5 Hal Tentang Perempuan
Namaku Jeni. Lima hal yang tidak aku sukai dari seorang perempuan adalah merokok, minum minuman beralkohol, berdandan menor, berpakaian minim, serta merayu laki-laki untuk tidur dengannya. Apapun alasannya, bagiku kelimanya tak pantas dilakukan oleh perempuan baik-baik. Dan kurasa, puluhan tahun yang lalu saat R.A Kartini mati-matian memperjuangkan emansipasi perempuan, kelima hal tersebut tentu tak ada dalam agendanya. Aku yakin itu.
Jen, maaf aku ga bsa nmenin kmu ntn teater, ga enak bdn nih.
Jgn ngambk ya, babe…
Hmmh…Damar sakit. Pasti gara-gara kebanyakan lembur beberapa hari ini. Kenapa sih laki-laki begitu tergila-gila sama yang namanya pekerjaan? Bram-sahabatku bilang, penyebabnya bisa jadi tiga hal berikut: 1) karena ada yang ingin dibuktikannya, 2) dia nggak punya kegiatan lain yang menyenangkan selain pekerjaannya, dan 3) emang dia cinta mati sama itu kerjaan.
Sepertinya Damar-ku mengusung alasan yang pertama. Ia ingin membuktikan pada ayahnya bahwa menjadi seorang music director bukanlah hal yang buruk. Karena di mata sang ayah yang pengusaha, berbisnis adalah pekerjaan seorang lelaki sejati. Berusaha dari bawah, mengalami segala kesulitan-dan mengatasinya dengan tegar, hingga akhirnya mampu berdiri dengan bangga di bawah bendera usaha yang dirintisnya. Seorang ayah yang akhirnya mengusir anaknya saat sang anak tak mampu memenuhi permintaannya untuk meneruskan bisnis batik milik keluarga, dan lebih memilih untuk menjadi music director di sebuah radio lokal.
Baiklah, tanpa Damar tidak berarti acara nontonku berantakan. Tidak ada salahnya juga nonton sendiri, kan? Malah lebih asyik, karena nggak ada yang ganggu untuk mendiskusikannya. Aku pun segera menenteng tas tangan yang sedari sore tadi sudah kusiapkan di atas sofa.
Pelataran parkir kampus yang terletak di sisi utara Bandung ini agak lengang. Hmmmm…kuhirup dalam-dalam partikel-pertikel udara yang beterbangan di sekelilingku. Aroma dedaunan basah terasa menenangkan. Kurapatkan jaket, dan kudekap tas tangan yang hanya berisi dompet dan ponsel itu di dadaku.
Memandangi deretan gedung megah di sekelilingku, menimbulkan sensasi tersendiri. Sensasi yang ditimbulkan oleh kenangan-kenangan lama yang tiba-tiba saja berebut, menyeruak di satu bagian dalam ingatanku. Kenangan yang terbentuk beberapa tahun yang lalu, saat aku masih terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di kampus ini.
Aku berjalan pelan menelusuri sebuah lorong, menuju gedung teater, tempat pertunjukan akan digelar. Sempat terlihat olehku sebuah ruangan luas dengan tulisan ‘Unit Seni’ di pintunya. Sebaris senyum kecil tak mampu kutahan. Di sinilah dulu sering kuhabiskan waktuku. Untuk apa saja. Jika aku sedang ingin mengambil jatah absenku yang 25 % karena bosan melihat muka dosen, ingin memakai fasilitas internet gratis untuk mencari bahan skripsi, sampai uhmm…curi-curi untuk berduaan dengan pacarku. Mantan pacar tepatnya.
Bingar mulai terdengar dari sebuah aula di sudut barat. Belum banyak pengunjung yang datang. Mungkin aku terlalu awal. Atau, memang tak akan banyak yang datang? Dulu, begitulah keadaannya. Pementasan teater di kampusku tak pernah berhasil mendatangkan pengunjung lebih banyak dari pertunjukan band atau bazaar.
“Kak Jen…”
Aku menoleh.
“Mia!”
Serta-merta gadis itu menempelkan pipinya di pipiku. Adik angkatanku, dua tahun lebih muda.
“Sama siapa, Kak?” ia melongok kanan-kiri.
“Sendiri aja, kok.”
“Masih sama kayak dulu, nggak suka rame-rame.” Ucapnya kenes.
“Bukan nggak suka, sih. Tapi teman-temanku kebanyakan lebih suka nongkrongin big sale di mal. Jadi, yaa begini deh.”
“Oke, ini poster, sinopsis, sama snack-nya. Hope you enjoy the show.” Mia mengangsurkan sebuah tote bag transparan.
“Sampai ketemu ya, Mi!” aku bergegas menuju lift yang sudah hampir penuh.
Pertunjukan malam ini bertajuk ‘Cinta Perempuan’. Mengetengahkan kisah beberapa perempuan dan cintanya. Ada perempuan desa yang dipaksa melacur oleh suaminya, demi mempertahankan posisinya di kantor, lalu ia menurut karena cinta dan pengabdiannya yang demikian besar pada sang suami. Yang kedua, seorang perempuan karir yang hanya cinta pada karirnya, seolah itulah dewa yang akan menyelamatkannya setiap saat. Ada pula seorang janda yang setiap hari harus banting tulang demi menghidupi anaknya. Hingga akhirnya mereka semua bertemu di tempat yang sama. Sebuah ruang remang-remang. Ruangan yang menjanjikan harapan bagi ketiganya. Cinta suami, cinta atasan, dan cinta anak. Cinta yang harus diperjuangkan. Yang menjadi alasan ketiganya tetap bersemangat menyongsong matahari pagi.
Didukung oleh tata lampu yang memukau, properti yang pas, dan tentu saja akting para pemerannya yang baik. Pertunjukan ini menurutku sukses besar. Tidak hanya untuk ukuran kampus.
Bulan separuh menerangi langit malam saat aku keluar dari dalam gedung teater. Tidak hujan, tumben. Padahal beberapa hari yang lalu hujan demikian deras, seperti yang sengaja ditumpahkan dari sebuah ember raksasa di langit.
Masa langsung pulang? Rasanya sayang melewatkan malam cerah ini. Akupun menimbang-nimbang sesaat, sebelum akhirnya kuputuskan untuk mampir ke apartemen Damar, menengoknya. Barangkali sakitnya cukup parah, sampai membatalkan diri untuk menemaniku malam ini.
Dari bawah dapat kulihat bahwa lampu apartemennya masih menyala. Berarti Damar belum tidur. Pas lah kalau begitu. Aku membawakannya krim sup jagung kesukaannya. Semoga bisa membantunya untuk tidur lebih nyenyak malam ini, setelah hari-hari deadline menyusun playlist dan berurusan dengan label yang pastinya melelahkan.
Sempat aku berpikir untuk meneleponnya terlebih dahulu. Mungkin sekedar bilang “Siap-siap yaa, aku datang nih…Sambut dong!” atau sedikit bergurau “Bukakan pintu cepat…Aku bawa air panas!” Hihi, garing. Ya sudahlah, sepertinya lebih seru kalau aku datang mengendap-endap saja. Toh aku punya kunci serep apartemennya. Begitu masuk aku akan berteriak “SURPRIIISE!” Oke, mungkin kata itupun sama garingnya dengan kalimat-kalimatku sebelumnya. Yaa, mau gimana lagi? Aku memang nggak punya sense of humor yang baik.
Pintu apartemen Damar terbuka pelan. Semoga ia tak menyadari kedatanganku sampai jeritan “surprise” ku menggema di sini. Dengan berjingkat aku berjalan seperti maling ke arah kamarnya. Pintunya terbuka. Oke, 1…2…3…
“SURP….riiissss…ssSHIT!!!” kalimat itu meluncur spontan dari bibirku. Jantungku berdegup kencang sekali. Tanganku gemetar. Duhh, betisku perih terkena tumpahan sup krim jagung yang masih panas.
Tuhan tolong lamurkan mataku. Atau buatlah aku rabun senja. Apapun itu, Tuhan. Asalkan aku tak perlu melihat pemandangan di hadapanku saat ini. Tolong ciptakan tembok beton yang kokoh. Kabut yang tebal. Apa saja, Tuhan. Yang penting ada penghalang. Penghalang yang membuatku tak perlu melihat perempuan dengan lingerie hitam, berdada montok, dan berbibir merah cabai itu di bawah tubuh kekasihku. Toloooong Tuhaaaan!!!
Tapi Tuhan tidak mendengar jeritan hatiku. Tuhan mungkin sedang sibuk mengurusi hal lain yang lebih penting. Tapi, ah Tuhan kan Maha Mendengar. Mungkinkah Tuhan sedang berpaling dari ruangan ini karena tak tahan mendengar desah berbaur gelora yang sedang memenuhi sendi-sendi kehidupan di sini? Ahh, pikiranku kalut. Aku pergi saja.
Aku pergi tanpa memedulikan teriakan Damar yang berulangkali menyebut namaku. Teriakan yang lamat-lamat sempat kudengar berujar bahwa ini tak seperti yang kupikirkan. Huh, dipikirnya aku anak SD, yang akan percaya jika dikatakan itu adalah sebuah gladi resik untuk pertunjukan drama di sekolah besok?? Mungkin Damar lupa bahwa aku pernah menjadi anak teater. Dan aku paham betul tak ada gladi resik yang dilakukan berdua saja tanpa para kru yang menonton. Aku amat sangat paham hal itu!
Aku pergi. Tanpa ingin mengatakan apa-apa. Tak penting buatku untuk berdebat meributkan hal seperti ini. Nantinya apa yang akan kudapat? Pertengkaran dengan perempuan itu untuk memperebutkan Damar dengan segala hak yang kumiliki sebagai kekasihnya? Oh tidak! Itu hanya akan mengukuhkan bahwa dia layak diperjuangkan. Dan Damar tak berhak atas itu. Pilihan kedua yang memungkinkan adalah memaki Damar dan setelahnya menangis meraung-raung. Tidak juga akan pernah kulakukan! Perempuan baik-baik kurasa tak akan melakukan hal itu.
Jadi, aku pergi dengan tenang. Tepatnya sikap yang kubuat setenang mungkin, untuk menutupi segala kecewa, perih, dan marah dalam diri ini. Biarlah, tak perlu ada yang tahu.
Setibanya di rumah, kutelungkupkan tubuhku di kasur. Setelah sebelumnya kutelungkupkan frame di atas meja kecil, yang memajang fotoku dengan Damar.
Aku terisak. Awalnya pelan. Namun lama-kelamaan isakan itu membesar. Membentuk lingkaran air mata di bantal putihku. Dadaku terasa sesak. Aku hancur, membentuk kepingan-kepingan.
Mengapa harus begini lagi??
Dan yang terpenting, mengapa harus AKU??
Namaku Jeni. Lima hal yang tidak aku sukai dari seorang perempuan adalah merokok, minum minuman beralkohol, berdandan menor, berpakaian minim, serta merayu laki-laki untuk tidur dengannya.
Kutarik napas panjang. Sekedar untuk menenangkan diri.
Dulu, ayahku juga begitu. Tergoda oleh perempuan dengan lima hal tersebut, hingga membuat detak jantung ibu pamit mendadak saat mengetahuinya. Itulah alasanku sebenarnya, mengapa aku membenci hal-hal tersebut jika melekat pada perempuan. Perempuan yang menggoda ayah dan menariknya ke peluknya adalah perempuan yang bergincu tebal, berpakaian kurang bahan, dengan asap rokok yang selalu mengepul dari mulutnya. Perempuan yang entah dipenuhi dan memenuhi ayah dengan berapa botol alkohol, hingga terlihat seperti dewi cinta di mata ayah… yang dengan desahnya yang menjijikkan mampu membuat ayah lebih betah di kontrakan murahannya ketimbang di rumah kami yang dibangun ayah dengan keringatnya.
Ibuku mungkin hanya seorang perempuan kampung yang mampu menjadi ibu rumah tangga biasa. Ibu rumah tangga yang memiliki tangan trampil untuk menjahit, memasak, berbenah rumah, dan mengurus anak-anaknya tanpa bantuan babysitter. Ya, seperti itulah gambaran jelas mendiang ibuku.
Ibu yang dengan kesederhanaannya selalu terlihat cantik di mataku dan Jessy. Kecantikan yang timbul karena suara lembutnya, pelukan hangatnya, serta kemampuannya menjadi sahabat bagi anak-anaknya disaat ingin berbagi. Tipikal seorang ibu yang memiliki inner beauty, yang layak dikagumi oleh siapapun di muka bumi ini.
Inner beauty! Tahu kan artinya?? Kata yang seringkali digaungkan di berbagai bacaan perempuan, mulai majalah sampai chicklit. Sering dijadikan tema seminar di hari kartini. Sebuah kalimat yang memiliki makna besar dalam mengiringi pertumbuhanku sejak masa pubertas hingga kini. Kupegang erat di dalam kalbuku. Membuatku selalu ingin menjadi perempuan dengan citra baik. Menjadikannya sebagai sebuah kebanggaan.
Apa kabar inner beauty?? Masih berlakukah?? Atau sudah expired?? Kenapa laki-laki sekarang lebih menyukai perempuan dari fisiknya? Apakah memang dari situ ditetapkan meteran untuk perempuan??
Kakakku Jessy, bernasib tak jauh dari ibu. Suaminya lebih suka menghadiahinya lebam di wajah cantiknya, dan memberikan cium mesranya pada seorang perempuan yang dipungutnya di pinggir jalan. Namun untungnya kakakku bukan perempuan kampung yang lugu seperti ibu. Dengan kekuatan yang dimilikinya, ia menggugat cerai suaminya.
Dan aku? Damarku melakukan hal yang sama kini.
Apakah semua lelaki memang begitu? Otak mereka hanya dipenuhi oleh asap rokok, alkohol, bibir bergincu tebal, paha, dada, dan kelamin yang diselingi dengan desah manja?
Huffhh…
Sebulan berlalu sejak aku mendapati pengkhianatan kekasihku dengan perempuan berlingerie hitam yang sudah tanggal sebagian itu.
Sewindu sudah ibu meninggalkanku karena perempuan dari rumah kontrakan murahan yang juga memurahkan tubuhnya untuk ayah.
Dan entah berapa lama sejak Jessy memilih tinggal di Australia bersama kedua keponakanku, hanya untuk melupakan mantan suaminya.
Tapi yang jelas, sudah seminggu setiap malamnya aku mampir ke klab ini, untuk memamerkan keindahan tubuhku yang hanya berbalut kain seadanya. Bibirku yang sengaja dipoles menggoda dan mengepulkan asap rokok, menghembuskan aroma alkohol yang begitu kuat. Serta tak lupa desah manja, agar menjadi perempuan terpilih, di antara belasan perempuan lain…untuk dicumbu.
Namaku Jeni. Lima hal yang tidak aku sukai dari seorang perempuan adalah merokok, minum minuman beralkohol, berdandan menor, berpakaian minim, serta merayu laki-laki untuk tidur dengannya.
Namun kini, kurasa alasanku sudah lengkap untuk berbalik menyukai kelima hal tersebut.































on March 22nd, 2007 at 6:13 am
hemmmm… sayang si jeni gak mampu mempertahankan prinsipnya..
* Lima hal yang tidak aku sukai dari seorang perempuan adalah merokok, minum minuman beralkohol, berdandan menor, berpakaian minim, serta merayu laki-laki untuk tidur dengannya*
kalo aja si jeni bisa lebih sabar dan berfikir lebih jauh lagi.. gak ada alasan untuk berbalik menyukai 5 hal tsb dan pasti dia akan mendapatkan laki2 yg lebih baik lagi spt yg dia inginkan *Insya Allah…
Jangan sampe deh..gw jadi laki2 seperti yg digambarkan di atas… amiin…..
on March 22nd, 2007 at 7:31 am
Lelaki seperti itu emang tak layak diperjuangkan..suatu keputusan yg amat tepat..
Tapi tetap pada prinsip tuk membenci 5 hal tersebut rasa2nya lebih akan menjadi keputusan yg lebih sangat tepat..
Gambaran seorang perempuan yg bertahan dgn sgala dera apapun..itu yg mampu mengalahkan lelaki semacam itu.. Iya bukan?
on March 23rd, 2007 at 8:08 am
syumpeeeeeeeeeeee gw kaget banget ama WP eloh:P dooohh…keren bngeett daaaaaaaaaaaaaaaaaah…
btw elo kirimin angket citacinta yang kovernya si hanun gak? hehhehe
on March 24th, 2007 at 2:00 pm
Ih, punya blog kok ngga pake shoutbox. ngga seru ah.
on March 26th, 2007 at 11:41 am
Keren banget say..merinding gw bacanya..
on March 26th, 2007 at 1:49 pm
iya neh de, mana SB nya ???
on March 27th, 2007 at 8:11 am
aku benci Jenni, tapi… simpati juga deng sama sosoknya. Simpati sedikit.
Simpati krn dia ‘menjadi orang yg dulu dia benci’ Oh well…inspiring story.
bravo pritha!
on April 10th, 2007 at 1:27 am
hohow….asik…..:D
*gw jadi terpacu pengen nulis yang banyak….hahaha*
on June 6th, 2007 at 2:10 am
Waaahhh, sdh punya domain sndr…
Bentar, aku mau baca cerpen yang pertama dulu….
on July 8th, 2007 at 4:05 am
hal yg paling dibenci bisa jadi bumerang buat diri sendiri, hidup itu simple sebenarnya, jangan buat segalanya menjadi berlebihan, senang yang berlebih, benci yang berlebih, karena itu bisa sama dengan musibah, let your life be balance….nice short story pritha…nulis terus sampek keriting ok
on October 24th, 2007 at 4:10 am
mmm..mbaca yg ini kayanya emang kmu bisa jadi penulis besar deh klo terus rajin berlatih.
but…dari sekian banyak tulisan, aku belum menemukan “karakter” tulisan kmu yg sebenernya. may be masih cari jati diri juga kali yee
bravo sist
on November 28th, 2007 at 10:30 am
kayanya disetiap cerpen yg aku baca, klimaks dibelakang cerita yah..
hmm.. mayan bagus juga, aku nebak cerita banyak juga yg loss..
cayoooo ya Prith