Layang-Layang Kupu-Kupu
Aku benci pada layang-layang. Jangankan melihat dan menikmati gemulai liukannya di udara, melihat benda itu menyangkut di kabel listrik saja sudah bisa membuatku mual. Dan, uffh… sekarang kertas berkerangka itu sedang musim dimainkan oleh anak-anak di sekitar tempat tinggalku. Ingin sekali rasanya mengusir mereka dan membakar semua layang-layangnya. Tapi untunglah kesadaranku masih berfungsi penuh. Aku tahu betul jika tindakan semena-mena itu kulakukan, minimal orangtua anak-anak pemilik layang-layang tersebut akan memarahiku, bahkan bisa jadi melaporkanku ke KOMNAS Perlindungan Anak, dengan tuduhan merampas keceriaan bermain anak-anak.
*
“Cuma gara-gara panas, masa enggak jadi pergi, sih? Ayo lah, Lidya… Besok ulang tahun Irma. Beberapa minggu lagi dia mau pindah ke UK, enggak tau kapan balik lagi kesini.” Suara April terus merajuk di ponsel. Telingaku sampai panas dibuatnya.
“Kan kadonya bisa kapan-kapan, Pril. Atau kita kirim aja pakai kurir ke UK!” aku nyaris berpikir bahwa itu adalah ide yang baik. Tapi April langsung protes.
“Enggak seru, ah! Ulang tahunnya itu besok. Masa kadonya ditunda-tunda, sih? Lagian kalau lewat kurir bisa jadi enggak sampai. Apa kamu pengin Irma melupakan kita begitu meninggalkan Jakarta? Enggak, kan?”
“Hmm…”
“Jadi, ya? Yaaa??” tegas April. Dan aku pun tak mampu mengelak lagi.
*
Dengan mengabaikan panas yang menyengat dan beberapa kali mesti melepaskan benang layang-layang putus yang menyangkut di kakiku, akhirnya aku tiba juga di sebuah mal yang terletak di bilangan Jakarta Selatan ini. Oh ya Tuhan, kalau bukan karena sahabatku yang akan berulang tahun dan hendak pindah ke luar negeri, rasanya lebih baik di rumah saja. Panas hari ini betul-betul menyiksa. Aku tak tahu berapa suhu persisnya, tapi aku yakin seandainya seseorang enggak sengaja memecahkan telur di atas kepalaku, tak lama kemudian lelehannya akan berubah menjadi telur ceplok!
“Yuhuu!” April menepuk pundakku dengan keras, seperti kebiasaannya.
“Jadi, kita mau beli kado apa, nih?” tanyaku lugas.
“Aduuh, mau langsung nyari kado? Apa enggak pengin muter-muter dulu gitu, biasa cuci mata…” kata April centil.
“Ya cari kadonya dulu, lah. Kalau udah dapat kan tenang.”
“Ummh, owkay. The keyword is… butterfly!”
Kupu-kupu… Binatang favorit Irma. Sahabatku yang satu itu mengoleksi berbagai aksesoris berbentuk kupu-kupu mulai dari jepitan rambut, sampul buku, pajangan keramik sampai bed cover. Namun berbeda dengan kebanyakan pecinta binatang lain yang suka memelihara atau mengawetkan binatang yang disukai, Irma sebaliknya. Enggak pernah sekali pun dia berniat menangkap kupu-kupu atau membeli yang sudah diawetkan. Menurutnya apa pun alasannya, sama saja dengan membunuh binatang mungil nan rapuh itu. Aku setuju dengannya.
Toko pertama yang kami masuki adalah toko buku. Ini adalah ideku. Selain karena toko ini lah yang paling sering kumasuki jika masuk mal, kupikir mungkin ada buku bagus tentang kupu-kupu yang bisa kami hadiahkan padanya. Meski agak ragu, namun April ikut juga masuk.
“Nih, kayaknya bagus.” Kataku sambil menunjukkan sebuah ensiklopedia serangga pada April.
“Ih, itu sih buat anak SD!” cibirnya.
Aku berjalan menuju rak novel. Tak lama kemudian kulihat ada sebuah buku dengan cover bergambar puteri bersayap kupu-kupu. Kayaknya cocok! Kuambil saja dan…
“Aduh please deh, masa itu?”
Aku tercekat, “Kan kupu-kupu…”
“Tapi warnanya suram gitu. Aku yakin ceritanya horor. Mungkin cewek yang dikutuk jadi kupu-kupu atau apa lah…”
“Eh, don’t judge a book by it’s cover, Pril.”
“Aku tau, tapi biasanya cover kan menggambarkan isi cerita.” April melihat-lihat buku yang kupegang dan beberapa detik kemudian menyerahkannya kembali,
“Baca deh sinopsis di belakangnya.”
Aku melihat sejenak. Dugaan April memang tak meleset jauh. Buku fiksi ini kurang lebih bercerita tentang pembalasan dendam ratu kupu-kupu terhadap manusia yang sudah menangkap dan mematahkan sayap puteranya. Aku pun menyerah dan menyuruh agar April saja yang memilihkan kado untuk Irma. Senyum April langsung terkembang begitu mendengar usulku.
“Yuk, ikuti aku.” Dengan cepat ia menyeretku keluar dari toko buku dan membawaku memasuki sebuah department store yang memajang segala jenis pakaian dan aksesoris perempuan dengan warna-warna centil.
“Ssstt… kalau mau muntah nanti saja di luar!” April langsung mengingatkanku. Haha, ia tau saja kalau girlie things seperti ini bukan gayaku sama sekali.
“Gaun itu lucu bangeeeet!” tunjuk April pada sebuah gaun panjang ungu asimetris dengan motif sulaman kupu-kupu di dadanya.
“Ih April, kan prom night-nya juga udah lewat!” protesku.
“Hmm, iya sih… Lagian kayaknya bahannya panas.” Kami pun meninggalkan si gaun ungu.
“Kalau sepatu itu, gimana?” tunjuk April. Ia mengangkat sebuah sepatu bersol tebal namun ringan yang lagi nge-trend akhir-akhir ini.
“Enggak ada kupu-kupunya?” Aku meliriknya dengan heran.
“Tapi merk-nya Butterfly. Lagian modelnya lucu.” April lalu mencobanya sendiri, dan mematut-matutnya di depan sebuah cermin besar.
“Memang kamu tau ukuran kaki Irma?”
April menepuk jidatnya, “Oh ya ampun! Aku enggak tau…”
“Emmh, bisa-bisa cuma jadi pajangan tuh sepatu.”
*
“Aduh Pril, kakiku pegal.” Keluhku akhirnya, setelah kurang lebih satu jam kami menyusuri mal.
“Yaa, nanti dulu dong. Kadonya belum dapat, nih!”
“Kamu mau menggotong kalau aku pingsan?”
“Ya udah, kalau gitu kita ke kafetaria aja dulu. Aku traktir minum, oke?!” tawarnya. Aku langsung setuju.
Sebetulnya kakiku enggak pegal-pegal amat, sih. Cuma, gimana yaa… Aku tuh enggak begitu nyaman jalan di mal yang dikelilingi barang-barang fancy. Aku lebih suka jalan-jalan di toko buku.
“Keren! Kurasa itu kado paling pas!” tiba-tiba saja April berteriak. Tanpa menanyakan pendapatku, sontak ia berlari ke sebuah toko kecil yang menjual barang-barang hand made.
Di hadapan kami kini sudah ada sebuah layang-layang berbentuk kupu-kupu dengan warna-warna tradisional yang menyerupai batik. Kami memandangnya dengan sudut pandang berbeda. Miss Girlie April sangat menyukai layang-layang tersebut dan berpikir bahwa barang unik itu tidak akan dengan mudah didapatkan di UK, sehingga bisa menjadi kenang-kenangan yang pas untuk Irma. Motifnya pun dinilai April akan bisa mengingatkan Irma pada tanah kelahirannya.
Sementara untukku, bagaimana pun bentuk dan rupa benda itu, serta apa pun motifnya… itu tetaplah sebuah layang-layang. Benda yang amat sangat tidak menarik. Terlebih benangnya. Di mataku, benang gelasan yang tajam itu mampu melukai bahkan membunuh siapa pun yang menyentuhnya.
“Kita beli itu aja ya, Lid?”
“Itu kan layang-layang, Pril… Kamu tau sendiri kalau aku enggak suka benda itu.”
“Oh ya, aku lupa.” April langsung terlihat tak bersemangat.
Tapi sesaat kemudian, “Atau gini deh… Sementara kita beli dulu layang-layang ini. Nanti kalau ternyata ada barang lain yang lebih pas, kita beli lagi dan layang-layangnya biar untukku. Gimana?”
Aku tak tau lagi harus berkata apa. Maka aku pun mengangguk saja, karena rasanya kepalaku mulai pusing.
*
Menunggu bukanlah pekerjaan yang menyenangkan. Seperti yang kulakukan saat ini, menunggu hasil ujian masuk perguruan tinggi negeri. Sejauh ini aku belum mengikuti seleksi masuk universitas swasta, jadi segala bentuk perasaan mulai dari cemas sampai gelisah terus-menerus menghantuiku. Bukannya bermaksud takabur dengan tidak mempersiapkan alternatif lain, aku hanya ingin memfokuskan pikiran pada satu tujuan dulu. Lagipula jika melihat nilai-nilaiku yang baik selama SMA plus usaha kerasku mengikuti bimbel, masa sih Tuhan enggak mengabulkan doaku untuk lulus?
*
“Ayo dong Rico, masa seharian main games melulu, sih? Kakak kan bosan.”
“Tapi ini lagi seru!” bantah Rico, jemarinya masih dengan lincah memencet tombol-tombol.
“Lihat deh, apa kamu enggak kepengin main layang-layang di luar? Tuh, bagus-bagus, kan? Kita beli satu, lalu main sama-sama.”
Rico melirik sebentar, tampak agak tertarik namun ragu. Maka kuteruskan saja bujukanku, “Nanti kakak belikan cokelat!”
Mata Rico mulai berbinar. Lalu tanpa pikir panjang, ia mematikan games player-nya. Kami pun segera menuju kios layang-layang terdekat dan membeli satu yang bergambar ikan.
Bermain layang-layang ternyata lebih seru dari yang kubayangkan. Menarik-ulur layang-layang sesuai dengan tiupan angin, disertai dengan sorak-sorai anak-anak di lapangan, menjadikan permainan ini begitu mengasyikkan. Hingga aku pun merasa haus.
“Co, kakak mau minum dulu, ya?” pamitku pada adikku. Rico mengangguk.
Segelas air es membasahi tenggorokanku, hingga membuatku terlena untuk sekedar bersandar selonjoran di sofa…
“Lidya bangun! Mama mau antar Rico ke rumah sakit!” Suara panik itu menyadarkanku.
“Hah, Rico… Kenapa?”
“Kakinya berdarah, terlilit benang gelasan!” mama terlihat makin panik. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti Mama masuk taksi yang sudah terparkir di depan rumah, menuju rumah sakit.
Tuhan berkehendak lain. Rico kehabisan banyak darah dan tak bisa diselamatkan.
Kejadian sebelas tahun yang lalu itu kembali menyeruak ke dalam benakku sesaat sebelum lampu kamar kumatikan. Entah kenapa tiba-tiba saja rangkaian kejadian itu terputar lengkap di otakku. Hhh, ini pasti gara-gara layang-layang kupu-kupu yang kami beli tadi sore.
Layang-layang telah merenggut nyawa adik semata wayangku. Dan itu terjadi karena kecerobohanku! Ah, seandainya waktu bisa kuputar kembali ke masa itu, tak akan pernah aku mengajak Rico bermain layang-layang dan meninggalkan games favoritnya. Aku memang kakak yang bodoh! Sok tau!
Aku pun lantas teringat pada layang-layang kupu-kupu yang kami beli untuk Irma tadi. Tanpa berpikir panjang, kuputuskan untuk segera menelepon April,
“Pril, aku mohon batalkan kado layang-layangnya, ya?” tanpa basa-basi aku langsung bicara saat telepon tersambung. Terdengar April menghela nafas.
“Lidya… Aku tau kamu memiliki trauma dengan layang-layang. Tapi Lid… ayolah berpikir logis. Hidup dan mati manusia itu di tangan Tuhan. Jangan terus-terusan menyiksa diri dengan perasaan bersalah atas kematian adikmu.”
“Ta… tapi, kamu enggak mengalami apa yang kualami, Pril. Kamu enggak tau rasanya kehilangan…”
“Kamu lupa? Aku bahkan sudah tak punya ibu sejak bayi. Tujuh belas tahun lebih aku tumbuh hanya didampingi ayah dan abangku. Semua orang bilang ibu meninggal karena melahirkanku. Sempat aku merasa bersalah karenanya. Kenapa aku harus ada di dunia ini jika satu nyawa terpaksa pergi dalam kesakitan? Tapi lama-kelamaan aku sadar, usia manusia merupakan rencana Tuhan. Lagipula aku yakin, ibuku pasti menginginkan aku menjadi anak yang cerdas dan ceria, agar bisa mendoakannya, menjadi penyambung amalnya.” Ujar April panjang lebar. Aku terdiam seraya menyusut air mataku.
“Ka… kamu benar, Pril.”
Sesaat suasana hening.
“Lagipula, kurasa layang-layang ini kelak hanya akan dipajang oleh Irma. Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan, bukan?”
Hati kecilku diam-diam membenarkan perkataan April. Betul juga ya, cewek feminin seperti Irma mustahil mau berpanas-panas memainkan layang-layang. Jadi…
“Oke deh, Pril.”
“Nah gitu dong, senyum yaa Lidya sayang!” ucap April menyemangatiku.
Aku mematikan ponsel. Dan beban yang sudah kutanggung selama sebelas tahun itu mulai berkurang malam ini berkat sahabatku.
*
UK sedang mengalami musim panas saat Irma tiba di sana. Sebelum masuk masa kuliah, Irma diajak mengikuti perkemahan musim panas oleh beberapa tetangganya. Aku melihat foto-foto yang dipasang Irma di jurnal online miliknya. Irma tampak sukacita dengan segala kegiatan baru dan teman-teman barunya.
Namun ada satu foto yang sempat membuatku terkejut, Irma membawa layang-layang pemberian aku dan April ke pantai. Ia memberinya judul “Layang-Layang Persahabatan”. Oh tidak, ia memainkannya! Irma bermain layang-layang…
Aku kembali cemas. Aku khawatir kejadian buruk menimpa Irma karena layang-layang itu, seperti Rico dulu. Dan ini sudah pasti salahku. Aku ceroboh untuk mengulangi kesalahan yang sama.
“Ding!” messenger-ku berbunyi. Ah, itu Irma!
Semalam ini belum tidur?
Belum, aku sedang… ummh… membaca jurnalmu.
Oh ya? Senangnya! Jangan lupa meninggalkan komentar yaa…
Oke… Oh ya, layang-layangnya kamu mainkan, ya?
Iya, senang deh! Kamu tau Lid, layang-layang kupu-kupu pemberian kalian itu memenangkan desain layang-layang terunik lho!
Dan bla… bla… bla… Irma bercerita panjang lebar mengenai hal tersebut. Hingga membuat kekhawatiranku tentang layang-layang hilang tak berbekas.































