Aku Bukan Kak Tami, Bu…
“Aduhh jam segini baru pulang?! Kamu keluyuran kemana aja sih, Bel?”
“Biasa Bu, latihan band. Kan tadi aku udah sms. Emang nggak sampe?”
“Iya, tapi kira-kira dong. Masa latihan band aja sampe jauh malam begini? Nggak bagus ah anak perempuan pulang malam. Apa kata tetangga nanti?” tanpa mengalihkan pandangan dari tabloid yang dibacanya, ibu menasehatiku.
“Iya Bu, maaf. Kan nggak tiap minggu gini. Tadi tuh lama soalnya persiapan buat perpisahan seminggu lagi.” Aku menjelaskan sebisa mungkin.
“Yaa, nggak perlu mengorbankan waktu malam kan bisa? Carilah waktu siang di hari minggu misalnya. Lihat tuh kakakmu, dia nggak pernah sekali pun pulang malam, meski sudah kuliah. Padahal mungkin acara di kampusnya juga padat. Tapi dia selalu bisa mengatur waktunya dengan baik.” Kali ini ibu mulai melipat tabloid gosip yang bercover artis cantik Tamara Bleszinsky itu, dan menoleh pada kakakku.
Hhhh…ini adalah bagian yang paling tidak aku sukai, saat ibu mulai membandingkan aku dengan kak Tami. Namun entah karena tak peka atau tak mau peduli, ibu selalu saja mengulanginya. Membandingkan kerajinan kami, prestasi akademik, ke-feminin-an, keramahan, dan lain sebagainya. Seolah-olah kak Tami adalah sosok malaikat yang diturunkan Tuhan ke muka bumi, sementara aku adalah itik buruk rupa yang nggak sengaja dilahirkannya.
Air hangat dari shower mengaliri tubuh letihku, mulai ujung rambut sampai ujung jempol kaki. Ahh…nyaman sekali rasanya. Seluruh kepenatanku terkikis sedikit demi sedikit. Nilai ulangan yang jeblok (huh, siapa suruh ulangan dadakan?!), panitia perpisahan yang rese, sampai acara mati lampu yang bikin latihan band jadi molor waktunya.
Setelah mandi, aku kembali ke bawah, mengambil makan malamku, dan membawanya ke ruang tengah.
“Nonton apa sih, Bu? Kaya yang nggak rame. Pindahin aja ya?” aku duduk bersila di karpet, sambil meletakkan piringku di atas meja.
“Eh jangan, ini episode terakhir! Lagi seru, tau!” Kak Tami mendahuluiku memegang remote. Dasar cewek sinetron. Aku tak mengacuhkannya, dan mulai menikmati makananku. Tapi, baru saja menjelang suapan pertama,
“Aduhh Bella! Masa makan di sini sih?! Nanti berantakan, kan bisa banyak semut. Udah gitu, ya ampuuun anak perempuan duduknya kok kaya tukang becak gitu? Sana ah!” omel ibu.
“Yaa, skali-skali kan nggak papa, Bu. Aku males di ruang makan sendiri, dipelototin gitu sama si Item, kan nakutin.” Item adalah nama burung beo kami, yang setiap malam kandangnya dimasukkan ke dalam rumah dan digantungkan di ruang makan. Tapi ibu nggak peduli, beliau tetap aja berpendapat bahwa yang namanya makan itu udah dari sananya mesti di ruang makan, dan bukan ruang keluarga. Ok, aku ngalah. Nggak guna juga ngedebat ibu, ujung-ujungnya aku pasti kalah.
“Huuh adikmu itu kapan bisa disiplin, ya Tam? Perasaan kamu waktu seumurnya dulu, nggak begitu susah deh dinasehatinnya. Cepet ngerti, nurut lagi. Nggak serampangan kayak dia.” Keluh ibu terdengar samara-samar di telingaku.
“Ahh emang anaknya aja gitu, SULIT.” Kak Tami menegaskan kalimatnya.
Sulit dengkulmu! Ergh! Jangan-jangan aku anak pungut ya? Kenapa setiap dibanding-bandingkan, aku slalu aja jadi bagian bernilai minus, sementara Kak Tami plus. Kak Tami yang disiplin, penurut…bla bla bla…Bikin bosen aja.
Sama bosennya aku dengan hukuman-hukuman yang seringkali diberikan ibu untukku. Alasannya, karena aku sering melanggar aturan. Oya, biar aku kasih tau nih, kalau di rumahku yang namanya reward & punishment principal itu benar-benar ditegakkan secara langsung. Artinya, anggota keluarga yang selalu menaati peraturan tak tertulisnya Ibu, akan dapat hadiah berupa pengurangan tugas rutin. Dan tentu sebaliknya, si pelanggar yang mengerjakan tugas tersebut. Seperti yang kalian duga, kak Tami sering sekali mendapatkan hadiah itu. Sementara aku-si Itik buruk rupalah, yang menjadi ‘cinderella’. Ada saja kelakuanku yang dinilai tidak baik oleh ibu. Lain halnya dengan Kak Tami. Jika ia melakukan kesalahan, ibu selalu menganggapnya nggak sengaja. Nggak adil banget!
Itu pula yang pada akhirnya bikin Kak Tami makin manja tiap harinya. Apa-apa nyuruh aku. Dia sih kerjanya Cuma makan, nonton tivi, ngerumpi di telpon, dan menghabiskan sebagian besar waktunya tiduran di kamar. Dasar ulat kasur! Itu julukanku untuknya. Ia tahu, tapi tak peduli.
*
Suatu hari kami dikejutkan oleh teriakan kak Tami dari teras.
“Buuuuuu!!! Beeeeeeel!!! Buka pintu dooooong!!!”
Ibu berlari tergopoh-gopoh seolah mendengar teriakan anak batita yang terjatuh saat belajar jalan. Padahal Kak Tami memang selalu begitu. Heboh kalau minta dibukakan pintu. Selang beberapa detik kemudian,
“Bel, lihat nih kakakmu dapat juara pertama Model Competition…” ibu kembali sambil membawa sebuah kertas, mungkin piagam penghargaan. Aku bergeming, tetap menonton tivi. Bagiku, berita mengenai korban gempa dan tsunami lebih penting daripada juara model competition. Yahh, bisa jadi juga karena aku sudah bosan mendengar kebaikan mengenai kak Tami. Aku iri? Tentu saja! Kupikir gila jika ada anak yang tak menginginkan pujian dari ibunya, sementara setiap detik dalam hidupnya selalu mendengar si ibu memuji saudaranya.
“Jadi, aku bakalan maju ke babak final minggu depan!” ujar kak Tami bangga, sambil meneguk air es nya cepat-cepat.
“Ati-ati Kak keselek. Minum tuh sambil duduk, bisa nggak sih?” ujarku sinis, sambil menirukan gaya ibu jika sedang menasehatiku tata krama.
“Anak kecil bawel amat sih. Sorry ya, Bu. Aku capek banget soalnya.” Rajuk Kak Tami.
“Ya sudah, nggak papa.” Jawab ibu sabar.
“Hah? Apa Bu?? Nggak papa???” sungutku kesal.
“Bukannya kalau aku yang begitu, bisa langsung disuruh strika semua baju Kak Tami? Kenapa kali ini ibu nggak suruh dia strika semua bajuku?!”
“Bella, liat nggak sih keadaannya kan beda. Tami capek, baru pulang. Sementara kamu, stiap hari begitu…” kalimat itu diikuti oleh cibiran Kak Tami.
“Aaah, ibu nggak adil! Mentang-mentang Kak Tami anak kesayangan ibu, lantas selalu dibela.” Kesal…kutinggalkan keduanya menuju kamar. Kututup rapat-rapat dan kukunci pintu kamarku. Air mata mulai menggenangi kedua pipiku yang kata orang-orang kulitnya katanya nggak seputih kulit wajah Kak Tami. Mungkin nggak bakalan pernah sama, bahkan jika aku memakai krim pemutih sepuluh tube sekaligus juga.
Selalu Kak Tami…Kak Tami…dan Kak Tami…Tuhan, manusiakah Kak Tami? Mengapa ia seolah demikian sempurna di mata Ibu? Berulang kali pertanyaan itu muncul di benakku. Namun sampai kini Tuhan belum memberikan jawaban. Kak Tami tetap saja menjadi malaikat untuk ibu. Dimana aku harus mencontoh semua sikap dan perilakunya.
*
“Jadi, kamu nggak akan ikut, Tam?”
“Lho Bu, besok aku ada kuiz Makro jam tujuh pagi. Dosennya killer banget! Nilai kuiz bobotnya tinggi. Salam aja buat Tante Wien dan Om Hendra.” Ujarnya santai. Tante Wien adalah adik ipar ayah yang baru saja melahirkan. Mereka tinggal di Jakarta. Dan pagi ini, rencananya kami akan menjenguknya.
“Sebentar aja, Tam. Siang atau sorean juga udah balik lagi. Bandung-Jakarta kan cuma sebentar sekarang ini.”
“Aduhh Bu, seenggaknya di jalan aja udah makan waktu lima jam. Belum ngobrol-ngobrolnya, makan siang…Trus kalau macet, bisa lebih lama lagi. Kan mending Tami pake blajar aja.”
“Ya sudah, belajar yang baik ya biar IPK mu smester ini naik. Kalau mau makan, tinggal ngangetin yang ada di kulkas.” Ibu mengalah.
*
Sudah lebih dari satu jam perjalanan, namun kami belum juga sampai di gerbang tol Pasteur.
“Ya ampuuun, macetnya panjang amat sih, Yah?” keluh Ibu.
“Bel, coba turun dulu, tolong beliin rokok di kios itu tuhh.” Ayah nampaknya mulai senewen. Merokok tak biasanya beliau lakukan jika tak ada apa-apa.
Sekembalinya dari kios rokok pinggir jalan, “Yah, katanya Cipularang longsor lagi.”
“Oya??”
“Iya, tadi aku denger supir bis ngobrol di kios rokok itu.”
“Trus, mesti lewat Puncak dong?”
“Supir itu bisnya mau dibelokin ke Sukabumi katanya.”
“Aduuhhh, lama dong Yah?” ibu mulai panik.
Ayah mulai menyalakan rokoknya. Setelah beberapa hisapan,
“Kita balik lagi aja deh, Bu. Minggu depan aja kita jenguk Wien. Pasti nggak lama lah perbaikannya. Lagian kalo minggu depan mungkin Tami bisa ikut. Jadi lengkap, kan?” ayah mengusulkan.
Ibu mengangguk. Aku sih setuju-setuju aja.
Perjalanan kembali ke rumah juga nggak begitu lancar. Menjelang siang di hari minggu, Bandung selalu macet. Tapi mending lah, daripada macet-macetan di jalan Pasteur yang gersang itu…
“Itu mobil Ariyo kan, Bu?” setibanya kami di rumah, di garasi sudah ada mobil sedan biru milik Mas Ariyo-pacar Kak Tami.
“Yaa, mungkin nemenin Tami belajar.” Ujar ibu sambil melepaskan seat belt. Ayah pun parkir di depan rumah.
“Bel, tolong bantu bawa barang ya. Itu, kamu angkut kado buat Tante Wien aja. Biar ayah yang bawa tas pakaian.”
“Siap bos!” ujarku semangat.
“TAMI!!!! APA-APAAN KAMUUU?!?!” terdengar teriakan ibu dari dalam rumah. Aku dan ayah yang masih sibuk mengangkuti barang serta-merta berlari ke dalam rumah.
Di ruang tengah kami mendapati tiga sosok yang mematung. Ibu dengan tatapan kosong terduduk lemas di sofa. Selanjutnya Kak Tami dan Mas Ariyo yang masing-masing tubuhnya hanya ditutupi oleh bantal sofa dan taplak. Di karpet, berserakan pakaian mereka berdua.
Ayah menghardik keduanya, menampar Mas Ariyo. Ibu terisak. Aku menghampiri ibu, memeluknya. Merasakan air mata yang membasahi dadaku. Sempat pula memandang Kak Tami yang sorot matanya seolah meminta perlindunganku.
“Bella…” ujar ibu di sela tangisnya.
“Ssstt, udah ya Bu…Tenang. Aku ambilin minum ya?” tawarku.
“Nggak usssahh…Bel, mma..maafkan Ibu yyaa…Sselama inni ibu sela..lu nyuruh ka..kamu biar mencontoh kakakmu…Ttapi, ka..kali ini jjangan tiru dia. Jjjanji ssama ibu ya, Bel?”
Aku hanya bisa mengangguk. Aku bukan Kak Tami, Bu. Dan selamanya nggak bakalan bisa jadi seperti Kak Tami. Semoga kali ini ibu memahaminya.































on March 27th, 2007 at 8:44 am
hemm…. setiap anak mempunyai sifat dan karakter yg berbeda beda…. jgn pernah membanding-bandingkan…. anatar yg satu dgn yg lainnya. yg tampak baik diluar blm tentu baik di dalam, begitu juga sebaliknya *sok bijak euy* hehehe
on March 29th, 2007 at 8:48 am
sumpah..seram banget…cerpennya keren prith..met berkarya yaa…
on March 30th, 2007 at 4:58 am
Emg g ada yg sempurna
on April 5th, 2007 at 12:32 pm
P lo lucu juga ya! dah punya sendiri, yang paks dotcom2an. he..he..
on April 3rd, 2008 at 4:31 am
Deuhh..om ippen selalu jadi komentator yang pertama deh, kapan ya taqi?