asal-usulnya? Seharusnya bisa kutanyakan sebabnya pada salah satu kerabatku. Tapi sayang, aku tidak tahu dimana mereka. Satu-satunya keluargaku yang kutahu hanyalah ibu.
*
Merdeka Mall 18.00
Pengunjung sudah memenuhi pertokoan tersebut saat kelompok barongsaiku tiba. Membuat kami terpaksa masuk melalui tangga darurat di area parkir bawah tanah. Kepala barongsai besar yang kubawa, lumayan menghambat langkahku.
Kami akan tampil sebagai pembuka acara pada pukul tujuh malam ini. Tiang-tiang untuk lompatan yang sudah disusun dengan rapi, terlihat kokoh. Betapa puas aku melihat hasil kerja timku siang tadi. Caraka kembali mengulang berbagai arahan yang sudah diucapkannya sejak gladi resik. Mulai dari sudut mana kami muncul, lompatan-lompatan, sampai aturan agar tak terlalu jauh dari penonton, karena akan menyulitkan mereka memasukkan angpao ke dalam mulut barongsai. Yaa, kurasa semua anggota sudah paham. Tapi kami semua maklum. Caraka memang perfeksionis.
Musik pengiring barongsai yang memekakkan telinga sudah mulai terdengar nyaring. Dengan kostum yang sudah terpasang, kami memasuki arena. Betapa meriah! Kudengar sorak-sorai dari para penonton yang membanjiri mall. Warna merah rasanya memenuhi setiap sudut yang tertangkap oleh mataku. Lampion bergantungan seiring dengan tulisan-tulisan “Gong Xi Fa Cai” dengan warna emas di bagian bawahnya. Ingin rasanya aku berteriak, ‘Bu, lihatlah banyak orang yang menyukai kebudayaan kita! Sebagian dari mereka bahkan bukan orang keturunan Tionghoa seperti kita. Mengapa ibu malah membencinya??
Dari balik kepala barongsai sesekali aku bisa melihat dengan jelas profil penonton yang terkagum-kagum pada kelincahan kami saat melompat antar tiang, menari, atau saat barongsai membuka mulut. Puluhan angpao masuk ke mulut barongsai, atau tepatnya ke dalam kausku.
*
Usai pertunjukan saat semua orang sibuk melepas kostum dan berebut pembagian air mineral dan konsumsi, aku melewatkannya. Aku menerobos kerumunan penonton untuk menemui gadis berwajah angkuh yang telah mencuri segenap perhatianku dari balik kostum barongsai selama empat puluh menit pertunjukan kami tadi.Semoga saja ia masih di tempat duduknya tadi. Kalau tidak, mungkin akan kugunakan jasa petugas informasi untuk memanggilnya. Eh, tapi aku kan tidak tahu namanya?? Oh, tak masalah. Akan kusebutkan saja ciri-cirinya. Pasti ada orang yang berbaik hati mau mengantarkannya ke ruang informasi. Kalau tetap tak ketemu, terpaksa aku percaya pada kata orangtua, “mungkin belum jodoh…”
Mataku mengedarkan pandangannya ke seluruh kursi penonton. Nah itu dia! Pertanda apa ini? Jodohkah? Semoga! Kalaupun dia bukan jodohku, semoga ia dijauhkan dari jodohnya, agar ia mencariku sebagai gantinya. Hlahh ngawur saja!
Dalam jarak beberapa meter darinya, kuatur nafasku sedemikian rupa agar tak kentara seperti pelari estafet yang baru saja menyelesaikan putaran terakhirnya. Keringat masih bercucuran di sekujur tubuhku. Aduhh, pendingin di mall ini berfungsi tidak sihh??
Tiga…dua…satu…aku menghitung mundur
“Permisi nona…” sapaku dari arah sampingnya. Ia diam saja. Huh, sombong betul! Atau tuli kah ia?
“Nona…” kali ini volume suaraku kuperkeras.
“Hey, pelan-pelan saja! Aku tidak tuli. Kau bicara padaku?”
“Eh…ohh…iy…iya.” aku gugup sekarang. Nona angkuh itu perlahan membalikkan badannya. Oh Tuhan! Mengertilah aku sekarang mengapa ia tampak begitu angkuh…
“Biar saja, aku bisa sendiri.” ujarnya menepis tanganku, sambil membetulkan letak duduknya dan memangku tongkat yang terlipat.
“Mmma…maaff…”“Untuk apa?”“Aku tidak tahu kau…”
“Buta? Bukan salahmu, kok. Eh, kau pemain barongsai ya?”
“Bagaimana kau tahu?”
“Bau keringatmu. Kurasa semua pengunjung, jika mereka tak terlalu banyak bergerak, tak akan mendapatkan keringat sebanyak yang kau dapat. Pendingin di sini bekerja normal, kok.”
“Oyaa…?? Bau sekali ya?”Ia tersenyum,
“Hihi, aku bergurau kok. Sebetulnya aku tahu dari bulu-bulu di celanamu yang mengenai kakiku. Itu kostum barongsai kan?”
“Kau hebat!” aku mengagumi kepekaannya.
“Itu kemampuan khusus orang buta. Lalu, hey! Ada perlu apa? Sudah malam. Aku harus pulang cepat.”
“Aa…akku…aku menyukaimu. Maukah kau menikah denganku?” Ucapan itu terlontar begitu saja dari mulutku tanpa bisa kucegah. Bagaimana lagi? Pesonanya begitu kuat di mata dan benakku. Kupikir, untuk apa buang-buang waktu? Kalaupun ia tidak menyukaiku, meski pernyataan ini tertunda, toh ia tetap tak akan menyukaiku.
“Kau gila ya? Apa yang diajarkan dalam latihan barongsai? Menyatakan cinta pada orang asing??”
“Tidak. Tapi kami diajarkan ketangkasan.”
“Apa hubungannya?”
“Entahlah, mungkin tak ada. Tapi aku betul-betul menyukaimu sejak…sejak aku melihatmu beberapa puluh menit yang lalu dari atas sana, di balik kostum barongsaiku.” Ujarku sambil menunjuk pada tiang lompat.
“Kau pikir aku juga menyukaimu?”
“Tidak tahu. Aku hanya mencoba peruntunganku di tahun baru ini. Shioku babi. Mungkin aku beruntung.”
Ia mengernyitkan keningnya.
“Ummh, yaa…mungkin tak ada hubungannya lagi. Tapi aku sungguh-sungguh menyukaimu. Maukah kau menjadi istriku?” ulangku.
“Jika tidak?”
“Aku tak akan mengganggumu lagi. Bahkan jika bertemu pun, aku tak akan menyapamu. Agar kau tak merasa bersalah telah menolak lamaranku.” Hah?! Bahkan otakku tak tahu dari mana aku mendapatkan keberanian untuk mengucapkan itu. Apakah karena ia tak menatapku? Bisa jadi. Soalnya aku termasuk laki-laki yang selalu segan pada tatapan tajam perempuan. Konon mereka bisa melihat sejuta kesalahan pada diri laki-laki, meski itu tak terlihat langsung ataupun terucapkan. Betapa mata yang sangat hebat!Hening beberapa saat. Hingga,
“Baiklah. Aku mau.” Ujarnya pelan.
*
Beberapa bulan kemudian…
Kehamilan Reina memasuki bulan keempat. Badannya gemuk, tapi perutnya belum terlihat terlalu besar. Apa mungkin anakku laki-laki? Katanya kehamilan anak laki-laki takkan terlihat mancung sebagaimana anak perempuan. Entahlah betul atau tidaknya, aku tak tahu. Yang aku tahu, di dalam
*
Malam ini aku pulang lebih awal. Kupikir pasti ibu dan Reina belum tidur. Aku menyempatkan diri membeli martabak manis. Sepertinya enak dinikmati panas-panas saat udara dingin begini. Kurapatkan jaketku saat memasuki pagar rumah. Sesaat perasaanku tak enak. Ahh, mungkin kelelahan karena semalam aku tak tidur menggantikan temanku yang sakit.
Kuketuk pintu. Satu…dua…sampai lima menit tak juga ada yang membukakan pintu untukku. Entah itu ibu atau istriku.
“Olan, ibu dan istrimu di rumah sakit.” Kudengar suara Pak Hadi-tetangga sebelah
“Hahh?? Siapa yang sakit, Pak?? Apa istriku sudah mau melahirkan??” tanyaku panik.
“Asma ibumu kambuh.” Jelasnya.
Setelah mendapatkan keterangan rumah sakit serta kamar dimana ibuku dirawat, aku segera melarikan motorku kesana. Saking cemasnya, sesampainya di rumah sakit aku baru menyadari bahwa aku melupakan helm-ku. Untungnya pak polisi sedang bermurah hati tak ada yang menilangku.
*
Kain putih yang menyelimuti ibu baru saja diselimutkan hingga menutupi seluruh wajahnya saat aku tiba di rumah sakit. Sebuah kenyataan yang tak bisa kupercaya, atau tepatnya tak ingin kupercaya. Bagaimana bisa ibu pergi secepat ini? Aku bahkan tak sanggup mengeluarkan air mata. Semuanya terlalu mendadak untukku. Ingin rasanya kubangunkan ibu kembali untuk sekedar mengingatkannya, bahwa cucu yang akan menjadi kebanggaannya belum lahir. Ayolah, Bu…bangun lagi!
Reina berdiri di samping ibu, tampak begitu tabah meraba setiap jengkal tubuh ibu yang sudah terbujur kaku. Aku menghampirinya. Mendekap tubuh mungilnya.
“Ibu titip ini untukmu.” Ucapnya datar.
Sebuah amplop putih yang sudah lusuh. Apa? Suratkah? Apakah ibu sudah mengetahui ajalnya beberapa waktu sebelumnya, lalu menulis pesan untukku??
Tapi, tak ada
Di belakang foto itu tertulis,
“Maaf, Ibu tak pernah melihat kau menari dalam barongsai…Ibu hanya tak ingin kembali menyaksikan orang yang ibu cintai, pergi karena tergelincir dari tiang teratas…”































on April 11th, 2007 at 3:19 am
hemm…. hebat euy..bener2 cowok sejati bgt yah.. ketemu.langsung berani ngajakin nikah…
hemm… cerpen yg keren.. di akhir2 cerita gw sampe merinding.. seolah olah kejadian nyata
on April 11th, 2007 at 8:04 am
nyambung komennya Ippen: nyari cowok yg berani nembak gw aja susah apalagi cr cowok model yg langsung ajak nikah..
on April 18th, 2007 at 3:44 am
hmmm….cerpennya makin mateng aja prith…gw baca dr cerpen pertama, ini yg paling keren. hihihi. eh dah dikirimin ke media?
on April 23rd, 2007 at 8:53 am
pritha, main donk ke blogku dan komen satu aja ceritaku. thanks. sukses buat buku yang kedua, moga2 bisa nyusul amin… doanya ya. bagus kok cerpen2 mu. SEMANGAT!!!!
on June 7th, 2007 at 9:43 am
ka pritha,, cerpennya bagus..
saya bnr” terharu. ceritanya detail, jadi kebawa cerita. Olan keren euy.
**ka pritha tulisannya bagus bgt,,
on December 7th, 2008 at 12:29 am
mbak maksudna ayahna itu pemain barong sai meninggalnya pas lagi main barongsai karena tergelincir di tiang teratras getooooooooookan